
Semua orang menoleh saat ada seseorang yang memanggil nama Nadia. Terlebih Nadia yang seperti mengenal suara seseorang yang memanggilnya itu. Sedangkan Nenek Darmi yang melihat seseorang yang ia kenal langsung saja berlari tergopoh-gopoh mendekat kearah Nadia dan anak-anaknya. Jangan sampai nanti ada keributan bahkan membuat anak-anak kecil disana bisa saja terluka.
"Parno..." ucap Nadia dengan wajah terkejutnya.
Setelah hampir 4 tahun berlalu Nadia tak pernah tahu bahkan bertemu dengan Parno, tiba-tiba saja saat ini laki-laki itu sudah ada didepannya. Bahkan Nadia terperangah dengan penampilan Parno yang sangat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Wajah tampan bahkan bening berbeda dengan yang dulu kusam bahkan banyak jerawat. Bahkan badannya terlihat berisi dengan berbalut kemeja biru muda. Yang paling berbeda adalah nada bicaranya tak melambai dan kemayu seperti dulu.
"Kamu pasti terkejut bukan dengan perubahanku?" tanya Parno terkekeh.
Terlebih saat Parno melihat rasa terkejut di raut wajah Nadia. Selama satu tahun Parno masuk ke rumah sakit jiwa, disana ia dibimbing bahkan melakukan terapi demi menyembuhkan rasa panik berlebihan juga pikiran-pikirannnya. Bahkan sekarang ia sudah tak lagi histeris jika mengingat masa lalu menyakitkan karena cinta yang ditolak. Setelah berhasil sembuh dari depresinya, Parno langsung menyusul kedua orangtuanya yang tinggal di sebuah desa.
Ia hidup bersama kedua orangtuanya dengan sederhana. Parno berusaha untuk meraih kesuksesannya dengan kembali melanjutkan kuliahnya yang dulu sempat terhenti. Hingga dua tahun lamanya, ia berkuliah sambil bekerja kemudian merubah total penampilannya. Kini ia sudah sukses dengan usahanya memiliki usaha jualan sembako dan peternakan ayam.
Ia kembali ke kota demi menemui Nadia. Bukan untuk mengganggu kehidupan wanita itu namun ia ingin meminta maaf pada Nadia terutama Andre. Kini ia telah sadar jika perbuatannya di masa lalu hanyalah obsesi semata yang membuatnya jatuh dalam lubang depresi. Saat dirinya hendak ke rumah Keluarga Farda, ternyata ia malah sudah bertemu dengan wanita itu di jalan.
"Mau ngapain kamu menemui bundaku? Lebih baik kamu pergi" seru Arnold.
Sedari kedatangan Parno tadi, Arnold sudah menampakkan raut wajah tak sukanya. Terlebih dulu pernah membuatnya terluka dan kakaknya Abel kembali trauma. Arnold juga masih ingat dengan tingkah kedua orangtua Parno yang dulu menghadangnya bahkan menghina Nadia.
Parno langsung mengarahkan pandangannya kearah Arnold yang langsung berada didepan bundanya. Nenek Darmi bahkan sudah ada disana kemudian menarik Abel dan Anara sedikit menjauh. Alan yang digendong oleh Nadia pun langsung ia titipkan pada Nenek Darmi dan kedua kakaknya.
__ADS_1
"Parno, lebih baik kamu pergi. Anak-anakku kan punya ingatan jelek tentangmu, aku tak ingin mereka sampai mengingatnya lagi" ucap Nadia mengusir Parno agar menyingkir dari hadapannya.
Parno tak mempedulikan ucapan dari Nadia, justru ia malah berjongkok dihadapan Arnold kemudian menatapnya dengan tegas. Bahkan Arnold sedikit memundurkan langkahnya karena khawatir jika nanti ada serangan mendadak. Sedari tadi Alan bahkan sudah memberontak ingin mendekat kearah abang dan bundanya.
"Hei bocah... Aku kesini cuma mau minta maaf. Bukan mau mencari keributan bahkan masalah baru" ucap Parno dengan tatapan bersalahnya.
