
"Gembul, kamu belanja apa sampai ratusan juta begitu?" todong Mama Anisa.
Bahkan Arnold baru saja mendudukkan badannya diatas sofa ruang keluarga, namun tiba-tiba saja Mama Anisa langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Saat Mama Anisa dan Papa Reza baru saja pulang ternyata cucu juga menantunya tak ada di rumah membuat mereka yakin kalau semuanya tengah keluar belanja.
Sebenarnya Mama Anisa bukannya pelit mengeluarkan uang sebanyak itu, hanya saja ia memang berusaha untuk tak berbelanja berlebihan. Terlebih uang sebanyak itu bisa digunakan untuk membantu oranglain yang jauh lebih membutuhkan. Ia juga berusaha untuk menjaga agar tak berbelanja sesuatu yang tak berguna di masa depan.
Saat melihat sang cucu dan juga menantunya sudah sampai di rumah, ia segera saja mendekat kearah Arnold yang terlihat amat santai walaupun sudah mengeluarkan uang ratusan juta. Sedangkan Nadia dan ketiga cucunya yang lain terlihat lelah. Mendengar pertanyaan dari sang nenek, membuat Arnold mengelus dadanya sabar seperti orang dewasa.
"Apalah arti uang ratusan juta itu jika Arnold menggunakannya demi membahagiakan orang-orang tercintaku" ucap Arnold mendramatisir.
Mama Anisa berdecih sebal mendengar ucapan cucunya yang sok puitis itu saat menjawab pertanyaan darinya. Kalau memang pikirannya benar, ia akan memberikan ceramah panjang lebar pada sang cucu.
"Siapa yang kamu maksud orang-orang tercinta?" tanya Mama Anisa dengan wajah galaknya.
"Bunda, Kak Bel, dan Kak Nara dong" jawab Arnold sewot.
Arnold sudah berpikiran kalau Mama Anisa sedang memikirkan hal buruk tentangnya. Hal ini terlihat dari wajah Mama Anisa yang tampak julid kepadanya. Kini bahkan mata Mama Anisa terlihat menatap menyelidik kearahnya.
"Kalau nggak percaya, tanya aja sama bunda" lanjutnya dengan mencebikkan bibirnya kesal.
"Tadi Arnold beliin kami bertiga hadiah. Ini hadiahnya" jawab Nadia membanggakan kalung yang ada di lehernya.
Sontak saja Mama Anisa membulatkan matanya melihat kalung berlian dengan motif dan model senada yang dipakai menantu dan kedua cucu perempuannya. Pantas saja uang yang ada di kartunya keluar banyak ternyata untuk membeli kalung berlian.
"Gembul, kau tak membelikan nenek kalung juga?" tanya Mama Anisa dengan tatapan penasaran.
__ADS_1
"Belum kepikiran buat belikan nenek kalung. Soalnya nenek berisik" ucap Arnold santai.
Mama Anisa mencebikkan bibirnya kesal mendengar jawaban yang keluar dari bibir cucunya itu. Dia iri melihat Arnold yang begitu sayang kepada bunda dan juga kedua saudaranya. Ia juga ingin diperlakukan sama oleh cucunya yang jahil itu.
Papa Reza hanya bisa tertawa mendengar jawaban Arnold terlebih istrinya itu wajahnya sudah terlihat kesal. Menghadapi Arnold adalah perkara sulit untuk mereka, terlebih jika tak kuat mental. Ucapannya yang begitu pedas membuat mereka harus siap mental menghadapi jawaban yang menohok.
"Ayolah, mbul. Belikan nenek kalung juga ya, pakai kartu punya nenek itu juga masih bisa" ucap Mama Anisa dengan tatapan permohonan.
"Alan ja ndak kacih cama bang" ucap Alan menimpali.
Dia juga masih kesal dengan kakaknya yang seakan melupakan kehadiran dirinya. Mama Anisa masih menatap Arnold dengan tatapan berharap agar dipenuhi keinginannya. Padahal dia bisa saja membeli pakai kartunya dan berangkat sendiri, namun akan berbeda jika itu yang memilihkan adalah Arnold.
