
"Woyyy... Apaan nih? Udah dong, jangan kasih ginian. Nanti muka tampan David kaya lenong" kesal Parno dengan memberontak di kursi.
Saat ini Parno tengah duduk di kursi kesakitan yang dibuat oleh Mama Anisa dan Nadia. Kedua perempuan itu tadi menyeret tubuh Parno kemudian didudukkan di sebuah kursi yang berada didekat pos satpam. Mereka juga mengikatnya dengan erat.
Mama Anisa masuk kedalam rumah untuk mengambil peralatannya. Mama Anisa dan Nadia mempunyai ide yang sangat bagus untuk membuat Parno itu jera untuk mempermalukan oranglain. Sedangkan Nadia dengan santainya malah mendekati Andre kemudian berpacaran dengannya, hal itu membuat hati Parno memanas.
Setelah beberapa menit, Mama Anisa keluar dari rumah dengan membawa sebuah koper besar. Hal itu membuat Nadia segera beranjak dari depan Andre kemudian mendekat kearah Mama Anisa.
"Ini apa, tante?" tanya Nadia dengan tatapan penasaran.
"Oh... Ini alat tempur kita hari ini" seru Mama Anisa dengan antusias.
Nadia yang sudah paham dengan apa yang direncanakan oleh Mama Anisa pun hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Mama Anisa segera membuka kopernya dan terlihatlah beberapa face painting lengkap dengan kostumnya.
Keduanya dengan antusias segera mengambil alat masing-masing dan melukis tanpa aturan diwajah Parno. Dan seperti saat inilah keadaannya, Parno terus memberontak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hal itu membuat cat yang ada di wajahnya tambah tak beraturan dan itu membuat Mama Anisa serta Nadia senang bukan main.
"Bisa diam nggak sih, ku jahit beneran tuh mulut biar tahu rasa" kesal Nadia.
Nadia kesal karena suara Parno yang begitu cempreng membuat telinganya terus berdengung. Apalagi dia menundukkan kepala sehingga mulut Parno bisa tepat didepan telinganya. Mama Anisa hanya menganggukkan kepala menyetujui ucapan Nadia dengan masih terus fokus menyapukan kuasnya.
__ADS_1
Parno pun yang ditegur Nadia, langsung diam saja. Ia masih takut dengan ancaman dua perempuan didekatnya ini. Ingin sekali dirinya mengadu kepada kedua orangtuanya dan menangis meminta bantuan, namun ponsel miliknya disita oleh Nadia.
"Selesai..." seru Mama Anisa dan Nadia secara bersamaan.
Setelah beberapa menit berkutat dengan riasan wajah Parno, akhirnya keduanya menyelesaikan juga rencana yang mereka susun. Mama Anisa segera meminta satpam untuk memakaikan kostum ke tubuh Parno. Mama Anisa mengambil sebuah kostum badut dari kopernya membuat Parno membelalakkan matanya kaget.
"Tante apa-apaan sih? Kalau salah David karena menghina Andre, ya balas saja pakai hina balik. Bukan dengan cara memperlakukan David jadi badut seperti ini" seru Parno tak terima.
"Pilih pakai kostum badut ini atau yang ini?" tanya Mama Anisa dengan seringai liciknya.
Mama Anisa membawa sebuah kostum badut di sebelah tangan kirinya dan jarum beserta benang di tangan kanannya. Ia menunjukkan barang yang dibawanya ke depan wajah Parno dengan mata berkilat sadis. Nadia yang melihat wajah ketakutan Parno pun hanya bisa menahan tawanya.
Parno sudah merasa bergidik ngeri melihat jarum yang berkilat seakan-akan tengah menembus bibirnya. Ia juga merasa ngilu seketika di sekitar area bibirnya. Mama Anisa hanya menganggukkan kepalanya saat tahu jawaban Parno kemudian memberikan kostum itu kepada satpam.
Satpam itu membantu Parno untuk memakai kostum badut itu. Walaupun Parno terus cemberut dan rasanya ingin menangis, namun dia menahannya agar tidak ditertawakan oleh Andre. Bahkan Parno melirik sinis kearah Andre yang tengah tertawa bahagia karena melihatnya dikerjai oleh Mama Anisa dan Nadia.
