
Berita mengenai kecelakaan yang menimpa Andre berikut dengan kelumpuhan kaki dan cacat wajah yang dialami oleh laki-laki itu terdengar sampai di telinga Aneta dan keluarga suaminya yang kini masih didalam penjara. Sontak saja keempatnya merencanakan sesuatu dengan memanfaatkan kelemahan Andre saat ini untuk mendapatkan keuntungan.
Kini mereka tengah bertemu didekat halaman sepak bola tempat semua tahanan sedang melakukan kerja bakti. Mereka berempat berpura-pura sedang mencabuti rumput yang ada di halaman itu padahal kini semuanya tengah merencanakan sesuatu yang jahat.
"Karma tuh Andre, nyakitin kita dengan masukin ke penjara jadinya dia kecelakaan dan lumpuh lagi kakinya" ucap Sukma dengan tertawa penuh kemenangan.
"Benar, mana sekarang wajahnya buruk rupa lagi. Nggak akan ada lagi perempuan yang mau mendekat kearahnya, bahkan orang-orang di sekitarnya pun jijik melihatnya" ucap Aneta sambil tertawa.
"Aku yakin tuh para pengusaha lain dan investor di perusahaannya bakalan pada kabur kalau lihat mukanya" ucap Lian menimpali.
"Tapi kayanya kalian salah berpikir deh, selama ini kita tak pernah dengar kan kalau saham perusahaannya turun setelah kecelakaan itu terjadi? Justru malah kini kabarnya kesuksesan perusahaannya semakin melejit" ucap Rudi.
Ucapan Rudi itu sontak saja mengacaukan kesenangan yang telah dibangun Sukma, Aneta, dan Lian. Ketiganya langsung saja berhenti tertawa kemudian memikirkan sesuatu. Rudi yang melihat hal itu hanya geleng-geleng kepala saja, dirinya sudah tak mau berurusan dengan Andre lagi. Dengan dirinya di penjara saja membuat kehidupannya dulu yang mewah menjadi kacau balau.
"Gimana kalau kita sewa pengacara saja untuk menuntut hak asuh ketiga anak Aneta? Dengan kondisi kaki yang lumpuh seperti itu pastinya hakim akan melakukan peninjauan kembali mengenai pengasuhan ketiganya. Aneta juga bisa mengajukan keringanan hukuman agar bisa mengasuh ketiga anaknya kembali" ucap Sukma memberi saran.
"Ma, udahlah. Ngapain juga sih ganggu kehidupan mereka? Kalau Andre marah karena kita ganggu dan membuat kita semakin dijatuhi hukuman berat gimana? Walaupun Andre lumpuh, tapi jalan pikirannya masih normal. Dia juga punya kekuasaan dan harta agar pengasuhan ketiga anaknya bisa ditangannya. Apalagi dia sudah akan menikah, yang pasti istri barunya akan mengasuh mereka. Hal itu membuat kekuatan Aneta juga lemah untuk mendapatkan hak asuh ketiganya" kesal Rudi.
Lian dan Aneta seketika terdiam dengan pikirannya masing-masing, dalam hati keduanya juga merasa kalau ide mamanya itu nantinya bisa saja berakibat bertambahnya hukuman penjara. Selama ini mereka telah berusaha berbuat baik agar bisa mengajukan surat pemotongan masa tahanan bersyarat. Jika mereka melakukan kejahatan lagi dan ketahuan, jelas ini akan membatalkan semua itu.
__ADS_1
"Benar kata papa, ma. Belum tentu juga Aneta bisa mengasuh ketiganya dengan kondisi ekonomi kita sedang menurun. Belum mengajukan saja kalau dilihat sudah pasti Aneta akan kalah dari segi ekonomi" ucap Aneta.
"Ya kamu minta nafkah dari bapaknya lah, gimana sih? Pokoknya mama mau ngajukan surat peninjauan ulang untuk kasus hak asuh ketiga anakmu" kekeh Sukma.
"Terserah mama ajalah, Aneta nggak mau ikut-ikutan. Aneta nggak mau hukuman di penjara semakin bertambah lama" ucap Aneta kemudian berlalu pergi dari hadapan ketiganya.
