
Setelah diperiksa selama 3 jam lamanya, Alice dan Mama Farida ditetapkan sebagai tersangka sedangkan Papa Dion dibebaskan. Walaupun bebas, laki-laki paruh baya itu akan masuk dalam pantau kepolisian pasalnya dikhawatirkan jika nanti ia membantu kedua wanita itu membebaskan diri atau membalas dendam.
Dalam kasus ini memang terbukti bahwa Papa Dion tak ikut terlibat. Bahkan laki-laki paruh baya itu sudah menasehati keduanya namun memang dasarnya mereka kerasa kepala membuat tetap nekat untuk melakukan itu. Papa Dion setelah dibebaskan meminta untuk dikirimkan pakaian dan barang yang ada di desa untuk dipindahkan ke rumah yang ada disini.
Hal ini tentunya disetujui oleh Andre bahkan Papa Reza yang akan membantu secara langsung proses pengirimannya. Walaupun sudah disakiti namun Papa Reza akan tetap membantu orang yang tidak terlibat sama sekali dalam masalah ini.
Alice dan Mama Farida hanya duduk terdiam di sel tahanan dilapisi oleh tikar tipis. Keduanya merenungi kesalahan yang telah mereka perbuat, hanya ada kata andai dalam pikiran mereka saat ini. Yang paling utama adalah andai mereka menuruti ucapan sang kepala keluarga pasti semua ini takkan terjadi. Hanya penyesalan yang kini bisa mereka lakukan sambil menunggu keputusan nasibnya di meja pengadilan nanti.
***
Andre dan Papa Reza memutuskan untuk pergi ke rumah sakit karena hampir 2 hari ini mereka sama sekali tak bertemu dengan keluarganya karena megurus semua masalah ini. Keduanya sudah bisa sedikit bernafas lega karena pelakunya kini telah diamankan oleh pihak berwajib. Setidaknya untuk beberapa saat tak akan ada masalah yang terjadi dalam keluarganya dari pihak luar.
Tak berapa lama mereka berkendara, akhirnya mobil yang mereka kendarai sudah sampai di rumah sakit. Keduanya segera turun kemudian berjalan menuju ruang ICU dimana semua anggota keluarganya masih disana untuk menunggu Nadia. Kondisi si bayi kecil juga sudah lebih membaik bahkan dokter memperkirakan jika esok hari sudah bisa dibawa pulang.
"Anak-anak pada kemana, ma?" tanya Andre pada Mama Anisa yang tengah sendirian duduk didepan ruang ICU.
Mama Anisa langsung membalikkan badannya kemudian memandang dua laki-laki yang dalam dua hari ini tak ia temui. Mama Anisa berdiri kemudian memeluk Andre dan juga Papa Reza untuk menyalurkan sebuah kerinduan.
__ADS_1
"Anak-anak lagi pada makan di kantin sama orangtua Nadia. Kalian sudah makan?" jawab Mama Anisa setelah melepaskan pelukannya dari kedua laki-laki itu.
"Belum, ma" jawab Papa Reza.
"Kalau gitu kalian makan dulu di kantin sana. Jangan sampai kalian sakit karena belum makan" suruh Mama Anisa.
"Gantian aja, ma. Mama temani papa dulu makan biar Andre yang jagain Nadia. Nanti kalau kalian sudah kembali baru lah Andre" ucap Andre.
Kedua orangtua Andre pun hanya menghela nafasnya pasrah saja menuruti kemauan anaknya. Mungkin kini Andre hanya ingin ditinggalkan sendiri bersama dengan Nadia agar bisa meluapkan kerinduan yang beberapa hari ini terpendam. Keduanya akhirnya pergi meninggalkan Andre sendirian di ruang tunggu ruangan ICU.
***
"Hei... Wanita urakan, aku rindu" ucap Andre sambil tersenyum sendu.
