
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa bahwa kejadian keluarga Alice yang datang ke rumah itu sudah satu minggu lamanya. Begitupun dengan Abel dan Anara yang kini telah kembali menuntuk ilmu di TK dekat perumahan tempat tinggalnya. Keduanya begitu senang karena akan kembali bertemu dengan teman-temannya, terutama Abel. Arnold pun begitu bahagia karena dia akan bertemu dengan seorang cewek yang bernama Nilam disana.
Keempatnya berjalan kaki menuju ke sekolah karena Andre dan Papa Reza tak bisa mengantar. Kempatnya berjalan dengan begitu cerianya sambil melompat-lompat kecil. Kegiatan ini benar-benar membuat Nadia bahagia terlebih ketiga anaknya kini sudah kembali ceria. Tak berapa lama mereka berjalan, akhirnya keempatnya sampai juga di sebuah sekolah TK. Keempatnya segera masuk seperti biasa dengan Anara dan Abel diantar lebih dahulu ke kelasnya.
"Belajar yang rajin ya, nak. Nurut sama guru dan harus baik sama teman-temannya" pesan Nadia pada kedua anaknya.
Keduanya menganggukkan kepala sambil tersenyum kemudian mencium tangan Nadia dengan takzim. Sedangkan Arnold yang melihat adegan itu segera saja mendekat kearah kedua kakaknya. Ia menirukan Nadia yang memberikan pesan atau nasihat kepada kedua kakaknya.
"Akak Bel, Nala... Ntal talo ada yan angguin, ilang cama Anol oke. Bial Anol keljain campe angis" ucap Arnold dengan memperlihatkan wajah garangnya.
Sontak saja ucapan Arnold itu mengundang tawa ibu-ibu yang mendengarnya. Namun tidak bagi Nadia dan kedua anak gadisnya, mereka begitu terharu dengan ucapan Arnold. Ucapan sederhana namun begitu mengharukan karena pada faktanya apa yang diucapkan oleh bocah kecil itu mengandung makna yang mendalam. Ucapan itu menandakan bahwa Arnold adalah sosok laki-laki yang akan melindungi keluarganya kelak saat dewasa nanti.
Anara, Abel, dan Nadia segera saja memeluk Arnold setelah mendengar ucapannya. Bahkan berulang kali Nadia mengecupi kepala Arnold membuat bocah laki-laki itu begitu risih. Mendengar bel berbunyi akhirnya mereka menyudahi acara pelukannya itu. Anara dan Abel segera saja masuk kedalam kelas sedangkan Arnold dan Nadia berjalan menuju ke halaman sekolah untuk menunggu disana.
***
Saat Arnold sedang duduk bersama bundanya, ia melihat perempuan yang waktu itu diklaim sebagai pacarnya tengah duduk di ayunan seperti pertama kali saat bertemu dengannya. Arnold pun meminta ijin kepada Nadia untuk menemui temannya disana dan ia pun mengijinkannya. Arnold berjalan dengan pelan menuju kearah Nilam dengan gaya coolnya.
"Hai wewek... Tok cendilian aja" goda Arnold dengan gaya tengilnya.
Bahkan Arnold langsung saja duduk di sebelah Nilam yang tengah memainkan kakinya sendiri. Nilam pun langsung saja mengalihkan pandangannya kearah Arnold dan segera saja matanya berbinar cerah karena akan mempunyai teman bermain.
__ADS_1
"Hai wowok... Tamu temana aja bebelapa hali ini? Tok ndak ke cekolah, Ilam unggu lho" ucap Nilam sambil mengerucutkan bibirnya.
"Anol agi cibuk kelja, cali uit bial bica ajan anyak-anyak" ucap Arnold dengan percaya dirinya.
"Wah... Benalkah? Mang Anol kelja apa?" tanya Nilam dengan penasaran.
"Kelja adi dilektul di pelucahaan. Ebat tan atu?" ucap Arnold dengan bangganya.
Nilam tak menjawab namun dia bertepuk tangan antusias. Ia begitu bangga dan bahagia jika teman dekatnya sudah bisa mencari uang.
