Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Hasil


__ADS_3

"Abang, tadi gimana test nya? Abang bisa nggak ngerjainnya?" tanya Nadia dengan lembut.


Tadi setelah pulang dari sekolah untuk mengantar Arnold test masuk, Nadia segera saja meletakkan Alan di kamarnya. Setelah memastikan Alan tidur, ia segera saja berganti baju. Setelah selesai memakai pakaian santainya, ia keluar untuk duduk di ruang keluarga yang ternyata sudah ada Arnold disana.


Mama Anisa sedang pergi ke butiknya setelah menurunkan mereka di halaman rumah. Sedangkan Arnold tadi langsung masuk kamar kemudian berganti pakaian santai.


Mendengar ada orang yang duduk disampingnya bahkan menanyakan tentang test masuk sekolah, Arnold segera mengalihkan pandangannya dari TV. Arnold tersenyum melihat bundanya yang menatapnya dengan lembut.


"Bisa, bunda. Cuma tadi memang Arnold sengaja buat keluar terakhir untuk memastikan kalau jawabannya sudah benar. Eh... Lagi asyik memeriksa jawaban sudah ada Alan didepan ruangan" ucap Arnold sambil terkekeh pelan.


"Maafkan adikmu yang usil itu ya" ucap Nadia yang juga ikut tertawa kecil.


Arnold merebahkan kepalanya di paha sang bunda yang kemudian Nadia mengelus lembut rambutnya. Tak biasanya Arnold bermanja ria begini dengannya membuatnya begitu bahagia. Saat ada Alan, pasti Arnold memilih mengalah dan tak mau dekat dengan yang dewasa.


"Semoga hasil test masuknya memuaskan ya. Kalau pun tidak, kami takkan marah. Kita bisa cari sekolah lainnya" ucap Nadia sambil tersenyum.


Arnold bahagia mendengarnya, bundanya itu tak selalu menuntutnya menjadi yang pertama atau terbaik dalam pendidikannya. Yang terpenting bagi Nadia adalah anak-anaknya nyaman melakukan kegiatannya selama ini. Lagi pula pendidikan di rumah juga mereka utamakan untuk membentuk karakter anak-anak itu sendiri.


"Makasih bunda, sudah baik dalam mendidik abang juga kakak-kakak. Walaupun kami bukan lah anak kandung bunda, tapi tak pernah sekali pun membeda-bedakannya dari Alan. Kami bahagia bisa mempunyai ibu seperti bunda" ucap Arnold dengan mata berkaca-kaca.


Selama ini Nadia terus saja mendidik bahkan memperlakukan semua anaknya sama. Entah itu yang keluar dari rahimnya sendiri atau bukan. Bahkan jika memang Alan yang salah, ia takkan membelanya. Arnold begitu salut dengan kebaikan hati dan keteguhannya dalam menerima anak dari suaminya.


Nadia menatap Arnold yang kini sudah melunvurkan air mata di kedua pipinya. Nadia langsung menghapusnya kemudian mengubah posisi Arnold menjadi duduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Bunda juga sangat beruntung mempunyai kalian. Tanpa kalian, mungkin bunda nggak akan ketemu papa terus bisa mendampingi anak-anak baik seperti abang dan kakak-kakak" ucap Nadia dengan nada suara serak.


Nadia begitu sesak dalam dadanya saat mendengar ucapan terimakasih dari anaknya itu. Ingin rasanya ia menangis karena rasa sayangnya yang teramat pada mereka, namun ia tak mau membuat Arnold jadi khawatir. Nadia hanya bisa memeluk erat Arnold sambil menyembunyikan isakan lirihnya.


"Janji ya kita akan selalu sama-sama. Bunda akan dampingi dan jaga kalian sampai sukses" lanjutnya berharap.


Arnold sudah tak menjawab lagi ucapan bundanya. Ia membalas pelukan bundanya itu dengan erat. Rasa nyaman dan hangat begitu terasa, tempat ternyamannya untuk mengadu segala rasa sakit yang selama ini ia rasa. Arnold berjanji dalam hatinya untuk menjaga malaikat yang ada dipelukannya ini dengan segenap hati dan nyawanya sendiri.


