Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Galak


__ADS_3

"Darimana saja kamu, Nilam? Jam segini baru pulang, tak tahu kalau piring di dapur sudah banyak yang kotor" teriak seorang wanita paruh baya sambil berkacak pinggang saat melihat Nilam memasuki pagar rumah.


Nilam yang baru teringat kalau tugasnya setelah pulang sekolah harus segera mencuci piring pun ketakutan. Bahkan kini wajahnya terlihat panik karena harus menghadapi ibunya yang marah karena keteledorannya. Nilam segera saja menyembunyikan tubuhnya dibelakang Arnold.


Arnold yang melihat Nilam ketakutan pun merasa bingung dengan apa yang terjadi. Pasalnya dia seperti tak mengenal ibu-ibu didepannya ini. Dulunya saat masih sering di sekolah, ibu Nilam bukan seperti ini wujudnya sehingga Arnold sama sekali tidak mengenali siapa wanita paruh baya ini.


"Nilam tenang ya. Arnold akan jadi pahlawan superheronya Nilam" bisik Arnold menenangkan.


"Kamu siapa nyuruh-nyuruh Nilam cuci piring? Yang wajib nyuci piring itu yang bantu-bantu di rumah dan orang dewasa. Tangan Nilam aja kecil bahkan lebih besar piringnya daripada tangannya, nanti kalau jatuh gimana tuh barang-barangnya? Sebagai superheronya, aku tak mengijinkan Nilam mencuci piring" ucap Arnold membantah ucapan ibu Nilam, Mama Vivi.


"Wah... Kamu mau membantah saya? Kalau memang kamu tak mengijinkan dia mencuci piring, lebih baik kamu yang gantikan saja" ucap Mama Vivi dengan sinisnya.


"Oke" ucap Arnold dengan santainya.


Bahkan kini Arnold dengan santainya menggandeng tangan Nilam masuk kedalam rumah seakan itu adalah miliknya sendiri. Mereka berdua berjalan melewati Mama Vivi dengan santai tanpa menyapa, walaupun Arnold sudah memberikan tatapan permusuhan pada wanita paruh baya itu.


***


"Nilam, dimana kantong sampah hitam?" tanya Arnold pada Nilam yang sedari tadi diam.


Nilam merasa bersalah karena sifat pelupanya membuat Arnold harus membantunya mengerjakan pekerjaannya. Arnold yang tak mendengar jawaban dari Nilam pun langsung melihat kearah gadis cilik yang masih menundukkan kepalanya dan memainkan kedua kakinya itu.

__ADS_1


"Nilam..." panggilnya.


Sontak saja Nilam menegakkan kepalanya kemudian menatap Arnold dengan mata yang berkaca-kaca. Arnold langsung saja memeluk Nilam dengan eratnya untuk menenangkan gadis cilik itu.


"Sudah... Tak apa-apa, ada Arnold disini yang akan menemani Nilam" ucapnya.


Nilam menganggukkan kepalanya kemudian melepaskan pelukan itu. Ia mengambilkan kantong plastik hitam sampah kemudian menyerahkannya pada Arnold. Sebenarnya dia bingung mengapa Arnold meminta kantong sampah itu namun tanpa bertanya ia langsung mengambilkannya. Arnold membuka kantong plastik itu kemudian melebarkannya didekat tempat pencucian piring. Menggunakan sebuah kursi kecil, Arnold naik keatasnya kemudian mengambil satu demi satu piring.


"Bantu pindahkan piring ini ke dalam kantong plastik itu" ucap Arnold.


Nilam pun menganggukkan kepalanya kemudian menuruti ucapan Arnold. Keduanya saling bekerjasama memindahkan semua piring, sendok, dan gelas kedalam kantong plastik sampah besar itu. Setelah beberapa menit, akhirnya semua piring, gelas, dan sendok yang berada dalam tempat pencucian itu pindah dalam kantong plastik.


"Beres dong. Udah bersihkan semua cucian piring dan yang lainnya?" ucap Arnold dengan bangganya.


