
Hampir satu bulan lamanya Andre menjalani perawatan setelah dari komanya. Andre juga sudah melihat bagaimana rupa wajahnya yang sedari awal ditutup perban itu. Dua minggu setelah sadar dari koma, perban yang ada di wajahnya dibuka oleh dokter. Dirinya begitu shock dengan rupa barunya yang begitu mengerikan menurutnya. Wajah yang menghitam sebelah dengan banyaknya luka jahitan dan robekan hingga hanya terlihat dagingnya saja sedang kulitnya hilang membuatnya begitu terpukul.
Awalnya memang dia terpukul, bahkan dia merasa Tuhan begitu tak adil karena bukan hanya kakinya saja yang lumpuh melainkan sebagian wajahnya cacat. Ingin sekali dia marah dan melampiaskan semua emosinya, namun dengan sigap Nadia membisikkan sebuah janji yang terucap didepan ketiga anaknya waktu itu.
Semua yang melihat kondisi wajah Andre pun terkejut sampai menganga tak percaya jika kerusakannya separah itu namun beruntung karena matanya baik-baik saja. Nadia, Papa Reza, dan Mama Anisa mencoba untuk terlihat biasa saja saat melihat wajah Andre agar laki-laki itu tak sedih terutama ketiga anaknya.
"Ingat pesan Bunda ya, nanti kalau kalian lihat perban yang ada di wajah papa dibuka maka kalian nggak boleh berteriak ketakutan. Nanti papa bisa marah dan bentak-bentak kalian lagi karena kalian ketakutan sama wajah barunya papa" pesan Nadia sebelum berangkat ke rumah sakit waktu itu.
Benar saja saat perban diwajah Andre terbuka, ketiga bocah kecil itu sempat terkejut namun karena mengingat pesan dari Nadia membuat mereka hanya diam saja sambil tersenyum. Nadia tahu mereka memang belum mengerti dengan apa yang terjadi papanya, namun ketiganya paham kalau tidak boleh berteriak ketakutan didepan Andre ketika perbannya dibuka.
Dengan tangan terbukanya, ketiganya meminta dinaikkan keatas brankar tempat tidur Andre. Mereka memeluk papanya yang masih shock dan menangis ketika melihat wajah barunya.
"Papa jangan sedih-sedih lagi. Bagi kita, papa sangatlah tampan karena ketampanan bukan dilihat dari rupanya saja melainkan dari hatinya juga" ucap Abel dengan bijak.
Entah mendapat darimana kata-kata itu, namun Andre hanya bisa memeluk erat ketiga anaknya. Ia sangat bersyukur anak-anaknya tidak banyak menuntut dirinya yang kini lebih banyak membutuhkan dukungan. Nadia juga memeluk Mama Anisa dengan eratnya sebagai dukungan karena selama beberapa minggu ini telah berusaha keras untuk membuat Andre lebih bisa menerima keadaan.
***
__ADS_1
Hari ini Andre telah diperbolehkan pulang ke rumahnya. Ia akan menjalani pengobatan rawat jalan dengan obat-obatan dan terapi jalan. Semua yang mendengar berita kepulangan Andre pun sangat bahagia, terutama ketiga anaknya. Sedari pagi ketiganya sangat antusias untuk mendekor ruang keluarga demi menyambut kembalinya sang papa. Sebenarnya mereka bertiga hanya heboh berlarian saja, sedangkan yang mengerjakan hal itu adalah Nadia dan Mbok Imah. Yang akan menjemput Andre adalah Mama Anisa dan Papa Reza.
"Arnold, guntingan huruf kertasnya ditempel di papan kayu itu" ucap Nadia.
"Apek, unda. Cedali adi Anol udah kelja lho, oba unda aja ang keljain" ucap Arnold sambil berpura-pura mengelap keringat yang ada didahinya.
Melihat gaya Arnold itu, Nadia gemas bukan main pasalnya sedari tadi Arnold hanya duduk di sofa sambil memperhatikan semua orang yang sedang bekerja. Di dahinya pun sama sekali tak keluar keringatnya, sehingga Nadia heran dengan apa yang diusap oleh anak kecil laki-laki itu. Sungguh sekarang Arnold adalah bocah drama.