***


Selang dua hari setelah test masuk sekolah dilaksanakan, hari ini merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua calon murid dan orangtua. Dari 1200 pendaftar yang melakukan test, hanya ada 80 siswa saja yang diterima.


Dilihat dari jumlah yang diterima saja rasanya tak adil bahkan perbandingannya begitu mencolok. Namun sekolah melakukan ini agar dapat menyaring bibit-bibit unggul yang tak hanya pintar dalam akademis saja namun bakatnya juga. Terlihat bahwa soal yang diajukan bukan hanya tentang materi akademik, umum, dan pengetahuan bakat minat.


Arnold didampingi Nilam, Alan, dan Nadia yang akan memantau hasilnya. Arnold dan Nilam begitu gugup bahkan kadang langsung memeluk Nadia karena rasa takut yang tiba-tiba mendera.


"Angan akut, agi ula talian cudah belajal. Pelcaya cama Allah bial dibelikan hacil yan aik" ucap Alan dengan bijak.


Bahkan sedari tadi Alan sudah jengah melihat Arnold dan Nilam yang memeluk bundanya. Ia juga ingin berada di posisi itu namun dirinya menyadari kalau Arnold dan Nilam sangat membutuhkan Nadia untuk menenangkannya.


"Kamu kan belum pernah ngerasain nglakuin test gini jadi ya nggak tahu gimana rasa gugupnya" ucap Arnold sinis.


"Wooo... Olang dibelitahu tok ditu. Talo ndak lolos belalti belajalna belum benal dan elum lejekin" ucap Alan dengan menatap sinis kearah kakaknya.

__ADS_1


Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan Alan yang ada benarnya. Tapi melihat wajah bocah kecil itu yang berasa ingin mengajak berantem tentunya tak cocok dengan ucapannya.


"Sudah, ayo kita cek. Sudah waktunya ini" ucap Nadia menghentikan pertengkaran mereka.


Nilam dan Arnold menganggukkan kepalanya bahkan mereka menyembunyikan wajahnya di lengan Nadia. Nadia lah yang mengotak-atik sambil terus mencari nama keduanya. Mata Nadia membulat bahkan matanya berkaca-kaca melihat apa yang ada didepannya.


"Unda napa tok tayak mau angis? Bang Anol dan kak Ilam ndak lolos ya?" tanya Alan penasaran.


Bahkan Arnold dan Nilam yang tadi menyembunyikan wajahnya langsung mengangkat kepalanya. Mereka menatap Nadia dengan pandangan penasaran dan menuntut. Mereka takut jika nanti apa yang diucapkan oleh Alan itu benar adanya.


"Kalian berdua lolos. Bahkan abang dan kak Nilam nih lho nilai test nya dapat ranking pertama dan ke dua" ucap Nadia dengan mata berkaca-kaca.


Keduanya menatap tak percaya kearah Nadia bahkam langsung melihat pada layar laptop yang menampilkan nama mereka. Keduanya sontak saja memeluk Nadia karena begitu bahagia dengan apa yang dilihatnya dan dengar hari ini.


"Wah... Abang tama kak Ilam pintal. Bica lolos test" seru Alan sambil bertepuk tangan riang.


"Selamat abang, kakak. Semoga betah nanti di sekolahnya" ucap Nadia.


Keduanya menganggukkan kepalanya dengan isakan lirih tercipta diantara pelukannya dengan Nadia. Sebenarnya keduanya hanya takut mengecewakan orangtua saja jika memang tak lolos dalam test ini. Alan pun mendekat kearah mereka kemudian memeluknya dengan erat.


"Kalian anak-anak bunda yang hebat dan sukses" ucap Nadia sambil mengecup pucuk kepala ketiganya secara bergantian.


Walaupun hanya hasil test masuk yang biasa dirasakan oleh orangtua pada umumnya namun bagi Nadia ini sungguh berbeda. Saat Anara dan Abel memasuki SD, dirinya sama sekali tak ikut andil karena sedang koma. Jadi saat ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi saksi anaknya diterima sekolah melalui test.

__ADS_1


__ADS_2