
Mama Anisa dan Nadia geram karena Aneta menyuruh para bodyguard untuk mengusir mereka. Dengan sekuat tenaga, Nadia mendorong-dorong pagar besi rumah Aneta sampai bergoyang-goyang dan hampir roboh. Entah dapat kekuatan darimana, Nadia menggoyangkan kuat pagar besi itu sekuat tenaga dibantu ibu-ibu membuat Aneta dan Sukma gelagapan panik. Salah siapa mereka tak mau membuka pagar besi itu dan membiarkan semua orang masuk.
"Hei... Jangan merusak pagar rumahku, itu mahal" sentak Sukma.
"Bodo amat, kita nggak peduli. Pagar rumah bisa dibangun dan dibeli lagi, tetapi trauma anak kecil takkan bisa hilang dari ingatannya sampai dewasa kelak. Salah kalian juga yang tak membiarkan kami masuk" seru Mama Anisa tak peduli.
"Dasar bodyguard bodoh... Cepat tahan pagar itu agar tak roboh" seru Aneta.
Para bodyguard yang mendengar seruan Aneta segera saja menuruti perintah majikannya itu. Mereka dengan sigap menahan pagar besi yang hampir roboh itu karena banyaknya orang yang ikut mendorongnya.
Brakkkkkk....
Tiba-tiba saja, pagar besi itu roboh kedalam halaman rumah Aneta. Untungnya bodyguard-bodyguard itu dengan sigap menghindar sebelum pagar besi roboh. Sedangkan Aneta dan Sukma menganga tak percaya, pagar besi yang kuat dan mewah itu bisa roboh hanya dengan dorongan berulang kali dari beberapa wanita.
Mama Anisa dan Nadia langsung masuk kedalam dan mendekat kearah Aneta dan Sukma yang masih belum sadar dari rasa keterkejutannya. Tanpa aba-aba, Mama Anisa memegang leher Sukma dengan cekikan yang begitu kuat. Sukma yang dicekikpun seketika tersadar dari rasa terkejutnya begitu juga dengan Aneta. Apalagi Sukma memekik sakit dan meminta dilepaskan.
"Sakit, Nisa. Lepas..." seru Sukma.
Sukma terus menggerak-gerakkan tubuhnya bahkan kedua tangannya sudah memegang tangan Mama Anisa agar bisa dilepaskan dari cekikannya. Namun usahanya benar-benar sia-sia karena Mama Anisa sama sekali tak terpengaruh dengan kekuatan Sukma.
Aneta yang melihat wajah kemarahan Mama Anisa dan raut kesakitan dari ibu mertuanya segera saja memikirkan rencana untuk kabur. Namun sebelum berhasil kabur, Nadia mengapit leher Aneta dengan pergelangan tangan kanannya.
"Kau ini tidak ada hubungannya dengan keluarga ini, lepaskan" seru Aneta.
Nadia tak menggubris ucapan Aneta. Aneta sudah berusaha melepaskan diri dengan menggigit pergelangan tangan Nadia, namun gadis itu malah menjambak rambut Aneta dengan tangan kirinya yang masih bebas sehingga wajahnya mendongak keatas dan melepaskan gigitannya.
Para bodyguard dan maid yang bekerja dirumah Aneta begitu terdesak dan tak bisa berbuat apa-apa karena ketika mereka ingin membantu majikannya dihalangi oleh ibu-ibu yang dibawa oleh Nadia. Walaupun sebenarnya didalam hati mereka senang karena majikan yang selalu menindas mereka akhirnya mendapatkan karmanya.
__ADS_1
"Hukkk... Hukkk... Lepas" ucap Aneta sambil terbatuk-batuk.
Nadia dan Mama Anisa dengan kompaknya melepaskan cekikan dan apitan leher keduanya kemudian mendorong dua wanita itu sampai tersungkur dilantai halaman rumah.
Awwwww.... Uhukkk... Uhukkk...
Keduanya memekik kesakitan dan terbatuk-batuk sambil menarik nafasnya dalam-dalam karena dadanya seakan sesak karena terlalu lama tertekan oleh tangan dari dua wanita super itu. Belum sampai mereka beristirahat sebentar, kejutan dari Mama Anisa dan Nadia berlanjut.
Byurrrrrr....
Ibu-ibu yang dibawa Nadia seketika mengguyur Aneta dan Sukma dengan seember air. Bukan air biasa, melainkan campuran air bekas cucian piring dan baju dengan saus, kecap, minyak bekas goreng, dan pasir.
