
Andre tetap bergeming walaupun Nadia sudah mengomelinya. Tangannya sibuk dengan keyboard laptop yang ada ditangannya dan matanya tetap fokus pada layar didepannya. Nadia melotot tak terima melihat cueknya Andre seperti ini bahkan omongannya seperti dianggap angin lalu.
Nadia memutuskan untuk duduk didepan meja kerja Andre. Matanya menatap lurus suaminya membuat Andre merasa tak nyaman karena pekerjaannya harus lah butuh tingkat kefokusan yang tinggi. Tiba-tiba saja Andre mendenguskan nafasnya kasar.
"Keluar dulu, aku masih harus mengerjakan ini. Aku sedang tak ingin ribut malam-malam. Lebih baik kamu istirahat, kita selesaikan masalah ini besok" ucap Andre dengan nada datarnya.
Mendengar nada datar dari ucapan suaminya itu seketika mengingatkan Nadia pada sikap Andre dulu saat awal-awal bertemu dengannya. Namun bukan Nadia namanya kalau terlalu larut dalam masa lalu, ia kini malah menyandarkan tubuhnya di kursi kemudian memejamkan matanya.
"Tak baik kalau tidur dalam keadaan masalah belum selesai. Lebih baik selesaikan dulu masalahnya baru tidur" ucap Nadia dengan santai.
Padahal sedari awal mereka selalu melakukan diskusi atau hanya sekedar berbincang seru mengenai kegiatan harian sebelum tidur. Hal ini lah yang selama ini Nadia pegang agar hubungamnya dengan Andre semakin membaik. Terutama masalah anak-anak yang memang membutuhkan waktu panjang untuk penyelesaiannya.
Namun saat mendengar nada malas dan wajah Andre yang terlihat mengesalkan membuatnya ingin sekali memukul kepalanya itu. Ia ingin Andre segera sadar sebelum semuanya menjadi berantakan. Padahal selama ini dirinya tak pernah macam-macam di luar namun baru bertemu dengan Parno satu kali saja sudah begini.
Ia akui perubahan Parno yang begitu drastis itu membuatnya terkejut, namun itu tak serta merta bisa membuatnya tertarik. Ia masih lah mencintai suaminya walaupun sekarang perutnya jadi sedikit lebih buncit atau bahkan badannya tambah berisi daripada dulu sebelum menikah dengannya.
"Mas, kamu insecure karena lihat perubahan Parno ya? Makanya kamu insecure dibalut rasa cemburu" ucapnya sambil terkekeh geli.
__ADS_1
Walaupun ucapannya sama sekali tak digubris oleh Andre, namun Nadia tetap saja terus menyerocos. Lagi pula dengan itu nanti ia yakin bisa tahu tentang sebenarnya alasan suaminya itu marah-marah. Tanpa Nadia sadari, saat istrinya itu menyebut nama Parno membuat kedua tangannya mengepal erat. Sepertinya Andre sudah mulai terpancing dengan ucapan yang dilontarkan Nadia.
"Tahu nggak mas? Mau kamu seperti apa dan dia berubah jadi superman atau wonder woman sekali pun, rasa cintaku ini hanya buat kamu. Siapa pun yang lebih sempurna, aku hanya akan tetap memilih kamu" ucapnya dengan sedikit menggombal.
Nadia sendiri hanya bisa terkekeh geli mendengar dirinya menggombali suaminya. Padahal dulu saat masih dekat dengan Andre dia tanpa malu menggombali suaminya itu. Namun saat sudah menikah malah terkadang dia yang malu sendiri. Lagi pula apa yang dikatakannya ini bukan lah sebuah gombalan semata.
Andre tersenyum tipis mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya itu. Walaupun mungkin jika oranglain menganggapnya aneh karena begitu bahagia dengan gombalan istrinya, ia takkan terpengaruh. Diam-diam Nadia memperhatikan ekspresi suaminya yang mulai berubah jadi santai.
"Nah... Gitu dong senyum, masa iya memberengut mulu. Ntar tambah tua terus kerutan banyak, istrimu ini bisa cari sugar daddy lho" ucap Nadia menggoda sambil menaikturunkan alisnya.
