Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Godaan


__ADS_3

"Amuk... Amuk..." seru Alan.


"Nyamuk... Nyamuk nakal..." seru Arnold dan Fikri seperti menirukan sebuah lirik lagu.


Melihat kemesraan Nadia dan Andre ternyata membuat mereka merasa tersisihkan dan dianggap nyamuk saja oleh keduanya. Nadia langsung saja melepaskan pelukan sang suami dari pinggangnya kemudian berjalan sedikit menjauh dari Andre. Andre hanya bisa terkekeh geli melihat istrinya yang malu-malu karena ketahuan bermesraan didepan anak-anaknya.


"Anak-anak, papa berangkat kerja dulu ya" pamit Andre pada semuanya.


"Ya, pa. Angan upa cali uit yan anyak. Bial bica beliin ita cucu" ucap Alan.


Alan, Arnold, dan Fikri langsung mencium punggung tangan Andre sesuai yang diajarkan oleh Nadia. Andre hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pesan dari Alan. Kalau hanya untuk membeli susu saja uangnya lebih dari cukup dan banyak sisanya. Namun Andre menghargai apapun ucapan dan keinginan anaknya walaupun tak seberapa.


Hal ini dikarenakan Nadia yang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk lebih bisa memilih barang mana yang seharusnya dibeli dengan yang tak terlalu penting. Sehingga kalau anak-anaknya ingin mainan pasti mereka akan berpikir untuk mendahulukan membeli susu. Susu terpenuhi barulah mereka akan membeli mainan itu pun tak banyak.


Nadia juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh anak-anaknya. Andre mencium kening istri dan ketiga bocah kecil itu kemudian berlalu pergi dari ruang rawat inap Fikri. Tiba-tiba saja mata Fikri berubah menjadi berkaca-kaca setelah kepergian Andre.


"Akhirnya Fikri bisa merasakan rasanya dicium oleh seorang ayah" ucap Fikri sendu.

__ADS_1


Tentu saja Nadia, Alan, dan Arnold yang masih memandang kearah pintung langsung mengalihkan pandangannya. Mereka melihat Fikri yang sudah bercucuran air mata di pipinya, seketika saja ketiganya langsung lebih merapatkan badan kearah bocah laki-laki itu.


"Mulai sekarang kakak Fikri akan mendapatkan ciuman setiap hari dari kami" ucap Arnold yang kemudian naik keatas brankar.


Arnold bahkan langsung menciumi pipi dan kening Fikri berulang kali membuat bocah laki-laki itu tertawa geli. Nadia bersyukur celotehan Arnold itu membuat suasana yang tadinya sendu menjadi lebih sedikit mencair. Alan yang melihat kelakuan kakaknya merasa iri dan tak terima sehingga meminta sang bunda menaikkan keatas brankar.


"Alan uga atan tium kak Ikli iap hali" seru Alan kemudian mengikuti tingkah Arnold yang menciumi pipi Fikri.


Melihat pemandangan dan mendengar tawa renyah dari ketiga anak yang bercanda diatas brankar Fikri itu membuat Nadia begitu terenyuh. Anak-anaknya yang masih kecil saja mempunyai perasaan perasa dan lembut kepada orang yang baru dikenalnya, sedangkan orangtua Fikri sendiri seperti sudah tak punya hati.


***


Seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah nenek dari Fikri dari pihak ayah itu tampak kesal saat melihat anak dan menantunya tak membawa Fikri. Orangtua Fikri yang baru saja pulang dari rumah sakit tentunya merasa terkejut melihat kedatangan sang ibu saat membuka pintu. Tak ada kabar dari wanita paruh baya itu jika akan datang mengunjungi cucunya.


Wanita paruh baya itu menatap tajam anak dan menantunya yang kini datang tanpa adanya sang cucu. Tadi saat ia datang, wanita paruh baya yang bernama Nenek Hulim itu sudah bertanya kepada ART yang bekerja di rumah ini. Namun jawaban yang ia dapatkan tak sesuai dengan keinginannya. Mereka tak mengetahui dimana keberaadan cucu dan yang lainnya karena semuanya memang tak tinggal di rumah utama.


