
Andre pulang ke rumah dalam keadaan letih terutama pikirannya yang sedari tadi terus memikirkan kejadian Alice di warung nasi padang. Sikap Alice yang terlihat sangat penasaran dengan rumah tangganya dan raut wajahnya yang sangat tak enak dipandang jika ia menceritakan tentang kebahagiaannya. Nadia yang melihat suaminya masuk kedalam rumah dengan wajah yang ditekuk pun segera saja mendekatinya dan mengambil tas yang dibawa Andre.
Nadia menuntun Andre yang seakan lemas tak bertenaga itu untuk naik keatas tangga. Mereka berdua berlalu meninggalkan ketiga anak kecil dan Mama Anisa yang tengah melihat adegan itu. Mama Anisa sebenarnya bertanya dalam hatinya tentang wajah Andre yang tengah ditekuk masam itu. Namun kini ia sadar posisinya, biarlah itu sekarang menjadi urusan rumah tangga anak dan menantunya. Ia akan ikut campur apabila keduanya meminta saran darinya saja.
"Enek, becok Anol talo dah ikah engen uga taya unda dan papa" celetuk Arnold tiba-tiba.
Mama Anisa dan kedua kakaknya pun seketika mengalihkan pandangannya kearah Arnold yang kini tengah membayangkan sesuatu. Bahkan kini wajahnya menengadah melihat keatas langit-langit atap ruang keluarga dengan kedua tangan berada di dagunya.
"Kamu jangan mikirin nikah-nikah dulu lah, mbul. Ngomong aja belum benar, udah mikirin nikah" ejek Mama Anisa.
"Ikah itu yan enting udah unya alonna, nek. Ukan bica nomongna" ucap Arnold tak terima.
"Lho... Emang cucu nenek yang paling tampan ini sudah punya calon?" tanya Mama Anisa.
"Udah dong, Anol kan ampan. Mana ada yan bica olak pecona seolang Anol" ucap Arnold dengan percaya dirinya.
Mama Anisa yang mendengar ucapan Arnold hanya bisa menjatuhkan rahangnya. Ia tak menyangka kalau Arnold mempunyai sifat yang entah dari mana asalnya. Pasalnya Andre saja dulu tak senarsis ini. Mama Anisa dan kedua cucu gadisnya akhirnya hanya mendengarkan saja ocehan dari Arnold tanpa menggubrisnya daripada merembet kemana-mana.
***
Andre dan Nadia memasuki kamarnya setelah tadi melaksanakan makan malam bersama dan mengurus ketiga anaknya. Setelah ketiga anaknya tidur, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar dengan saling bergandengan tangan. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, keduanya duduk diatas kasur dengan memainkan ponselnya masing-masing.
__ADS_1
"Mas, aku ingin cerita sesuatu" ucap Nadia dengan hati-hati.
Andre yang mendengar ucapan Nadia yang terlihat serius itu pun langsung saja mengalihkan pandangannya kearah sang istri dan meletakkan ponselnya diatas nakas. Ia memandang lembut istrinya yang kini terlihat lebih anggun setelah menikah dengannya. Bahkan sangat jarang sekali kalau gadis itu menampakkan sikap tomboy dan bar-barnya saat berada di lingkungan keluarga.
Apalagi kini Nadia telah mengubah panggilan terhadapnya. Saat tak ada anak-anak, wanita itu akan memanggilnya dengan sebutan "mas" sedangkan ketika ada mereka maka Nadia akan menggunakan panggilan "papa". Hal ini agar membiasakan ketiga anaknya untuk terus memanggilnya dengan panggilan yang sopan.
"Cerita apa, sayang?" tanya Andre.
"Tadi di sekolah, Abel sama Anara tanya tentang ibu tiri yang jahat. Sepertinya ada ketakutan dalam diri mereka jika nanti aku akan menyiksa keduanya jika aku sudah punya anak kandung seperti dalam cerita dongeng Cinderella itu. Untung saja tadi Arnold membantuku untuk menenangkan mereka" ucap Nadia dengan mata sedikit sendu.
