Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Jangan Remehkan Kami!


__ADS_3

"Sukanya membela sesuatu yang tak benar malah sekarang memfitnah. Bukannya kata pak ustadz itu fitnah lebih kejam daripada pembunuhan ya? Kok sekarang didepan Arnold banyak orang yang mau memfitnah nenek sih, apa dia nggak takut dosa?" tanya Arnold dengan wajah polosnya.


Sepertinya sekarang Arnold sudah kembali dengan sifat awalnya, membalas seseorang dengan mulut pedasnya itu tanpa merasa bersalah. Mama Anisa yang mendengar ucapan Arnold itu begitu lega kemudian menatap sinis orang-orang disana.


Nenek Hulim juga sudah mengingat-ingat wajah-wajah orang yang ada disini. Yang dengan teganya akan memfitnahnya dan keluarganya. Ia takkan membiarkan orang-orang ini lolos untuk kedepannya entah dari segi pekerjaan atau yang lainnya.


"Mungkin mereka merasa dirinya malaikat sehingga tak takut dosa" ledek Mama Anisa.


"Tangkap mereka lalu kita penjarakan, pak. Terutama itu yang anak kecil digendongan itu, biar tau rasa karena masih umur segitu sudah berani tak sopan pada yang tua" ketus Inge menyuruh satpam.


Kedua satpam yang dibawa oleh pemilik toko dan tak tahu tentang siapa yang ada dihadapannya ini langsung saja hendak menyeret Nenek Hulim juga Mama Anisa. Namun Papa Reza yang sedari tadi diam langsung menghalanginya. Ia takkan tinggal diam keluarganya dipermalukan dan diinjak-injak harga dirinya didepan orang banyak.


"Jangan pernah kau sentuh istri dan ibuku. Jika kalian menyentuhnya, jangan harap tangan kalian masih berada di tempatnya" ucap Papa Reza yang langsung berada didepan Mama Anisa dan Nenek Hulim.


Nenek Hulim merasa terharu karena orang yang baru ia kenal ternyata menganggapnya sebagai seorang ibunya. Bahkan mereka juga memperlakukannya dan sang cucu dengan baik walaupun mempunyai jawaban yang tak kalah mentereng darinya.


"Biar ini jadi urusan mama, pa" ucap Mama Anisa dengan sedikit menyingkirkan posisi suaminya yang ada didepannya itu.


"Kalau yang berhadapan dengan kalian wanita maka akan aku biarkan. Tapi ini laki-laki yang tentu harus berhadapan dengan sesamanya" tolak Papa Reza.

__ADS_1


Mama Anisa hanya bisa menghela nafasnya pasrah saja melihat sifat keras kepala suaminya yang terlihat didepan semua orang. Ia juga tak mungkin akan melawan laki-laki dengan banyak orang didepannya. Bisa habis dikeroyok oleh pengunjung mall nantinya karena mereka sedang berpihak pada pemilik toko.


"Begini saja, kalian ikut kami ke kantor polisi untuk menjelaskan semuanya. Sekalian dari kedua belah pihak membawa buktinya masing-masing maka kita akan tahu siapa yang benar dan salah" ucap satpam itu menengahi.


Beruntung ada salah satu satpam yang bersikap netral dan ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara baik-baik. Terlebih satpam itu tak ingin ada keributan di mall ini yang bisa saja membuat semua pekerjanya akan terkena dampak. Para pengunjung juga takkan nyaman karena insiden seperti ini.


Mama Anisa dan Nenek Hulim menganggukkan kepalanya setuju sedangkan pemilik toko dengan karyawannya sedang meneguk salivanya kasar. Bisa gawat jika mereka ikut diperiksa polisi dengan keadaan lawan memiliki bukti yang kuat. Mereka terlihat terdiam sambil memikirkan banyak rencana membuat lawannya menatap sinis.


Beberapa pengunjung terlihat kecewa jika masalah ini diselesaikan dengan cara ke kantor polisi. Pasalnya mereka ingin tahu yang salah dan benar itu siapa sehingga tak asal menuduh sesuatu.


