Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Keseruan


__ADS_3

Nenek Hulim berjalan dengan angkuhnya masuk kedalam lobby rumah sakit diikuti oleh anak dan mertuanya. Bahkan keduanya itu hanya bisa sedikit menundukkan kepalanya saat masuk rumah sakit pasalnya pipi mereka masihlah memerah.


Mama Fikri sudah berusaha menutupinya dengan bedak namun tak berhasil. Tetap saja kedua pipinya memerah bahkan terlihat bekas tamparannya berupa lima jari. Sungguh mertuanya itu kalau marah lebih baik dia diam daripada disemprot habis-habisan.


"Jalan kaya siput, tahun depan baru sampai ini di ruangan cucuku" sindir Nenek Hulim.


Karena keduanya berjalan sambil menunduk makanya mereka melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Mereka begitu malu saat nanti ketahuan orang banyak kalau pipinya kena tamparan. Bahkan keduanya belum sempat mandi namun harus kembali lagi ke rumah sakit.


Ceklek...


Semua orang yang ada didalam ruangan itu sontak menoleh untuk melihat siapa yang datang. Fikri membulatkan matanya tak percaya melihat kedatangan seseorang yang sejak kecil memberinya kasih sayang. Sudah lama ia tak bertemu dengannya karena kedua orangtuanya yang tak ada waktu untuk menemaninya menjenguk sang nenek.


Walaupun sudah beberapa tahun tak bertemu, namun Fikri masih bisa mengenali bagaimana wajah sang nenek. Mata Fikri dan Nenek Hulim berkaca-kaca karena kerinduan yang begitu membuncah.


"Nenek..." seru Fikri.


Nadia dan kedua anaknya yang tak kenal dengan siapa yang datang begitu terkejut mendengar seruan dari Fikri. Namun keterkejutan mereka berganti dengan kehadiran dua orang yang semua kenal sebagai orangtua dari Fikri. Berarti memang benar adanya jika yang dibawa ini adalah saudara dari Fikri, terbukti adanya orangtua bocah laki-laki itu.


Nenek Hulim segera berjalan dengan cepat kearah brankar sang cucu. Setelah berhasil mendekat kearah brankar, Nenek Hulim langsung memeluk dan mencium kening cucunya begitu lama. Nadia pun dengan segera menurunkan kedua anaknya yang memang sedari tadi masih duduk diatas brankar Fikri.


"Cucuku... Cucuku..." panggil Nenek Hulim lirih.


"Nenek kemana aja? Kenapa nggak jengukin Fikri ke sini? Fikri nggak pernah bisa jenguk nenek di desa soalnya papa dan mama sibuk" ucap Fikri sambil menangis di pelukan neneknya.

__ADS_1


Sedangkan orangtua Fikri yang merasa disebut-sebut merasa kesal. Pasti sebentar lagi Fikri akan mengadu tentang perbuatan keduanya selama bocah itu berada dalam pengasuhan mereka. Tentu mereka tak ingin kedoknya selama ini akan terbuka dari mulut bocah cilik itu.


"Nenek masih sama ada di kota tempat kita tinggal dulu. Sekarang Fikri akan terus berada di dekat nenek" ucap Nenek Hulim menenangkan cucunya.


Sepertinya Fikri ini memang mempunyai ketakutan sendiri jika ditinggal oleh seseorang yang sudah dekat dengannya. Kedua orangtua Fikri segera mendekat kearah anak dan juga ibu mereka seakan semua yang terjadi ini adalah salah paham saja.


"Maksud ibu apa? Ibu akan tinggal bersama kami?" tanya Papa Fikri bingung dengan ucapan ibunya itu.


"Iya, ibu akan tinggal disini selamanya. Kenapa? Mau protes?" ketus Nenek Halim yang kemudian melepaskan pelukannya dari sang cucu.


Kedua orangtua Fikri berdiri dengan kikuk didekat mereka. Terlihat sekali jika mereka tak menyetuji ucapan Nenek Hulim kalau akan tinggal bersama di kota ini. Bisa-bisa rencana yang mereka susun akan hancur berantakan karena adanya Nenek Hulim. Terlebih Fikri merupakan aset berharga yang bisa saja nanti akan mengadu semuanya kepada sang nenek membuat semuanya kacau.