***
Parno kini tengah berada di taman dekat perumahan tempat tinggal keluarga Farda. Setelah memakai kostum badut yang diberikan oleh Mama Anisa, Nadia segera menarik tangan Parno menuju ke taman. Diikuti oleh Mama Anisa sedangkan satpam membantu Andre masuk kedalam rumah. Mama Anisa tak mengijinkan Andre ikut karena anaknya itu sudah terlalu lama di luar rumah. Nanti Mama Anisa akan memberikan video tentang kejadian di taman itu sehingga takkan membuat Andre penasaran.
__ADS_1
"Hibur anak-anak dan para orangtua yang ada di taman itu. Belikan mereka balon dari pedagang itu, bayar sendiri" perintah Mama Anisa.
Dengan lesu, Parno segera saja menjalankan perintah dari Mama Anisa. Beruntung Parno tadi membawa uang, kalau tidak pasti dia akan dimarahi oleh kedua wanita itu. Ia membeli beberapa balon dan bunga dari penjual yang ada di taman itu. Setelah selesai membeli bunga dan balon, ia segera kembali kearah Mama Anisa dan Nadia.
"Bagus, peka juga kamu. Sekarang kamu hibur mereka, bisa pakai joget-joget atau nyanyi. Terserahlah yang penting mereka terhibur" perintahnya.
Parno pun melakukan tugasnya dengan menghibur orang-orang yang ada di taman itu. Seperti bergoyang dangdut dengan Nadia yang menyalakan musik dari ponselnya. Sedangkan Mama Anisa sibuk merekam kejadian itu dengan kamera yang ada di ponselnya. Mama Anisa dan Nadia menahan tawanya saat seorang nenek-nenek mendekat kemudian ikut bergoyang dengan Parno.
"Ayo, nek. Goyang..." seru Nadia ikut menggoyangkan pinggulnya.
Semua pun ikut berjoget ria dengan Parno yang terus mencoba untuk menghibur semua orang yang ada di taman itu. Namun ada juga yang menangis saat didekati oleh Parno karena cat wajah pada muka laki-laki itu mulai berantakan karena terkena keringat. Parno juga membagi-bagikan bunga dna balon kepada mereka semua.
Karena hari sudah sangat terik, akhirnya Mama Anisa dan Nadia mengakhiri kegiatan di taman itu. Parno diperbolehkan pulang dengan membawa kostum badut. Mama Anisa juga memberikan beberapa wejangan kepada laki-laki itu agar tak mengulangi perbuatannya kembali.
"Parno, saya melakukan ini bukan untuk mempermalukanmu. Tapi saya melakukan ini agar kamu bisa membedakan antara menghina dan menghibur oranglain itu sangat berbeda. Menghina oranglain hanya akan membuat orang yang kamu hina stress bahkan depresi, namun jika kamu menghibur, coba lihat tadi anak-anak dan nenek-nenek tadi. Mereka terlihat tersenyum lepas, bukankah kita sebagai manusia akan bahagia kalau makhluk sesamanya bahagia? Jadi tolong, jangan sekali-kali kau menghina fisik oranglain" ucap Mama Anisa dengan bijak.
"Kalau memang Andre pernah berkata kasar atau melakukan tindakan kekerasan padamu, saya sebagai ibunya meminta maaf kepadamu" lanjutnya.
Mendengar permintaan maaf dan ucapan Mama Anisa membuat Parno sedikit tertohok. Pasalnya selama ini kalau Andre marah atau melakukan kekerasan fisik padanya itu juga karena dirinya yang memulai terlebih dahulu. Parno menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah karena terus membuat masalah dengan Andre. Dia mulai sadar kalau sikapnya sudah keterlaluan.
__ADS_1
Melihat respons Parno yang terdiam dan menunduk, Mama Anisa dan Nadia pergi berlalu dari hadapan laki-laki itu. Mereka berdua berjalan dengan santai dan berharap kalau Parno bisa menyadari kesalahannya sehingga berhenti mengganggu Andre.