"Mang keljana dilektul tu ugasna napain?" tanya Nilam lagi.
Nilam mengerjapkan matanya berulangkali. Dia bingung dengan tugas pekerjaan yang dibilang Arnols karena setahunya kalau bekerja itu berarti sibuk tetapi ini duduk manis tinggal dapat uang. Namun dia hanya diam saja dan tak bertanya lebih lanjut, hanya menganggukkan kepalanya pura-pura mengerti.
Keduanya terus saja berbincang seru bahkan melupakan orang-orang disekitarnya yang memandang gemas kearah mereka, terutama Nadia. Baru kali ini Arnold bicara panjang lebar dan sangat antusias dengan teman sebayanya.
***
Sedangkan Anara dan Abel kini tengah duduk melingkar bersama dengan teman-temannya yang lain didalam kelas. Hari ini semua tidak istirahat di luar kelas karena adanya waktu khusus untuk mengakrabkan diri dengan sesama teman. Diwajibkan semua membawa bekal makanan sehingga mereka akan makan bersama-sama. Walaupun Abel dan Anara sudah lama tidak masuk sekolah, namun guru selalu memberikan pengumuman di grup chatt orangtua sehingga Nadia bisa mempersiapkan mereka bekal.
"Nara, kata mamaku kamu sekarang punya ibu tiri ya?" tanya salah satu teman Anara dan Abel, Ayu.
__ADS_1
"Iya, namanya Bunda Nadia" jawab Anara dengan antusias.
"Dia baik nggak? Katanya kan kalau ibu tiri itu biasanya jahat, suka suruh-suruh kita bersihin toilet dan lantai rumah. Kaya yang di cerita dongeng cinderella itu lho" tanya teman yang lainnya, Desi.
Anara dan Abel mengernyitkan dahinya heran mendengar hal itu. Mereka tahu tentang dongeng cinderella itu, namun bundanya tak seperti dengan apa yang ada dalam cerita. Bahkan Nadia sangat baik, tak pernah menyuruh ketiganya kecuali membereskan mainannya sendiri. Lagi pula untuk bersihin toilet dan lantai rumah selalu dikerjakan oleh Mbok Imah dibantu dengan Nadia.
"Oh... Enggak dong. Bundaku baik kok, nggak pernah nyuruh-nyuruh seperti itu. Lagi pula di rumah sudah ada yang bertugas buat bersih-bersih maupun masak" ucap Abel.
"Wah... Berarti cerita ibu tiri itu yang ada dalam dongeng cinderella itu belum tentu ada di dunia nyata. Buktinya ibu tiri Abel dan Anara baik hati" ucap Ayu memuji.
Semuanya menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Ayu. Namun tanpa mereka sadari, Abel dan Anara seketika kepikiran dengan ucapan temannya tentang ibu tiri yang suka menyiksa anak yang bukan kandungnya. Terlebih kini bundanya itu belum memiliki anak sendiri.
***
Bel pertanda pulang sekolah telah berbunyi, semua siswa berbondong-bondong keluar kelasnya untuk pulang ke rumah tak terkecuali Anara dan Abel. Namun ada yang berbeda dengan kedua anak itu karena mereka tak seceria seperti saat berangkat sekolah tadi. Hal ini membuat Nadia dan Arnold yang melihatnya terheran-heran. Apalagi saat melihat mereka berdua hanya diam saja sedari tadi tanpa menyapa saat bertemu dengan keduanya.
"Kalian kenapa?" tanya Nadia dengan lembut sembari berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan kedua anak gadisnya itu.
"Apa benal ibu tiri seperti bunda akan menyiksa anak tirinya?" tanya Abel dengan takut-takut.
Nadia yang mendengar hal itu sontak saja terkejut, pasalnya selama ini dia tak pernah menganggap ketiga anak Andre itu sebagai anak tiri. Ia menganggap mereka bagaikan anak kandungnya sendiri. Namun kini dalam pancaran mata kedua anaknya itu sangat terlihat kalau keduanya tengah berpikir keras dan dalam tekanan. Bahkan mereka juga terlihat takut dengan Nadia.
__ADS_1