Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Alan Bikin Pusing


__ADS_3

"Belajar itu bisa dimana pun, entah itu di sekolah atau di rumah. Bisa juga di perpustakaan dan taman karena mendapatkan ilmu itu tak terbatas dimana tempatnya. Namun jika kalian ingin mendapatkan ijazah dan teman yang banyak dari berbagai daerah lainnya, maka di sekolah lah tempatnya" ucap Gea menjelaskan.


Alan dan Arnold begitu serius mendengarkan ucapan dari Gea sampai matanya tak berkedip. Gea benar-benar menahan tawanya melihat wajah lucu dari kedua bocah laki-laki yang ada didepannya ini. Sedangkan Abel dan Anara juga ikut mengangguk-anggukkan kepalanya seakan mengerti apa yang diucapkan oleh Gea.


"Talo empat uat cali pacal dimana, bu?" tanya Alan dengan serius.


Gea tentunya terkejut dengan ucapan dari Alan itu. Terlebih anak seusia ini sudah tahu dan mengerti tentang pacar. Walaupun bagi sebagian orang ini hal yang wajar namun baginya harus diluruskan. Walaupun Gea yakin jika mereka sebenarnya tak paham dengan arti pacaran itu sendiri. Gea juga tahu kalau pasti orangtua mereka mengajari atau bahkan sudah menegur namun pada dasarnya keduanya itu anak yang terlalu genius sehingga membuat kuwalahan dalam menjelaskan.


"Wah... Kalau tempat cari pacar itu belum ada untuk anak kecil. Nanti kalau sudah tinggi, besar, dan seperti papa kalian nih, tentunya akan punya pacar sendiri tanpa harus nyari dimana tempatnya. Jadi kalau masih seumuran adik kecil ini, kalian hanya fokus belajar, bermain, dan banyaklah berteman" ucap Gea dengan hati-hati.


Alan dan Arnold mengernyitkan dahinya heran mendengar penjelasan dari Gea. Sedangkan Anara dan Abel yang sudah lebih dewasa pun memang sudah paham kalau saat ini mereka belum boleh pacaran. Kewajibannya hanya belajar, menghormati orangtua, dan bermain. Sedangkan Alan dan Arnold yang pikirannya tak seperti anak-anak lainnya tentu berbeda pemikiran.


"Api abang Anol udah unya pacal lho, kak Ilam namana. Alan uga udah, Cia namana" ucap Alan protes karena tak diperbolehkan berpacaran dan tak ada tempat mencarinya.


Gea yang lulusna luar negeri dan punya banyak prestasi itu akhirnya menyerah menghadapi Alan. Ternyata kepintaran dan kekritisan Alan bikin pusing orang sekitarnya. Pantas saja jika orangtuanya seperti membiarkan jika mereka berucap tentang pacaran atau menggombal seperti itu. Namun Gea begitu takjub melihat kepintaran Alan dan Arnold yang sangat jarang ia lihat pada anak seusianya.


Akhirnya Alan dan Arnold kembali fokus pada kertas juga bolpoint yang dipegangnya itu. Sedangkan Anara dan Abel fokus pada soal-soal olimpiade yang diberikan oleh Gea. Gea pun dengan sabar mengajari keduanya agar bisa menyelesaikan semua soal yang diberikan. Bahkan terkadang ia sering memberikan waktu untuk Anara dan Abel istirahat jika lelah.


***

__ADS_1


"Ayo makan siang dulu" ajak Nadia kepada anak-anaknya dan juga Gea.


Mereka pun akhirnya menghentikan kegiatan belajarnya kemudian mengikuti Nadia menuju ruang makan. Awalnya Gea tak mau karena merasa tak enak hati, namun Nadia tentu memaksanya. Bagi Nadia, Gea sudah capek dalam mengajari anak-anaknya masa di saat semua orang makan namun malah yang mengajar diam saja Di meja makan sudah ada Mama Anisa yang menyunggingkan senyum manisnya.


"Bagaimana belajarnya?" tanya Mama Anisa tersenyum ramah.


"Seru, nek. Apalagi adek-adek nggak berisik" ucap Anara dengan riangnya.


