
Nadia langsung saja menyelonong masuk kedalam ruang kepala sekolah itu tanpa mengetuk pintu. Ia sudah dibutakan oleh rasa panik dan khawatirnya karena tiba-tiba dihubungi oleh sopirnya tentang kedua anaknya yang berada di ruang kepala sekolah. Terlebih tadi sopirnya juga berkata bahwa Anara terluka.
Rasanya perjalanan didalam mobil terasa sangat lama karena kepanikannya. Bahkan ia sampai lupa menghubungi suaminya untuk memberitahu apa yang terjadi. Saat mobil sampai di halaman parkir sekolah, Nadia tak melihat keberadaan sopir yang tadi menghubunginya. Sontak saja ia langsung berlari menuju ruang kepala sekolah.
Saat dirinya masuk kedalam ruang kepala sekolah, disana sudah ada kedua anaknya yang saling berpelukan juga sang sopir. Guru-guru, kepala sekolah, dan seorang siswa laki-laki juga berada disana yang kemudian mengalihkan perhatiannya kearah Nadia.
"Anara, itu kenapa pelipisnya diperban?" tanya Nadia saat memperhatikan kondisi anaknya.
Nadia bahkan langsung mendekat kearah keduanya yang menatap sang bunda yang khawatir. Nadia langsung memeluk keduanya dengan erat, yang membuatnya semakin khawatir adalah tubuh Abel yang gemetaran. Nadia dengan paksa melepaskan pelukan keduanya kemudian menatap Abel yang terlihat pucat.
"Sebenarnya ada apa ini, bu?" tanya Nadia pada gurunya.
Nadia terus saja memeluk Abel kemudian membisikkan kalimat penenang tepat pada telinganya sambil menunggu jawaban dari guru yang ada disana. Sebenarnya guru dan kepala sekolah yang ada disana juga kebingungan bagaimana menjelaskannya. Pasalnya sedari tadi yang dimintai keterangan belum ada yang menceritakan apa yang terjadi.
"Kami belum tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, bu. Tadi dua penjaga sekolah kesini dengan membawa anak-anak ini yang berada di gudang" ucap kepala sekolah itu.
Nadia menghela nafasnya, ia harus bisa menetralkan segala kepanikan dan kekhawatiran dalam dirinya. Jangan sampai akibat dia tak bisa mengontrol diri membuat semuanya bertambah kacau. Terlebih saat ini anaknya sedang butuh dukungan dan semangat agar bisa menceritakan kejadian sebenarnya.
"Abel, Anara... Bisa kalian jelaskan kejadian apa yang membuat pelipis kamu terluka seperti ini?" tanya Nadia dengan lembut.
__ADS_1
"Tadi saat aku dan kakak mau pulang, kami mendengar ada suara keributan di gudang. Lalu kami mengintipnya dan mencari tahu, saat mendengar suara seperti pukulan langsung saja kami masuk kedalam. Ternyata disana Dino sudah tergeletak di lantai dengan dia duduk diatas tubuh Dino" ucap Anara dengan sedikit terisak.
"Saat dia melihat kami, dia langsung saja menarik tangan Anara agar kami tak mengadukan kejadian ini. Kak Abel langsung berlari keluar mencari pertolongan dan datanglah penjaga sekolah yang menyelamatkan kami. Kalau soal pelipis yang terluka ini karena dia mendorong Anara sehingga terkantuk meja. Dia ingin kabur tapi Anara tarik tangannya dan dia langsung mendorong aku" lanjutnya mengadu dengan mengerucutkan bibirnya.
Semua mata langsung menatap kearah siswa laki-laki yang sedari tadi diam. Siswa laki-laki itu bahkan dengan angkuhnya duduk dengan melipat kedua kakinya sambil menatap lurus kedepan. Saat semua orang menatap kearahnya, diam-diam ia menghela nafas pasrahnya.
"Kenapa? Mau panggil orangtua, silahkan saja. Lagi pula apa yang diceritakan oleh dia memang benar adanya" ucap siswa itu tak membantah.
