
Pagi menjelang shubuh, Nadia sudah dibangunkan oleh Ibu Ratmi untuk mandi dan bergegas ke rumah Nenek Darni. Nadia akan dirias oleh beberapa perias yang sudah disiapkan oleh Mama Anisa disana. Dengan langkah gontai dan masih mengantuk, Nadia berjalan memasuki kamar mandi. Butuh waktu setengah jam untuk dirinya mengumpulkan nyawa dan selesai memmbersihkan diri. Selanjutnya dia menjalankan ibadah sholat shubuh terlebih dahulu sebelum bergegas ke rumah Nenek Darmi.
"Nadia, udah belum. Itu MUA nya sudah nungguin dari tadi, jangan lelet kamu itu" seru Ibu Ratmi.
Nadia yang baru saja selesai melipat mukenanya pun hanya bisa mendengus kesal mendengar teriakan ibunya yang begitu heboh di pagi hari itu. Bahkan dari kemarin, Ibu Ratmi lah yang paling antuasias dan heboh sendiri dengan pernikahan ini, sedangkan Nadia terlihat santai tanpa grasah grusuh.
Ceklek...
Nadia membuka pintunya dan menatap ibunya yang kini tengah berkacak pinggang. Sebelum ibunya itu memberikan ceramah panjang lebar, akhirnya Nadia memutuskan untuk langsung pergi berlalu menuju rumah Nenek Darmi. Ibu Ratmi yang sudah akan mengeluarkan suara indahnya pun mendadak bungkam serta dibuat kesal karena kepergian anaknya dan langsung memutuskan untuk mengikuti anaknya itu dari belakang sambil mengomel.
***
Nadia dirias dengan seorang MUA terkenal yang ada di kota itu, bahkan Mama Anisa rela menggelontorkan budget mahal demi mengubah gadis itu menjadi berbeda di hari bahagianya. Nadia pun menurut tanpa protes, ia duduk tenang dirias oleh MUA walaupun didalam hatinya sudah menggerutu kesal karena terlalu lama.
Setelah hampir 3 jam duduk dirias oleh MUA, akhirnya selesai juga prosesi riasan itu. Ibu Ratmi yang juga sudah siap dengan riasan dan kebayanya, tentunya sangat terkejut dengan perubahan anaknya itu. Ia begitu terharu karena dihari pernikahannya itu Nadia benar-benar manglingi dan tampil anggun dengan kebaya putih serta jariknya.
"Kamu cantik banget, nak" puji Ibu Ratmi sambil terus bengong memandang wajah anaknya itu.
"Ayah sampai terpesona lho sama kecantikan kamu. Andai kamu bukan anak ayah, sudah pasti ayah gebet" goda Ayah Deno.
Nadia hanya terkekeh pelan mendengar ucapan ayahnya yang menggoda dirinya itu, sedangkan Ibu Ratmi sudah cemberut bahkan menganga tak percaya.
"Oh... Jadi lebih cantik Nadia yang sekarang daripada ibu dulu waktu ayah nikahi? Kayanya dulu ayah nggak pernah deh puji ibu cantik saat kita menikah" kesal Ibu Ratmi.
__ADS_1
"Hayoloh... Ayah... Ibu marah tuh, ntar malam tidur diluar. Syukurin..." goda Nadia sambil terkekeh pelan.
Ayah Deno seketika gelagapan melihat wajah Ibu Ratmi yang cemberut. Bahkan kini istrinya itu tengah membuang mukanya dari Ayah Deno. Padahal Ayah Deno niatnya hanya menuji anaknya, namun istrinya yang sensitif langsung saja mengingat kejadian dulu. Sedangkan Nadia hanya bisa tertawa pelan melihat drama rumah tangga didepannya itu. Drama itu membuat Nadia terhibur dan bisa melupakan sedikit kegugupannya sebelum menghadapi akad nikah.
***
Kejadian hampir sama terjadi di kediaman keluarga Farda. Mama Anisa sudah berteriak-teriak kepada suami, anak, dan cucu-cucunya untuk segera mandi padahal waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi. Mama Anisa sudah menggedor-gedor pintu kamar milik Andre, padahal anaknya itu tak tidur disana.
Dugh... Dugh... Dugh...