"Kayanya pihak sana keberatan nih. Bahkan ada pengunjung yang penasaran ya. Oh iya... Kalian tenang saja bahkan bisa mengikuti kasus ini kok soalnya buktinya sudah ditayangkan dalam papan videotron didalam dan luar mall ini" ucap Nenek Hulim dengan seringaian mengerikan.


Benar saja, dalam waktu 10 menit beberapa papan videotron di jalan raya dan dalam mall tersebut langsung memutarkan sebuah rekaman CCTV berikut dengan suara. Semua orang bahkan berduyun-duyun melihat kearah papan videotron yang tak jauh dari mereka berkerumun.


Pemilik toko dan karyawannya menatap tak percaya bahwa orang didepannya bahkan mempunyai kekuasaan untuk mensabotase papan videotron yang ada didalam mall. Rasanya tulang-tulang pada kakinya hilang membuat mereka merasa jika ini adalah akhir dari kehidupan.


Huuuuuuuu....


"Maling teriak maling ini mah".

__ADS_1


"Udah salah malah nuduh orang dan minta ganti rugi lagi".


"Gue sebagai emak-emak juga nggak akan terima kalau anak kecil dibentak dan diledek seperti itu".


Sorakan dan teriakan dari para pengunjung mall membuat suasana dalam pusat perbelanjaan itu langsung ramai dan ricuh. Mereka menyoraki pemilik toko dan para karyawan yang kini tertunduk malu.


Mama Anisa, Papa Reza, dan Andre menatap tak percaya kearah Nenek Hulim yang kini sedang menatap mereka bertiga dengan menaikturunkan alisnya. Sungguh ketiganya tak menyangka jika Nenek Hulim bisa melakukan hal yang berada di luar dugaan. Kalau ini mah tak hanya hukuman dari kepolisian yang menanti namun sanksi sosial juga.


Bahkan kedua satpam yang dibawa mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya mereka dibodohi oleh orang-orang itu, bahkan kini satpam itu langsung menggiring pemilik toko dan karyawannya ke kantor polisi. Jika masih berada di mall ini tentu saja akan menjadi bulan-bulanan pengunjung.


Beruntung pemilik toko dan karyawannya memilih menurut pada satpam karena mereka melindungi semuanya dari amukan massa. Sedangkan Nenek Hulim, Papa Reza, Mama Anisa, Andre, dan Arnold langsung berjalan mengikuti mereka semua agar tak ada satu pun yang lolos.


"Lain kali jangan asal percaya sebelum ada buktinya" ucap Mama Anisa dengan ketus saat para pengunjung mall melihat kearahnya dengan tatapan iba.


Para pengunjung mall langsung saja pergi berlalu dan kerumunan itu seketika bubar. Sepertinya mereka akan malu jika berhadapan dengan orang-orang yang difitnah itu.


Tak berapa lama mereka sampai didepan halaman mall yang kemudian pemilik toko dan karyawannya semua masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan pihak mall. Pihak mall bahkan dengan berani memberikan kompensasi ganti rugi atas ketidaknyamanan keluarga Andre saat berbelanja. Tentunya mereka menolak karena memang bukan lah kesalahan pihak mall. Mereka hanya ingin pertanggungjawaban dari orang-orang yang bersangkutan saja.


Saat pemilik toko dan karyawannya sudah masuk kedalam mobil itu, Inge membuka sedikit jendela kendaraan membuat Mama Anisa menatapnya sinis. Bahkan semua penghuni mobil juga sedikit menatap kearah keluarga Andre yang nantinya akan menyusul ke kantor polisi. Mobil itu berjalan pelan menuju keluar mall yang langsung membuat Nenek Hulim dan Mama Anisa berteriak.

__ADS_1


"Makanya jangan remehkan kami. Diatas langit masih ada langit, bos" teriak Mama Anisa dan Nenek Hulim sambil tertawa.


__ADS_2