"Hemmmm.... Baiklah" pasrah Arnold berniat menuruti ucapan neneknya.
"Lan uga" teriak Alan tak terima.
"No... Alan cowok, Arnold cuma mau kasih yang cewek-cewek. Alan berubah dulu jadi cewek kalau mau dapat hadiah dari Arnold" ucap Arnold dengan angkuh.
Semua orang yang ada disana tentunya langsung tertawa mendengar ucapan Arnold itu. Sedangkan Alan kesal bukan main dengan kakak laki-lakinya itu. Ia tak terima jika disisihkan seperti ini.
Mereka semua pun akhirnya memasuki kamar masing-masing untuk membersihkan diri juga istirahat. Hari ini sepertinya mereka begitu kelelahan hingga Arnold dan ketiga saudaranya melewatkan makan malam. Nadia yang sudah membangunkan mereka pun tak tega bahkan sudah berulangkali dibangunkan namun tetap juga tak bangun.
***
Andre dibuat kesal oleh Adeline yang meminta ganti rugi padanya. Padahal semua yang dibicarakan belum sampai pada tahap pembayaran DP namun Adeline dengan kekeh ingin Andre membayar sejumlah ganti rugi hingga datang ke kantor tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Pokoknya saya minta ganti rugi. Harus ada jasa atau pembayaran karena saya sudah rugi waktu dan tenaga" ketus Adeline.
"Sejak awal kita belum menandatangi perjanjian apapun bahkan kita baru dua kali bertemu untuk membicarakan semua itu. Untuk makan di cafe selama dua pertemuan juga saya yang bayar lalu saya harus membayar biaya transport begitu?" tanya Andre menantang.
Ia tak terima semua biaya dibebankan padanya terlebih Adeline meminta biaya ganti rugi dengan dalih kerugian tenaga dan waktu sebanyak 50 juta. Ia merasa diperas dan dipermainkan oleh wanita itu membuatnya ingin menonjok wajah sok cantik perempuan itu.
"Jelas, bayar 50 juta atau saya lapor polisi" ucap Adeline memberi pilihan.
Andre terdiam mendengar ancaman dari Adeline. Bukan takut tapi dia kesal karena harus membawa pihak kepolisian untuk masalah sepele seperti ini. Yang ada disana malah ditertawakan oleh pihak yang berwajib.
Andre mengeluarkan dompetnya dari saku jasnya kemudian melihat isi dompetnya. Ia menghela nafasnya lelah saat melihat isi dompetnya yang hanua ada uang sejumlah 500 ribu saja.
"Ini uang untuk beli bensin. Kalau kau tak menerimanya dan tetap akan melapor, maka aku juga takkan segan melaporkan anda atas kasus pemerasan" ucap Andre yang kemudian menaruh uang ratusan ribu didepan Adeline.
Adeline yang ingin protes pun seketika terdiam mendengar ancaman dari Andre. Sepertinya dia akan kalah jika Andre melaporkannya pada pihak berwajib terlebih disini ada CCTV yang bisa saja merekam semua tindakannya.
"Silahkan pergi dari ruangan saya dan jangan pernah ganggu saya lagi" usirnya.
Bayu sang asisten juga sedari tadi mengawasi pergerakan perempuan yang ada didalam ruangan atasannya itu. Jangan sampai karena ini bosnya akan terkena masalah yang membuatnya semakin rumit. Adeline yang diusir pun menatap tajam kearah Andre yang terlihat santai saja.
Adeline berdiri dari duduknya kemudian berjalan pelan melangkah kearah Andre dengan langkah anggunnya. Andre dan Bayu yang melihatnya langsung bersikap waspada dengan wanita itu.
"Jangan macam-macam di perusahaanku atau usahamu yang sudah maju itu aku hancurkan secara perlahan" sentak Andre.
Ia tak akan pernah membiarkan Adeline merayunya atau memegang tubuhnya. Hal ini nantinya bisa saja merusak citranya terlebih dia sudah berjanji setia hanya untuk Nadia. Bahkan tubuhnya atau apapun itu hanyalah milik keluarganya saja.
__ADS_1