Arnold tak serta merta percaya dengan apa yang diucapkan oleh Parno. Walaupun ia dan Nadia sebenarnya terkejut dengan apa yang Parno ucapkan. Arnold menatap menyelidik kearah Parno bahkan memindai penampilannya dari atas ke bawah.
"Tadinya aku mau ke rumah kalian sekalian bertemu dengan Andre untuk meminta maaf. Tapi nyatanya malah ketemu disini duluan" lanjutnya sambil terkekeh.
"Nggak ada yang lucu. Nggak usah ketawa" seru Arnold ketus.
"Nak, Om Parno hanya mau minta maaf lho. Sebagai manusia biasa, kita harus memaafkannya. Allah aja maafin hambanya kalau berbuat dosa, masa kita sebagai manusia bisa nggak mau memaafkannya sih" ucap Nadia memberitahu sambil mengelus rambut anaknya.
Arnold mendengus kesal melihat bundanya yang malah membela Parno. Menurutnya, bundanya itu terlalu baik sehingga nanti bisa saja dimanfaatkan oleh seseorang. Alan yang kini sudah berhasil lepas dari penjagaan Nenek Darmi dan kedua kakaknya pun langsung berdiri di samping Arnold. Nadia menepuk dahinya pelan karena kedua anaknya yang posesif ini akan beraksi.
"Sapa amu? Blani-blanina ndak pelgi adahal cudah diusil" ucap Alan sambil berkacak pinggang.
"Astaga... Ini anak kamu juga, Nad. Lucunya..." gemas Parno yang melihat seorang anak kecil yang asing didepannya.
__ADS_1
Nadia menganggukkan kepalanya membuat Parno langsung menoel pipi gembulnya. Hal ini membuat Alan marah bahkan sengaja menepis jari telunjuk Parno. Bukannya marah, Parno malah tertawa melihat raut wajah Alan yang begitu lucu menurutnya.
"Angan egang-egang pipi Alan. Angan tamu kotol anyak umanna" seru Alan sambil memalingkan wajahnya.
"Jangan gitu Arnold, Alan... Jangan kasar ah, kan niatnya Om Parno hanya minta maaf lho" ucap Nadia tak enak hati.
"Oh... Namana Palno? Ndak telen. Halusna namana itu Polno aja" ucap Alan dengan santainya mengubah nama Parno.
Nadia hanya bisa mengelus dadanya sabar saat Alan yang sudah maju, sedangkan Parno sendiri geleng-geleng kepala melihat tingkah semua anak Andre yang galak. Hampir semua anak Andre begitu berani dan galak jika bertemu dengannya. Tanpa menggubris ucapan Alan, Parno kemudian berdiri.
"Ijinkan aku bertemu dengan Andre, Nad. Aku ingin meminta maaf padanya" ucap Parno dengan tatapan permohonan.
"Ndak ucah dikacih uat tetemu papa. Ntal papa cembulu lho" ucap Alan menolak permintaan Parno.
Nadia terdiam bahkan langsung memandang kearah Nenek Darmi untuk meminta pendapat. Nenek Darmi ternyata menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui permintaan Parno. Lagi pula jika memang niatnya meminta maaf maka harus dibukakan jalannya untuk silaturahmi. Tak baik juga jika memendam kekesalan dan rasa bersalah bertahun.
Akhirnya Nadia menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui permintaan Parno. Sedangkan Alan dan Arnold memberengut kesal karena mendengar hal itu namun mereka hanya bisa pasrah pasalnya tak mau dimarahi oleh bundanya. Nenek Darmi pun akhirnya memilih ikut karena khawatir terjadi sesuatu nantinya di jalan.
Akhirnya mereka bertujuh berjalan kaki menuju rumah keluarga Farda dengan Parno yang memimpin jalan didepan. Nenek Darmi sengaja meminta Parno agar berjalan didepan agar nantinya laki-laki itu tak berbuat sesuatu dibelakangnya. Tak berapa lama mereka berjalan, akhirnya sampai juga di depan rumah. Terlihat di halaman rumah sudah ada mobil Andre dan Papa Reza terparkir apik disana yang pertanda semuanya sudah pulang ke rumah.
__ADS_1
"Mau ngapain lagi....