Andre yang sudah mulai bahagia kini dibuat drop lagi oleh istrinya itu. Andre langsung saja bangkit dari duduknya kemudian mendekat kearah sang istri. Bahkan kini kedua tangannya ia letakkan di kanan dan kiri tubuh Nadia memegangi kursi yang diduduki oleh istrinya itu. Posisi Nadia yang terkungkung oleh Andre itu tak membuatnya takut malah ia mengalungkan kedua tangannya di leher Andre.
Perbuatan Andre ini membuat tubuh Nadia meremang. Apalagi suara serak basah suaminya yang terdengar begitu laki banget membuatnya selalu terpesona. Bahkan kini keduanya saling bertatapan hingga wajah mereka semakin mendekat. Namun saat kegiatan itu hendak berlangsung, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya dibuka secara kasar.
Brakkk...
Keduanya sontak saja kaget kemudian menghentikan kegiatannya yang baru akan dimulai. Keduanya segera mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa orang dengan lancangnya membuka pintu ruang kerja Andre begitu kerasnya. Seketika keduanya salah tingkah kemudian saling menjauhkan tubuhnya saat melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Wooo... Talian tetahuan, belduaan ndak ajak-ajak" ucap Alan sambil menirukan sebuah lirik lagi.
Yang datang itu adalah Alan. Tadi saat Alan sudah tertidur namun terbangun karena merasakan tak ada sang bunda disampingnya, ia segera saja mencari keberadaan Nadia. Sedangkan Arnold memang sudah tidur dengan pulasnya sehingga tak tahu kalau adiknya itu pergi. Saat Alan keluar dari kamar, ia mendengar samar-samar suara orang sedang berbincang dari ruang kerja papanya.
Ia pun segera mencari tahu siapa orang yang berada didalam ruangan itu. Sesampainya didepan ruangan itu, Alan mengintip dibalik celah pintu yang tak sepenuhnya tertutup itu. Matanya membulat saat tahu bahwa bundanya tengah ditekan oleh papanya hingga tak bisa bergerak. Tanpa basa-basi dirinya langsung saja membuka pintu itu dengan sekuat tenaga membuatnya menimbulkan suara keras.
"Napa talian belduaan dicini? Belduaan ndak aik lho, anti talo iba-iba ada cetan ewat imana?" tanyanya dengan berkacak pinggang.
"Setannya ya kamu itu" gumam Andre pelan.
Nadia yang mendengar gumaman suaminya itu pun mendelik kesal karena anaknya dibilang setan. Sedangkan Andre langsung pura-pura mengalihkan pandangannya agar tak mendapatkan pelototan maut dari sang istri. Nadia segera mendekat kearah sang anak yang masih berkacak pinggang itu kemudian berjongkok didepannya.
"Adek ngapain disini? Bukannya tadi adek sudah tidur ya" tanya Nadia mengalihkan pembicaraan.
"Alan agi meldokin unda dan papa yang tetemu iam-iam. Adi cudah Alan ilang tan talo ndak oleh tetemu papa ulu. Anti di malah-malahin balu tau lasa" kesal Alan seakan memarahi Nadia.
Nadia meringis sambil menepuk keningnya. Anaknya ini benar-benar tak bisa melihat situasi kalau Nadia sedang berusaha menyadarkan Andre tentang sikap dan sifatnya. Andre yang mendengar hal itu tentunya merasa bersalah karena anaknya lagi-lagi harus melihatnya marah-marah. Andre segera berjalan mendekat kearah Alan yang masih menatap permusuhan kearahnya.
__ADS_1
"Papa talo mau malah-malah cama Alan aja. Angan cama unda atau abang dan kakak, meleka unya tlauma di entak-entak" ucapnya dengan berani melawan Andre.
Nadia begitu terharu dengan apa yang dilakukan oleh Alan. Demi melindungi abang dan kakaknya yang memang punya trauma akan kisah masa lalu langsung saja mengorbankan dirinya. Bahkan ia rela jika harus dimarahi atau dibentak oleh papanya dibandingkan harus melihat saudaranya sakit.