"Em... Fikri kan di sekolahnya, bu" jawab Papa Fikri dengan sedikit gugup.

__ADS_1


"Cih... Aku tak percaya. Lalu apa ini darah yang ada di lantai dekat tangga ini? Bahkan ibu sudah memeriksa CCTV rumah ini" seru Nenek Hulim dengan wajah murkanya.


Memang benar jika Nenek Hulim sudah memeriksa CCTV yang ada di rumah anak dan menantunya ini. Bahkan karena kedatangannya yang mendadak dan terlalu pagi membuat para ART disana belum sempat membersihkan area depan dekat tangga. Hal ini juga yang membuatnya curiga terlebih semua penghuni rumah utama tak ada di tempat.


Nenek Hulim juga memerintahkan ART untuk tak membersihkan lantai yang ada di dekat tangga sebagai bukti sampai anak dan menantunya kembali. Mendengar pertanyaan dari Nenek Hulim, kedua orangtua Fikri begitu gugup dan ketakutan. Nenek Hulim adalah sosok tegas sekaligus menyayangi cucu satu-satunya itu. Bahkan ia sangat tak mempercayai kedua orangtua Fikri yang dulunya mengambil cucunya agar bisa diasuh mereka.


Sebelumnya memang Nenek Hulim lah yang mengasuh cucunya sejak baru dilahirkan karena anak dan menantunya itu sangat sibuk bekerja. Hal ini dilakukan karena baru beberapa hari melahirkan saja, cucunya sudah seperti anak terlantar karena diasuh oleh seorang pengasuh. Setelah berumur 5 tahun, kedua orangtua Fikri langsung mengambil cucunya agar bisa diasuh mereka. Bahkan mereka sudah berjanji akan mengganti kenangan masa kecil Fikri dengan kenangan indah bersama orangtuanya.


Namun tanpa sepengetahuan Nenek Hulim ternyata selama tinggal bersama kedua orangtuanya, Fikri kekurangan kasih sayang. Bahkan dia sudah dituntut mandiri untuk melakukan apapun itu sendiri.


Plak... Plak... Plak... Plak....


"Ini untuk kalian yang dengan seenak hatinya memperlakukan cucuku. Bahkan saat ia sekarat pun kalian masih mementingkan ego untuk terus bertengkar. Kalau memang kalian sudah tak sanggup mengasuhnya, kasihkan ke ibu" lanjutnya.


Nenek Hulim menghadiahkan tamparan di kedua pipi anak dan menantunya itu. Bahkan mereka hanya bisa diam dan menundukkan kepala setelah mendapatkan tamparan yang membuat pipi keduanya memerah. Nenek Hulim benar-benar marah melihat adegan yang ia saksikan dalam CCTV yang diputar.


"Antarkan aku ke rumah sakit dimana cucuku berada" sentak Nenek Hulim menatap tajam kedua orangtua Fikri yang sedang menunduk.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun, Nenek Hulim masuk kedalam kemudian mengambil tasnya. Ia segera keluar dari rumah itu untuk menemui cucu tersayangnya yang bahkan sudah lebih dari 3 tahun tak bisa ia temuinya. Jarak dan kondisinya yang sakit-sakitan membuat Nenek Hulim tak tahan jika melakukan perjalanan jauh. Ini pun Nenek Hulim memaksakan ke rumah anaknya karena sudah terlalu rindu dengan cucunya.


Kedua orangtua Fikri saling tatap seakan berbicara lewat tatapan itu. Keduanya menghela nafasnya pasrah kemudian berjalan mengikuti Nenek Hulim yang sudah keluar rumah lebih dulu. Kemurkaan Nenek Hulim itu adalah ketakutan untuk mereka. Pasalnya apa yang mereka dapatkan selama ini semuanya berasal dari Nenek Hulim. Jika saja mereka mencelakai atau membuat sesuatu yang tak disukai oleh Nenek Hulim, sudah pasti semua kenyamanan ini akan musnah begitu saja.


__ADS_2