
"Hei... Sebenarnya kalian debat apa?" tanya Nara sambil mengerucutkan bibirnya.
Anara begitu kesal melihat kedua adiknya yang sedari tadi berdebat denga saling membela diri. Tentunya Anara yang merasa tak dilibatkan sama sekali kesal bahkan rasanya ingin menjewer telinga kedua adiknya itu. Sedangkan Abel yang memang dasarnya pendiam pun memilih untuk diam mengamati saja. Yang terpenting baginya adalah adik-adiknya tak berantem.
"Kak Nala ndak ucah itut campul. Ebih aik ita ikin es campul dalipada mencampuli ulusan olanglain" ucap Alan dengan bijak.
Anara begitu gemas dengan ucapan Alan yang sudah seperti orang dewasa itu. Arnold dulunya juga begitu namun seiring berjalannya waktu ternyata bocah yang masih kelihatan gembul itu berubah sedikit pendiam. Arnold lebih mengutamakan aksinya ketimbang berdebat dengan saudara atau yang lainnya.
Hahahaha...
Anara yang sudah tak tahan dengan kegemasannya pada sang adik kemudian menggelitiki Alan hingga terdengar tawa renyah dari bibir bocah laki-laki itu. Bahkan Arnold dan Abel yang melihatnya juga ikut tertawa pasalnya Alan tertawa sambil memperlihatkan pose narsis seperti saat akan di foto.
"Aku bahagia melihat anak-anak pada hidup rukun dan punya otak cerdas seperti ini. Semoga kehidupan kita seterusnya akan seperti ini ya, sayang" ucap Andre lirih sambil memeluk istrinya dari belakang.
Andre yang baru pulang dari kantor langsung menuju kamar anaknya yang ternyata disana juga ada Nadia yang sedang berdiri didepan pintu. Akhirnya keduanya memilih untuk melihat interaksi anak-anaknya yang sudah beranjak besar itu dari balik celah pintu. Rasanya kehidupan mereka begitu sempurna karena anak-anaknya selalu hidup rukun dan damai. Nadia selalu mengaminkan ucapan suaminya yang memang adalah do'a baik untuk keluarga keduanya.
***
"Nenek... Tadi kata bunda, nenek mau kasih Arnold hadiah ya?" tanya Arnold dengan tatapan penasarannya.
__ADS_1
Bahkan kini Mama Anisa yang sedang menyiapkan makanan untuk makan malam keluarganya begitu terkejut dengan suara teriakan Arnold. Terlebih dengan ucapan cucunya yang meminta hadiah itu. Sepertinya Nadia menceritakan tentang kejadian di ruang keluarga tadi kepada sang cucu.
"Enggak jadi, nenek nggak punya uang buat kasih kamu hadiah" ucap Mama Anisa jahil.
Mendengar jawaban dari sang nenek, sontak saja Arnold mengerucutkan bibirnya kesal. Kemudian ia segera duduk di kursi makan bersama dengan kakeknya yang sedang minum kopi disana. Sontak saja Arnold punya ide cemerlang setelah melihat ada kakeknya di depannya. Namun sedari tadi kakeknya hanya diam mengamati perdebatan istri dan cucunya itu.
"Stttt... Kakek..." panggil Arnold dengan sedikit berbisik.
Papa Reza yang mendengar suara bisikan dari sampingnya pun langsung memalingkan wajahnya kemudian menatap cucunya yang sudah menampilkan seringaian jahil andalannya. Papa Reza yakin kalau cucunya ini akan membuat istrinya itu kesal bukan main. Papa Reza menaikkan kedua alisnya pertanda bertanya kepada sang cucu.
"Nggak usah kasih nenek uang buat belanja lagi. Blokir semua ATM nya, biar tahu rasa soalnya tadi nenek bilang dia nggak punya uang. Berarti nenek tiak menghargai apa yang dilakukan kakek setiap bulannya yang memberikannya uang" ucap Arnold dengan mengedip-ngedipkan matanya berulangkali.