"Mana ada adek kerja? Dari tadi adek kan cuma lari-larian, gangguin kakak, terus duduk sambil makan" ucap Anara.
"Sudah... Sudah... Biarkan saja bayi gembul itu makan dan duduk, biar badannya tambah gembul" ucap Nadia menggoda Arnold.
Arnold paling tidak suka jika dirinya disebut gembul karena menurutnya akan mirip dengan boneka beruang milik kedua kakaknya yang terlihat sangat gemuk walaupun lucu dan menggemaskan. Dengan wajah kesalnya, Arnold segera turun dari sofanya kemudian berpura-pura mengambil kertas disamping kakaknya. Nadia dan Mbok Imah yang melihat hal itu hanya bisa menahan tawanya.
Tak berapa lama semua persiapan untuk menyambut kedatangan Andre telah siap. Nadia segera memandikan ketiganya, sedangkan Mbok Imah menyiapkan makanan untuk ditata diatas meja ruang keluarga.
***
__ADS_1
Semua orang telah bersiap diruang keluarga ketika mendengar suara mobil yang berhenti didepan rumah mewah keluarga Farda. Semuanya juga tahu kalau mobil itu membawa Mama Anisa, Papa Reza, dan juga Andre. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya ketiga orang yang ditunggu-tunggu itu akhirnya menampakkan wajahnya di ruang keluarga. Mama Anisa datang dengan mendorong kursi roda Andre, sedangkan Mama Anisa dan satpam yang bekerja membawa beberapa barang milik laki-laki itu.
"Selamat datang kembali, papa" seru semua orang yang ada disana dengan senyum sumringahnya.
Anara dan Abel membawa tulisan papan dengan tulisan "selamat datang kembali, papa" sedangkan Arnold meniup sebuah terompet yang sedari tadi tak keluar bunyinya karena bocah itu tidak meniupnya dengan kencang. Semua orang hanya menahan tawanya melihat Arnold yang begitu kesal karena terompet yang ditiupnya tidak berbunyi.
"Tlompet lusak" kesal Arnold kemudian membuangnya ke lantai.
Arnold segera mendekat kearah papanya kemudian memeluk laki-laki yang duduk di kursi roda itu. Andre yang melihat anaknya manja dan sedang kesal pun hanya mengusap kepalanya yang ditaruh diatas pahanya itu. Anara dan Abel juga mengikuti Arnold yang telah memeluk papanya terlebih dahulu. Mbok Imah sedari tadi terkejut dengan wajah baru majikannya, namun ia mencoba menampilkan wajah yang biasa saja karena takut Andre akan tersinggung.
Mama Anisa dan Papa Reza begitu senang dengan kejutan yang dibuat oleh Nadia dan ketiga cucunya, sedangkan Andre sendiri tak mempedulikan hal itu. Pasalnya disaat ia pulang ke rumah, dia hanya ingin melihat ada anak-anaknya dan kekasihnya saja. Itu sudah menjadi hal yang membahagiakan untuknya karena ternyata dia tidak ditinggalkan sendiri.
"Terimakasih" ucap Andre dengan mata berkaca-kaca menatap kekasihnya.
Nadia hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum manis. Papa Reza segera mendorong kursi roda Andre untuk lebih mendekat kearah ruang keluarga. Sore itu, mereka mengadakan makan bersama dengan Mbok Imah dan satpam yang berjaga untuk menyambut kembalinya Andre ke rumah. Suasana hangat dan kekeluargaan begitu terasa, bahkan tak ada jarak sama sekali.
Andre sangat bahagia dan dia hanya bisa berharap dalam hatinya agar kebahagiaan ini takkan pernah berakhir. Ia ingin selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya dengan setulus hati. Dengan begini, dia akan lebih semangat lagi untuk melakukan terapi jalan dan pengobatan lain demi kesembuhannya.
__ADS_1