Andre berusaha tegar didepan semua orang agar keluarganya juga kuat untuk melewati hal ini, Padahal hatinya saja begitu rapuh tanpa adanya sosok istri yang begitu sempurna didekatnya. Kepalanya ia sandarkan pada pintu ruang ICU itu, tak lama terdengar suara isakan tangis yang begitu memilukan.
“Apakah kamu tak ingin melihat buah hati kita? Setelah ini aku janji takkan membuatmu hamil lagi, aku trauma” ucap Andre dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Akibat kejadian istrinya yang koma setelah melahirkan ini, membuat Andre begitu trauma melihat ibu hamil. Bahkan sejak kemarin ia merasa bersalah ikut andil dalam hal ini. Pendarahan saat akan melahirkan membuat ia berjanji bahwa ini adalah kehamilan terakhir untuk Nadia. Dia takkan sanggup melihat Nadia kesakitan kembali.
Dalam hatinya, ia meminta maaf pada Aleta karena dulu saat melahirkan ketiga anaknya dia sama sekali tak mendampingi wanita itu. Jika ia tahu kalau melahirkan itu bertarung nyawa seperti ini, pasti dia akan selalu mendampingi wanita itu. Namun takdir berkata lain karena kini Aleta sudah tenang dialam sana dan dia hanya bisa meminta maaf dalam do’a.
“Ayo bangun, sayang. Kita harus segera memberi nama bayi laki-laki mungil itu” ucap Andre sambil sedikit terisak.
“Besok dia sudah diperbolehkan pulang lho, kamu nggak mau ikut pulang?” tanyanya.
Andre terus berbicara panjang lebar seakan didepannya ada Nadia yang tengah mendengarkannya. Ia juga tak peduli jika nanti ada orang yang mengiranya gila karena berbicara sendiri. Andre menempelkan kepalanya pada
pintu ruang ICU kemudian menangis tergugu disana.
Tanpa Andre sadari, ada beberapa orang yang sedari tadi mendengar bahkan melihat bagaimana rapuhnya seorang Andre. Bahkan mereka ikut menitikkan air matanya mendengar gumaman Andre yang begitu memilukan. Mereka adalah kedua orangtua, mertua, dan ketiga anaknya. Arnold yang melihat papanya sedih pun langsung melangkahkan kakinya menuju Andre meninggalkan nenek, kakek, dan kedua saudaranya yang juga ikut terisak.
Saat sampai didepan Andre, Arnold menarik jas papanya berulang kali sampai laki-laki itu sadar kalau disana ada orang. Andre langsung menundukkan kepalanya dan melihat Arnold yang menatapnya dengan tatapan polos. Andre langsung saja menghapus air mata yang mengalir pada kedua pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangannya kemudian menggendong Arnold.
“Unda, ihat deh. Papa angis lho gala-gala unda ndak angun-angun. Angun don, angan tidul telus. Ndak egal apa unggungnya tok tidul telus? Becok dek ecil udah ulang, talo unda angun ental Anol yan again dia. Enang aja, unda tukup pelintah-pelintah Anol bial atu yan kelja” ucap Arnold dengan polosnya seperti merayu seseorang.
__ADS_1
Bukannya menenangkan, ucapan Arnold itu membuat semua orang yang ada disana terlarut dalam kesedihan. Mereka meresapi kata demi kata yang Arnold ucapkan membuat semuanya menahan tangis terutama Anara dan Abel. Mereka berdua begitu terpukul atas kejadian ini bahkan selalu menyalahkan diri karena tak berada disamping bundanya saat kecelakaan itu terjadi. Arnold pun juga sama merasakan kehilangan namun ia mencoba tegar untuk saudara-saudaranya.
Setelah mendengar ucapan Arnold, Andre langsung saja memeluk anaknya itu dengan erat sambil terus terisak. Sedangkan Arnold bertingkah layaknya orang dewasa yang menenangkan seseorang dengan mengelus rambut papanya dengan lembut.