Nilam hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sepertinya dia harus siap menghadapi kemarahan dari Mama Vivi. Padahal yang dimaksud dengan membersihkan piring itu dicuci menggunakan sabun bukan dibuang di tempat sampah.


"Mama kamu kok wajahnya beda saat dulu aku ketemu di sekolah?" tanyanya penasaran.


"Dia mama tiri. Mama kandung aku meninggal 6 bulan yang lalu" jawab Nilam dengan tatapan sendunya.


Selama satu tahun tak bertemu dengan Arnold, banyak sekali kejadian yang membuat hidup gadis kecil bernama Nilam itu berubah. Terutama dengan meninggalnya sang mama kandung dan ayahnya menikah dengan wanita lain. Hidupnya yang selama ini bahagia, berganti muram. Pengasuh dan pembantu dipecat oleh Mama Vivi membuat ia dan kakaknya harus bau membahu untuk mengurus rumah setelah pulang sekolah.

__ADS_1


Arnold menatap iba kearah Nilam, ia tak menyangka jika posisinya sekarang sama dengan dirinya. Bedanya mama tirinya sangatlah baik sedangkan Nilam sebaliknya. Dia akan membantu Nilam dan kakaknya agar bisa mengubah Mama Vivi menjadi baik. Untuk mengalihkan kesedihan Nilam, Arnold menggandeng tangan gadis itu untuk duduk di ruang TV. Saat sampai di ruang TV, ternyata disana sudah ada Mama Vivi yang sedang duduk santai sambil makan cemilan.


"Wah... Enak nih santai-santai. Kita kerja, situnya santai nonton TV" sindir Arnold.


Bahkan Arnold langsung mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruang TV tanpa menghiraukan tatapan sinis dari Mama Vivi. Arnold menarik tangan Nilam untuk duduk disampingnya kemudian mengambil beberapa cemilan diatas meja.


"Kamu harus makan yang banyak, Nilam. Karena melawan mama tiri yang jahat itu juga butuh banyak tenaga" ucap Arnold.


"Heh... Siapa yang kamu bilang jahat?" ucap Mama Vivi dengan tatapan garangnya.


"Lah... Kan aku cuma memberi pesan pada Nilam, kalau situ ngerasa ya baguslah" ucap Arnold santai.


Mama Vivi hanya bisa mendengus kesal melihat teman anak tirinya yang sepertinya akan memberi pengaruh buruk pada Nilam. Selama ini memang dirinya bersikap tak baik pada kedua anak tirinya karena memang jiwanya itu tak suka dengan anak kecil. Hanya didepan sang suami lah dia akan bersikap baik pada keduanya.


"Nilam, aku pulang dulu ya. Kamu baik-baik disini, kalau ada apa-apa langsung saja lari ke rumah ARnold yang ada di perumahan sebelah. Nanti biar aku akan melaporkan orang jahat ke komnas perlindungan anak nantinya kalau sampai melihat kamu disakiti lagi" pesannya saat berpamitan pada gadis kecil itu.


Bahkan Arnold berpamitan dan mengucapkan sebuah kalimat seperti ancaman itu didepan Mama Vivi. Sontak saja Mama Vivi yang mendengar hal itu langsung membulatkan matanya terkejut. Ia tahu penghuni perumahan sebelah yang dimaksud oleh Arnold itu merupakan tempat tinggalnya para pengusaha kaya. Kalau memang benar anak itu adalah keturunan pengusaha kaya, tentunya akan membuat laporan seperti itu adalah masalah kecil.


Nilam menganggukkan kepalanya mengerti kemudian bangkit dari duduknya kemudian berjalan pergi meninggalkan ruang TV. Bahkan mereka tak menghiraukan keberadaan Mama Vivi yang masih shock. Namun sebelum jauh dari ruangan itu, Arnold membalikkan badannya kemudian mengucapkan kalimat ancaman.


"Ingat ya, tante. Kalau sampai Nilam dan kakaknya disuruh-suruh lagi buat bersihin rumah atau anda memarahinya, Arnold pastikan jika dalam minggu ini tante pasti akan tidur dalam dinginnya penjara" ancam Arnold dengan berteriak kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2