Semua guru hanya bisa menatap siswa itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan guru disana awalnya sudah menduga jika disini yang salah adalah siswa laki-laki yang bernama Fikri itu. Fikri memang dikenal sebagai siswa nakal dan terkesan berani melawan guru-guru disini.
Orangtua Fikri yang dipanggil untuk datang ke sekolah pun tak pernah menggubris surat panggilan dari sekolah. Hal ini membuat pihak sekolah hanya bisa pasrah saja.
"Kenapa kamu sampai dorong Abel dan memukul Dino, nak?" tanya Nadia dengan lembut.
Fikri tertegun dengan sikap lembut yang ditujukan Nadia kepadanya. Biasanya guru ataupun orangtuanya yang menghadapinya langsung memarahi bahkan membentaknya. Fikri menatap mata Nadia yang terpancar sebuah ketulusan.
"Dino nggak mau kerjain PR aku lagi padahal dia yang meminta pekerjaan padaku demi dapat uang bayaran" ucap Fikri mengadu.
Memang benar jika semua tugas yang diberikan sekolah akan langsung dikerjakan oleh Dino. Ia tak mengerjakan tugasnya sendiri karena Dino yang memintanya dengan catatan Fikri harus membayarnya. Fikri juga sudah memberikan bayarannya namun Dino tetap tak mau melaksanakan tugasnya.
__ADS_1
Semuanya tentu terkejut dengan pernyataan dari Fikri. Pihak sekolah bahkan baru tahu kalau selama ini yang mengerjakan tugas Fikri adalah Dino. Namun mereka juga tak bisa menyalahkan Fikri sepenuhnya karena ia tidak salah sepenuhnya.
"Nak, kalau kamu memang mau membantu temanmu maka bantulah. Tapi jangan sampai memberinya pekerjaan dengan mengerjakan tugas sekolahmu, nak" ucap Nadia menasehati.
Fikri yang dinasehati dengan lembut pun terkesan kemudian tanpa sadar memeluknya dengan erat. Fikri menumpahkan air matanya di pelukannya dengan wanita yang ia sebut sebagai bidadari. Bahkan didekat wanita itu, ia merasa nyaman bahkan merasa aman. Awalnya Nadia terkejut dengan tindakan dari Fikri namun tak lama ia membalas pelukan bocah laki-laki itu dengan erat.
"Tante mau nggak jadi bundaku aja?" tanya Fikri dengan polosnya.
"Enak aja... Nggak boleh" seru Anara yang tiba-tiba berdiri.
Anara bangkit dari duduknya kemudian mendekat kearah sang bunda. Tangan Nadia ditariknya oleh Anara dengan erat hingga pelukan itu terlepas. Fikri yang merasa kehilangan tentunya menatap sendu kearah Nadia. Anara menatap permusuhan kearah Fikri, namun Nadia langsung saja menghadap anaknya itu.
"Anara harus baik sama temannya ya" ucap Nadia.
Anara mencebikkan bibirnya kesal karena merasa Nadia lebih membela Fikri. Namun Nadia langsung menggendong anaknya itu kemudian mendudukkan dirinya disamping Fikri. Pihak sekolah melihat adegan yang begitu menohok hati pasalnya selama ini mereka tak pernah menasehati terlebih dahulu melainkan menyalahkan sang pelaku secara langsung.
"Saya rasa ini masalah bisa diselesaikan dengan baik-baik, bu. Cukuplah diberi pengertian saja bahwa membatu teman tak harus dengan menggantikannya mengerjakan kewajibannya. Mungkin juga pihak sekolah melakukan mediasi dengan orangtua Fikri agar anaknya bisa diperhatikan lagi" ucap Nadia dengan lembut.
Nadia menatap lembut kearah Fikri yang bahkan kini menggandeng lengannya erat. Nadia tak tahu apa yang terjadi dengan Fikri pada lingkungan keluarga dan sekolahnya, namun jika dilihat sekilas ada rasa sakit yang tak bisa dijelaskan pada pandangan matanya. Pihak sekolah menganggukkan kepalanya, memang benar jika mereka harus lah lebih memperhatikan anak-anak yang sering berbuat onar yang mungkin saja sedang ada masalah di luar.
__ADS_1