"Apa kamu bilang, mbul? Kamu mau memprovokasi kakekmu biar nggak kasih uang bulanan lagi, iya?" ucap Mama Anisa sambil melotot tajam.
"Yang provokasi juga siapa, nek? Kan Arnold hanya bilang fakta kalau nenek tidak menghargai pemberian kakek setiap bulannya. Buktinya nenek bilang nggak punya uang padahal tiap bulan dikasih" ucap Arnold tak terima.
"Atau jangan-jangan uang nenek habis buat jajanin brondong ya" lanjutnya dengan jahil.
Mama Anisa melotot tak terima degan ucapan cucunya itu. Bahkan tak segan dia mengacungkan centong nasi yang ada didepannya ke depan wajah Arnold agar bocah laki-laki itu takut. Namun memang ekspektasi tak sesuai dengan realita, Arnold malah seperti menantangnya.
__ADS_1
"Kalau nenek marah, berarti ucapan Arnold benar" ucap Arnold sambil memeletkan lidahnya.
Sontak saja Mama Anisa sudah tak bisa berkutik lagi menghadapi ucapan pedas Arnold. Mama Anisa terdiam sambil menurunkan centong nasi di tangannya sedangkan Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perdebatan antara istri dan cucunya itu. Papa Reza bahkan kadang merasa Arnold itu punya otak yang banyak untuk membalas orang-orang yang julid kepadanya. Lagi pula, Papa Reza hanya menganggap ucapan Arnold itu sebagai candaan saja.
"Sudah... Hentikan perdebatan kalian. Mama lebih baik selesaikan masakannya nanti gosong kalau ditinggal debat disini. Arnold juga main sana sama saudara-saudaramu yang lain" titah Papa Reza.
Mama Anisa langsung melangkahkan kakinya dengan kesal meninggalkan cucu dan suaminya yang masih duduk disana. Sedangkan Arnold masih duduk disana menemani kakeknya walaupun ia hanya sibuk memakan cemilan yang ada diatas meja.
"Kok nggak main sama yang lainnya?" tanya Papa Reza karena melihat Arnold masih duduk ditempatnya.
"Arnold lagi malas main mainan anak kecil. Mau main pistol tapi yang beneran" ucap Arnold dengan santai.
Mata Papa Reza melotot seakan bola matanya ingin keluar. Ia memang sudah dijelaskan mengenai kejadian hari ini oleh istrinya, namun tetap saja ia terkejut dengan permintaan cucunya. Rasa jantungnya sudah tak aman lagi mendengar ucapan-ucapan yang terlontar dari bibir mungil Arnold.
"Nggak boleh mainan pistol beneran, nak. Itu bisa membahayakan oranglain, kalau memang ingin main dengan pistol asli maka harus jadi polisi dulu atau nggak diawasi oleh seseorang yang ahlinya" ucap Papa Reza menasihati.
"Arnold nggak mau jadi polisi tuh, maunya jadi diri sendiri saja" ucap Arnold yang kemudian turun dari kursinya.
Bahkan Arnold pergi dari ruang makan meninggalkan kakeknya yang terlihat menatap tak percaya kearah sang cucu. Ia ditinggalkan begitu saja saat sedang berusaha menasihatinya agar kelakuannya tak melebihi batas. Bahkan kadang ucapan Arnold yang aneh seperti ini lah yang membuat orang dewasa harus ekstra mendampingi bocah laki-laki itu.
__ADS_1
Sepertinya ia harus berbicara dengan Nadia dan Andre terutama mengenai kelanjutan sekolah bocah kecil itu. Kalau memang ia masih trauma dengan sekolah akan lebih baik jika Arnold untuk homeschooling. Ini juga bisa membuat mereka lebih mengawasi Arnold ekstra. Kini Papa Reza lebih memikirkan cucunya itu karena akhir-akhir ini jadi lebih sering menyendiri atau tidak malah bergabung pembicaraan orang dewasa.