"Nggak gitu, bu. Kami senang kalau ibu mau tinggal disini bersama kami, tapi apa nanti ibu nggak kangen sama ayah? Makam ayah jauh lho dari sini, pasti nanti ibu akan jarang menjenguknya" alibi Papa Fikri.


Nadia, Arnold, dan Alan memang masih disana namun berdiri agak jauh dari keluarga itu. Namun mereka sangat mengawasi gerak-gerik dari orangtua Fikri yang mencurigakan. Bahkan wajahnya kelihatan tak ikhlas dan ingin protes mengenai keberadaan sang nenek Fikri.


"Iya, adi aja ulutnya tomat tamit. Ungkin aca mantla taya ukun" tuduh Alan membenarkan ucapan kakaknya.


Nenek Hulim terkejut dengan ucapan dari kedua bocah kecil yang ada disana. Bahkan ia baru sadar kalau disana tak hanya ada anggota keluarganya saja. Nenek Hulim langsung menatap kearah semua orang yang tak dikenalnya itu. Sedangkan kedua orangtua Fikri sudah menatap tajam kearah dua bocah kecil yang tadi mengadu pada ibu mertuanya.


"Tuh kan... Matana lotot-lotot kecini" ucap Alan dengan menatap tajam balik.


Mendengar hal itu tentu saja Nenek Hulim langsung menatap kearah menantunya. Mama Fikri bahkan langsung mengubah raut wajahnya menjadi tersenyum manis kearah sang ibu mertua.

__ADS_1


"Lebih baik kalian pergi dari ruangan ini. Lagi pula Fikri sepertinya tak butuh kalian, toh tadi yang menjaganya juga mereka" ketus Nenek Hulim.


Merasa kesal karena terus disudutkan akhirnya kedua orangtua Fikri lebih memilih untuk pergi. Fikri melihat kedua orangtuanya pergi dengan tatapan sendu. Bahkan Fikri berpikir jika kedua orangtuanya itu sudah tersadar akan kewajibannya merawat anak yang sedang sakit.


***


"Maaf ya nenek sampai nggak tahu kalau ada kalian disini karena fokus sama Fikri. Kalian namanya siapa?" tanya Nenek Hulim dengan senyum lembutnya.


"Atu Alan. Ini bang Anol, tu unda Nadia" ucap Alan memperkenalkan semuanya.


Nenek Hulim begitu takjub dengan keberanian dari Alan yang memperkenalkan dirinya sendiri. Padahal anak seusia Alan itu biasanya akan malu dengan adanya orang baru. Bahkan tadi sampai berani memojokkan menantunya.


"Semalam yang menolong Fikri itu suaminya bunda Nadia, nek. Om Andre namanya, tapi ia sedang kerja makanya minta tolong istri dan anaknya untuk jagain Fikri" ucap Fikri menjelaskan.


Nenek Hulim menganggukkan kepalanya kemudian memeluk Nadia dengan erat sambil mengucapkan terimakasih. Ia bersyukur karena ternyata sang cucu masih dikelilingi orang-orang baik. Ia tak bisa membayangkan bagaimana nasib cucunya jika tak ada orang baik yang menolong.


"Nek, ndak au eluk Alan uga?" tanya Alan menatap Nenek Hulim dengan polosnya.


Nenek Hulim tergelak dengan pertanyaan Alan itu kemudian melepaskan pelukannya dari Nadia. Nenek Hulim segera menggendong Alan kemudian menciuminya berulangkali sampai bocah laki-laki itu tertawa kegelian.


"Nenek jangan terlalu lama gendong Alan, bisa-bisa punggungnya encok lho" ucap Arnold memperingatkan.


"Walaupun udah tua, tapi badan nenek masih kuat lho ini kalau buat gendong Fikri sekalipun" canda Nenek Hulim.

__ADS_1


Nadia hanya bisa tersenyum mendengar ocehan anaknya dengan Nenek Hulim. Bahkan ketiganya berbincang seakan sudah mengenal lama. Fikri pun juga ikut menimbrung hingga perbincangan itu semakin seru.


__ADS_2