Bagaimanapun juga Nadia mempunyai sisi sensitif dalam perasaannya membuat dia merasa sedih ketika anaknya meragukan kasih sayangnya selama ini. Padahal Nadia selama ini berusaha menerima ketiga anak sambungnya dengan sepenuh hati bahkan selalu mengutamakan mereka dibandingkan suaminya sendiri. Namun Nadia mengerti kalau anak-anak sesusia mereka memang harus diberikan waktu dan pengertian agar bisa memahami apa yang tengah terjadi.
"Maafkan aku yang membawamu dalam situasi sulit seperti ini. Harusnya aku ikut andil dalam memberikan pengertian kepada mereka, namun diriku malah sibuk dengan pekerjaanku dan melimpahkan semuanya ke kamu. Mulai saat ini aku akan ikut membantumu untuk meyakinkan mereka kalau ibu tiri seperti kamu bukanlah sama dengan cerita di dongeng-dongeng" ucap Andre dengan lembut.
Nadia mendongakkan kepalanya dan melihat mata Andre yang terlihat berkaca-kaca. Sontak saja dia merasa bersalah karena menceritakan tentang hal sepele seperti ini. Padahal Andre juga lelah mengurus pekerjaan dan mencari nafkah untuknya dan keluarga.
"Eh... Bukan seperti itu maksudku, aku menceritakan hal ini agar kita bisa saling komunikasi untuk mendidik anak ke depannya seperti apa. Aku ingin menceritakan semua yang terjadi selama seharian ini agar komunikasi kita terjalin dengan baik terutama hubungan kita" ucap Nadia memberi pengertian.
"Aku kira kamu capek dan mengeluhkan tentang anak-anak" ucap Andre sambil tertawa geli karena kebodohannya sendiri.
"Enggaklah, aku hanya bercerita saja atau disebutnya kaya pillow talk gitu" ucap Nadia sambil terkekeh geli.
__ADS_1
Andre hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang begitu bisa membangkitkan suasana. Dia sungguh beruntung mempunyai istri seperti Nadia yang menerimanya apa adanya. Dia berjanji takkan pernah menyakiti hati Nadia dan ketiga anaknya dengan tingkah lakunya. Keduanya pun memutuskan untuk istirahat setelah berbincang panjang lebar.
***
Satu bulan berlalu setelah kejadian di sekolah waktu itu, Abel dan Anara sudah tak pernah lagi membahas tentang ibu tiri. Bahkan hubungan Nadia dan ketiga anaknya itu begitu harmonis seperti ibu dengan anak kandungnya. Nadia begitu bahagia, begitu pula dengan semua orang yang melihatnya.
Pagi ini Nadia terbangun dengan keadaan lemas, sedari selepas shubuh tadi ia bolak-balik ke kamar mandi untuk mengeluarkan apa yang ada di perutnya. Namun saat berada di kamar mandi tak ada apapun yang keluar dari mulutnya, hanya ada cairan saja. Bahkan kini ia tengah membalur perut dan pelipisnya dengan minyak kayu putih sedangkan Andre kembali tidur setelah shubuh tadi.
Huekkk... Huekkkk...
Nadia kembali ingin memuntahkan isi dalam perutnya namun sialnya dia sudah tak kuat berjalan. Suara Nadia menahan muntahannya itu pun membuat Andre terbangun dari tidurnya. Ia melihat istrinya yang duduk di sofa kamar sambil terus mengelus perutnya dengan minyak angin sedangkan sebelah tangannya untuk menahan mulutnya agar tak muntah. Wajahnya juga terlihat pucat pasi membuat Andre segera saja mendekat kearahnya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Andre.
"Nggak tahu, mas. Sedari shubuh tadi mual-mual, mungkin masuk angin" jawab Nadia dengan lirih.
Hueekkkk... Hueeekkkk...
"Bantu aku ke kamar mandi, mas" lanjutnya.
Andre menganggukkan kepalanya kemudian memapah istrinya untuk ke kamar mandi. Andre terus membantu Nadia yang ingin memuntahkan cairan yang ada dalam perutnya sambil memijat lembut lehernya.
__ADS_1