"Andre... Buka pintunya, cepat bangun" seru Mama Anisa sambil terus menggedor-gedor pintu.
Akibat kesal karena teriakan dan gedorannya seperti tak membuahkan hasil, akhirnya Mama Anisa memutuskan untuk mencoba membuka pintu kamar Andre. Saat pintu terbuka, Mama Anisa mengernyitkan dahinya heran pasalnya kamar anaknya itu seperti tak berpenghuni. Kasur yang masih rapi bahkan lampu yang dimatikan.
"Mama ngapain sih kesini? Mana pakai teriak-teriak lagi. Andre kan tidur sama ketiga cucu kita" ucap Papa Reza tiba-tiba.
"Huh... Papa ngagetin aja sih" terkejut Mama Anisa saat ada seseorang yang berbicara dibelakangnya.
"Kenapa papa nggak bilang sih kalau Andre nggak tidur disini? Mama udah capek-capek mengeluarkan suara emas di pagi hari begini sekaligus tenaga untuk menggedor pintu kamar eh anaknya nggak ada ditempatnya" lanjutnya dengan mencebikkan bibirnya kesal menyalahkan sang suami.
Papa Reza hanya mengelus dadanya sabar ketika istrinya malah menyalahkan dirinya. Salah Mama Anisa juga yang tak bertanya kepadanya bukan? Mama Anisa segera saja berlalu pergi dari kamar Andre menuju kearah kamar ketiga cucunya. Sedangkan Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala kemudian pergi dari kamar Andre yang gelap itu.
***
__ADS_1
"Andre, bangun. Kamu harus mandi lalu siap-siap buat berangkat ke gedung. Kamu masih ingatkan kalau hari ini hari pernikahan kamu?" ucap Mama Anisa sedikit keras sambil menggoyang-goyangkan bahu anaknya itu.
Ketiga cucunya tampak masih tertidur pulas tanpa terganggu dengan kegiatannya membangunkan Andre. Bahkan Andre bukannya bangun, namun malah mengeratkan pelukannya pada Arnold.
"Ndre, mama siram nih pakai air kalau kamu nggak bangun-bangun" kesal Mama Anisa.
Mendengar hal itu tentunya Andre segera bangun dari pura-pura tidurnya. Sebenarnya sedari Mama Anisa masuk kedalam kamar, Andre sudah terbangun namun ia malas untuk turun dari kasur. Ancaman Mama Anisa ini bsia dibilang bukanlah bualan semata.
"Buruan mandi dan bangunkan anak-anakmu" lanjutnya yang langsung pergi dari kamar ketiga cucunya tanpa menunggu jawaban dari Andre.
Setelah mamanya pergi, Andre memutuskan untuk segera membersihkan diri terlebih dahulu sebelum nantinya membangunkan ketiga anaknya.
***
"Enek cama akak ama anget cih andannya" kesal Arnold.
Arnold, Papa Reza, dan Andre kini sudah berada di ruang tamu dengan setelan formal dan warna baju senada dengan calon pengantin. Mereka tengah menunggu Mama Anisa, Abel, dan Anara yang masih dirias oleh beberapa MUA. Sudah satu jam lebih mereka menunggu, namun para perempuan itu sama sekali belum ada yang menampakkan batang hidungnya.
"Sabar, mbu" ucap Andre.
"Cabal... Cabal telus, Anol dali adi udah cabal" gerutu Arnold.
Tak berapa lama, Mama Anisa, Abel, dan Anara berjalan menuju kearah para laki-laki yang sedari tadi sudah menampakkan raut muka kebosanan. Mama Anisa berjalan santai sambil menggandeng kedua tangan cucunya, bahkan beliau datang dengan senyuman manisnya seakan mengejek para laki-laki itu.
__ADS_1
"Dasal wewek, alo andan cukana ama" kesal Arnold yang kemudian bangkit dari duduknya.
Arnold segera keluar dari rumah untuk menuju mobil yang akan membawanya ke gedung tempat papanya melaksanakan pernikahan. Dibelakangnya diikuti oleh Andre, Papa Reza, Mama Anisa, Anara, dan Abel yang hanya bisa terkekeh pelan melihat raut wajah kesal Arnold. Pada akhirnya semua anggota keluarga Farda berangkat menggunakan mobil untuk menuju lokasi pernikahan Andre dan Nadia.