Rudi dan Lian segera saja mengikuti Aneta untuk pergi dari hadapan Sukma yang masih keras kepala dengan keinginannya. Sedangkan Sukma yang ditinggal begitu saja oleh ketiganya hanya bisa mendengus kesal.
"Kalau kalian tak ingin membantuku, aku sendiri yang akan mengurus ini. Dasar bodoh, justru dengan mendapatkan hak asuh ketiga anak itu, kita akan cepat keluar dari penjara dan ekonomi keluarga juga bangkit lagi" gumam Sukma yang menatap semua anggota keluarganya dari jauh.
***
Karena hampir setiap hari berlatih, perkembangan kesembuhan Andre sangatlah cepat. Bahkan kini Andre sudah bisa berdiri lama dan melangkah walau masih tertatih-tatih. Perkembangan Andre yang sangat cepat ini disambut bahagia oleh orang terdekatnya. Bahkan dokter yang memeriksa Andre sungguh terkejut atas keajaiban itu.
"Ini semua karena keajaiban Tuhan dan dukungan dari orang-orang yang menyayangi saya, dok" jawab Andre waktu ditanya tentang perkembangannya yang begitu pesat.
Hanya butuh waktu satu bulan saja Andre sudah dapat berdiri lama dan berjalan tertatih. Bahkan kini Andre semakin giat berlatih sendiri ketika Nadia dan anak-anaknya masih di sekolah. Andre berjalan tertatih dengan berpegangan pada tembok-tembok rumahnya.
"Ini untuk mama, papa, Arnold, Anara, Abel, dan Nadia" gumamnya dengan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Keringat begitu banyak bercucuran di dahi Andre karena terlalu lama dan keras dalam berlatih. Ia juga selalu menggumamkan nama-nama orang yang disayanginya di setiap langkahnya. Setelah kurang lebih 1 jam berlatih sendiri, Andre segera saja duduk beristirahat di ruang keluarga.
***
"Sialan itu wanita, bisa-bisanya mengajukan gugatan peninjauan atas hak asuh ketiga cucuku. Punya apa dia?" kesal seorang wanita paruh baya, Mama Anisa yang tengah membaca sebuah surat pemanggilan persidangan.
Kini Mama Anisa tengah berada di kantor milik Andre yang sekarang dipimpin oleh Papa Reza. Saat tadi dirinya duduk di ruangan CEO, ada yang mengetuk pintu. Saat dirinya membuka pintu tersebut ternyata ada seorang OB yang mengantarkan sebuah surat dari pengadilan.
Setelah membuka suratnya ternyata itu adalah surat permintaan peninjauan kembali tentang hak asuh ketiga cucunya yang diajukan oleh Aneta. Dia kesal bukan main pasalnya disana dijelaskan bahwa alasan melakukan peninjauan itu karena kondisi Andre yang tak memungkinkan untuk merawat anaknya.
Papa Reza yang mendengar apa yang diucapkan oleh Mama Anisa pun segera menghentikan fokusnya pada pekerjaannya. Ia segera mendekat kearah Mama Anisa lalu mengambil surat yang dibaca oleh istrinya itu. Matanya membelalak kaget bahkan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun dia disini melihat ada sesuatu yang sangat aneh, pasalnya tanda tangan milik Aneta yang ada di kertas itu palsu.
"Ma, lihatlah. Ini bukanlah tanda tangan Aneta, papa pernah melihat kalau wanita itu tidak pernah menggunakan nama sebagai tanda tangannya. Ini pasti ada yang tidak beres" ucap Papa Reza.
Papa Reza juga bingung mengapa surat ini diantarkan di perusahaan anaknya bukan ke rumahnya. Biasanya surat seperti ini akan dikirim ke alamat rumah dan Aneta pun tahu itu.
"Kita ke penjara sekarang" putusnya.
Mama Anisa menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Papa Reza. Pasalnya ia juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dan mereka juga ingin menyelesaikan masalah ini segera. Mereka tak ingin Andre tahu dan malah membuatnya kepikiran tentang masalah ini.
__ADS_1