Hoekkkkkkk...
"Rasain tuh, makanya jadi orang jangan jahat-jahat" seru Nadia.
"Ini akibat dari menyakiti cucuku, Abel. Ini belum seberapa dengan apa yang kalian lakukan pada cucuku" seru Mama Anisa dengan mata memerah.
Arrgggggh.... Lepas... Sakit....
Pekikan kesakitan itu membuat semua orang disana bergidik ngeri, terlebih melihat Mama Anisa yang tanpa ampun memberikan penyiksaan kepada Aneta dan Sukma. Wajahnya pun memerah seperti seorang iblis yang siap menerkam orang-orang yang tak disukainya.
"Nadia, pukul kaki kedua orang itu seperti apa yang mereka lakukan pada Abel" perintah Mama Anisa.
Nadia yang mendengar perintah dari Mama Anisa pun dengan sigap mengambil pukulan bola kasti yang dibawa oleh ibu-ibu tadi kemudian langsung memukul kedua kaki wanita itu.
Bugh... Arrghhh....
__ADS_1
Bughh.... Arrghhh....
Bugh.... Arrrghhh....
"Sakit, sialan...."
"Hentikan..."
Bugh...
Mendengar kedua wanita itu mengumpat, bukannya malah membuat Nadia berhenti untuk memukul kaki mereka. Nadia terus memukul kaki mereka walaupun Aneta dan Sukma sudah berteriak kesakitan sampai menangis.
"Gimana? Sakit nggak? Kalian yang udah tua saja bisa merasakan kesakitan apalagi Abel yang masih sangat kecil" seru Mama Anisa.
Dengan brutalnya, Mama Anisa menjambak terus menerus rambut dua wanita itu sedangkan Nadia masih memukul kedua kaki mereka yang sudah terlihat merah-merah. Mereka berdua bagaikan sosok iblis yang sedang mengeksekusi penjahat, sedangkan semua orang yang melihatnya hanya bisa meringis ngilu. Bahkan ada juga yang bersorak menyemangati karena tak suka dengan kedua wanita itu. Aneta dan Sukma sudah lemas tak berdaya karena menahan sakitnya alhasil mereka berdua pingsan.
"Cih... Lemah, pingsan mereka" ucap Mama Anisa.
Mama Anisa melepaskan jambakan rambut pada kedua wanita itu begitupun dengan Nadia yang menghentikan pukulannya. Mama Anisa dan Nadia kemudian mendekat kearah kumpulan ibu-ibu yang tadi mendukung mereka.
"Terimakasih karena telah membantu kami membalas rasa kesakitan Abel. Kalau mereka melaporkan kalian ke polisi, kalian bisa menghubungi kami di nomor ini dan ini sebagai rasa terimakasih. Kami akan menjamin keselamatan kalian. Dan buat kalian para maid dan bodyguard yang tak punya hati, silahkan urus kedua majikan kalian sebelum sekarat" ucap Mama Anisa.
Mama Anisa memberikan sebuah kartu nama dan satu amplop untuk mereka semua sebagai ucapan terimakasih. Ibu-ibu yang membela Nadia dan Mama Anisa menganggukkan kepalanya, mereka yakin kalau kejadian hari ini takkan menimbulkan masalah apa-apa bagi mereka kedepannya.
Ibu-ibu yang dibawa oleh Nadia pun pergi dari halaman rumah Aneta, sedangkan Nadia dan Mama Anisa masih berdiri disana.
"Bilang sama tuan kalian si Lian dan Rudi itu. Saya tunggu di rumah sakit. Kalau dia tak datang juga, saya pastikan dia akan saya kirim ke kuburan" seru Mama Anisa.
__ADS_1
Semua bodyguard dan maid hanya meneguk salivanya kasar saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Mama Anisa. Mama Anisa dan Nadia segera pergi dari sana meninggalkan Aneta dan Sukma yang pingsan sedangkan para pekerja masih mematung ditempatnya.
Tak jauh dari tempat itu, terlihat seseorang yang melihat semua kejadian hari ini dengan mata yang berbinar. Dia adalah Papa Reza. Ia sungguh terkejut dengan apa yang dilihatnya, Mama Anisa dan Nadia begitu kompak dan mengerikan dalam memberi hukuman pada Aneta dan Sukma. Sekarang saatnya dia dan Andre yang akan beraksi untuk menghukum Lian dan Rudi.