Alan dan Arnold yang merasa tersindir pun menatap kakaknya itu dengan sinis. Memang hanya Anara lah yang berani menyindir kedua adiknya. Sedangkan Abel yang karakternya memang kalem tentunya lebih pendiam bahkan kalau sudah berurusan dengan kedua adiknya pasti memilih mengalah.


"Ita tan ndak pelnah belicik, tuma banak nomong aja" ucap Alan tak terima.


"Sama saja Alan" gemas Mama Anisa dengan kedua tangan yang sudah meremat ingin menguyel-uyel pipi cucunya.


Gea hanya terkekeh canggung mendengar perintah dari Alan. Lagi pula mana berani dia mengajari baca dan tulis kepada Mama Anisa kecuali wanita paruh baya itu memintanya untuk mengajarkan. Sedangkan Mama Anisa menatap kesal pada cucunya yang selalu pintar dalam membalas ucapannya itu. Perasaan Andre dulunya orangnya pendiam bahkan tak pintar berbicara namun mengapa punya anak cerewet dan aktif begini.


"Alan jangan gitu sama nenek. Nanti dikutuk jadi batu lho kamu kalau nakal sama nenek" ucap Nadia yang kemudian membantu Alan duduk di kursinya.


"Pelacaan yan tutuk adi datu itu talo ceolang nanak dulhata cama ibuna. Talo ditu ending nenek tutuk papa caja adi datu, bial ndak cuka nakal agi" ucap Alan memberi ide.

__ADS_1


Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala dan merasa frustasi dengan apa yang diucapkan oleh Alan. Apalagi anaknya itu begitu pintar dalam membolak-balikkan sesuatu hingga dirinya kuwalahan dan berakhir ia kalah dalam berdebat. Sedangkan Gea hanya bisa terkikik geli mendengar ucapan dari anak ajaib yang baru ditemuinya hari ini.


"Kalau papamu, nenek kutuk jadi batu nanti bisa-bisa kamu nggak jajan soalnya papa udah nggak kerja lagi" ucap Mama Anisa sedikit gemas.


"Macih ada tatek, ditu tok lepot" ucap Alan acuh.


Hahaha...


Gea sudah tak bisa menahan tawanya lagi karena merasa begitu seru melihat perdebatan mereka. Suatu saat jika dewasa kelak, Gea yakin kalau Alan akan tumbuh menjadi anak yang cerdas. Bahkan takkan ada yang bisa menandingi kehebatannya dalam berdebat. Sedangkan Arnold hanya mengelus dadanya sabar melihat berisiknya Alan yang sama sekali tak mau mengalah dengan neneknya.


Nadia memilih diam daripada menanggapi anaknya yang semakin hari membuatnya pusing itu. Ia segera mengambilkan makanan untuk anak-anaknya sedangkan Mama Anisa dan Gea langsung makan dengan apa yang sudah diambilnya. Nadia juga masih menyuapi Alan karena kebiasaan bocah kecil itu suka lama dalam memakan makanannya.


"Alan, Arnold... Tidur siang yuk" ajak Nadia kepada dua anak laki-lakinya itu setelah selesai makan.


"Arnold masih mau belajar, bunda" ucap Arnold menolak.


"Iya nih unda, olang lagi belajal tokk diculuh bobok. Bobok tu anti alam" ucap Alan memberi alasan.


Akhirnya Nadia hanya pasrah saja yang kemudian mengantar mereka kembali ke halaman belakang rumah. Nadia juga tak diijinkan untuk mendekati keduanya karena sedang mengerjakan sesuatu. Nadia menitipkan mereka pada Gea, nanti jika ada masalah langsung saja dimintanya berteriak.

__ADS_1


"Minta tolong titip anak-anak ya, bu. Nanti kalau keduanya buat masalah, teriak saja. Saya ada di ruang keluarga soalnya" pesan Nadia pada Gea sebelum pergi.


Gea tentunya hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Sedangkan Arnold dan Alan seperti tak terima jika mereka dipikir akan membuat masalah. Padahal keduanya suka berbuat kerusuhan bukan masalah.


__ADS_2