
Arnold sudah bangun dari tidurnya, namun ia kini terus menempel pada sang bunda. Bahkan ia ingin selalu digendong kemana pun oleh bundanya itu. Dalam mode manja ini, Arnold sama sekali belum bicara apapun. Hal ini membuat ketiga saudaranya cemburu, terutama Alan. Sedangkan Fikri dan Nilam hanya memperhatikan keributan yang terjadi antar bersaudara yang memperebutkan Nadia itu.
"Bang Anol angan ekat-ekat engan unda telus don. Tan Alan uga ngin cama unda" bujuk Alan.
Namun Arnold tetap diam bahkan menempel bak koala pada Nadia. Ia juga memeluk erat leher bundanya itu seperti meminta suatu perlindungan. Nadia hanya bisa mengelus punggung anaknya dengan lembut agar bisa menenangkannya. Nadia dan Mama Anisa sudah bisa mengerti dan memaklumi keadaan anak laki-lakinya itu.
"Wowok ndak oleh anja" kesalnya.
Alan yang merasa tak mendapatkan respons dari kakaknya itu pun kesal bukan main. Bahkan ia langsung saja meledek kakaknya itu dengan manja. Tak ingin jika nanti cucunya malah membuat Arnold kehilangan mood, Mama Anisa langsung menggendong Alan.
"Udah sini biar nenek yang gendong Alan. Gendongan nenek juga nggak kalah nyamannya kok dari bunda" ucap Mama Anisa sambil menepuk-nepuk punggung cucunya itu. Namun Alan ternyata memberontak untuk segera diturunkan membuat Mama Anisa sedikit kuwalahan. Akhirnya daripada cucunya itu terjatuh, Mama Anisa menurunkan Alan dari gendongannya.
"Nek, Alan udah becal. Angan endong-endong Alan agi" ucap Alan sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Bahkan kini bibirnya sudah mengerucut kesal karena tadi digendong oleh neneknya. Mama Anisa menahan tawanya saat cucunya itu mengatakan kalau dirinya sudah besar. Kalau sudah besar mengapa juga tadi iri dengan Arnold yang lebih dekat dengan bundanya.
"Dih... Udah besar kok masih ingin dekat-dekat sama bundanya" ledek Mama Anisa.
Alan kesal karena diledek oleh sang nenek sehingga memilih untuk pergi menghindar dari Mama Anisa. Ia lebih memilih untuk duduk didekat Fikri dan Nilam yang sedari tadi diam. Sedangkan Anara dan Abel duduk dekat dengan Nadia sambil kepalanya dielus bergantian oleh bundanya itu.
"Cemuana ada anja ama unda. Tok ndak ada yan mau anja-anjaan cama Alan cih" gerutu Alan.
__ADS_1
Fikri dan Nilam yang ada disampingnya pun ingin sekali menyemburkan tawanya mendengar gerutuan Alan itu. Darimana bisa mereka akan bermanjaan dengan bocah laki-laki yang usianya belum genap dua tahun itu. Yang ada nanti malah sebaliknya. Alan yang melihat Fikri yang sepertinya meremehkannya pun langsung berdiri dari duduknya kemudian menatap menyelidik kearah teman kakaknya itu.
"Kak Ikli napa tawa-tawa? Pati edek Alan ya? Hayo aku" seru Alan menuduh Fikri.
"Enggak ya, mana ada kak Fikri ngledek Alan. Tuh Nilam juga ketawa kok nggak dituduh" ucap Fikri tak terima.
Semua orang disana hanya memperhatikan perdebatan antara Alan dan Fikri saja. Alan yang terlalu aktif itu sebenarnya hanya ingin cari perhatian dan teman untuk berbicara saja. Sebenarnya ia tak terlalu mempedulikan kakaknya yang sedang manja dengan bundanya, hanya saja semenjak Arnold sakit semua orang jadi tak bersemangat untuk bermain dengannya.
"Talo kak Ilam ndak apa, dia kan antik. Olang antik mah ebas ndak ucah dimalah-malahin" ucap Alan sambil geleng-geleng kepala.
Nilam tersipu malu mendengar pujian yang dilayangkan oleh Alan, hal ini membuat semua orang geleng-geleng kepala. Sedangkan Fikri tak terima jika orang cantik tak bisa dituduh. Dasar Alan memang suka pilih-pilih mau membela siapa.
"Kak Fikri juga tampan harusnya bisa dong nggak dimarahin atau dituduh gitu" protes Fikri.
Astaga... Mama Anisa dan Nadia hanya bisa menatap tak percaya pada Alan yang kini begitu percaya diri dan narsis. Bahkan Fikri pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia begitu kesal dengan ucapan Alan namun begitu lucu melihat sikap adik barunya ini.
"Kamu itu memang tampan, tapi sayang ketampanannya masih berkurang karena masih pakai popok" ledek Fikri sambil tertawa.
Bahkan semua juga tertawa mendengar ledekan dari Fikri itu membuat Alan kesal. Kini Alan langsung saja duduk menyendiri didepan TV melihat acara kartun di layar besar itu. Semua orang tak ada yang mau membela dan mengakui ketampanannya terlebih Fikri yang meledeknya masih memakai popok.
"Wawas aja kak Ikli ntal, talo Alan udah becal pasti akan auh ebih ampanan atu" seru Alan menggerutu.
__ADS_1
***
"Selamat siang semuanya..." seru seseorang yang baru saja pulang dari urusannya di luar.
Semua orang yang tadinya sibuk dengan kegiatannya masing-masing di ruang keluarga itu pun langsung mengalihkan perhatiannya kearah orang yang datang. Terlihat disana ada Nenek Hulim diikuti oleh Papa Reza, Andre, dan Papa Nilam berjalan masuk menuju ruang keluarga.
Melihat wajah penuh kelegaan pada keluarganya, tentu membuat Nadia dan Mama Anisa berpikir kalau ada sesuatu kabar baik yang segera menghampiri mereka. Setelah keempatnya duduk, Alan yang tadi fokus menatap acara TV langsung saja bangkit berdiri menuju kearah Nenek Hulim.
"Nek, awa oleh-oleh ndak?" tanya Alan dengan tatapan penasaran.
Nenek Hulim menganggukkan kepalanya kemudian menyerahkan satu kantong plastik berukuran sedang untuk diberikan kepada Alan. Beruntung tadi ia sempat mampir ke supermarket untuk membeli minum sehingga sekalian mencari beberapa cemilan untuk anak-anak. Andre dan Nadia merasa tak enak kepada Nenek Hulim karena Alan yang malah meminta oleh-oleh. Namun Nenek Hulim mengisyaratkan untuk tak usah menegur Alan dengan menggelengkan kepalanya.
Bahkan setelah mendapatkan satu kantong plastik berisi cemilan, Alan langsung saja duduk menjauh dari semua saudaranya dan Fikri juga Nilam. Fikri yang melihat itu langsung berjalan mendekat kearah Alan kemudian duduk disampingnya.
"Alan, bagi dong" ucap Fikri dengan menengadahkan kedua tangannya.
"Ndak bica. Ini oleh-oleh uma uat yan acih pate opok. Kak Ikli kan udak ndak pate opok adi ndak oleh inta" ucap Alan meledek.
Sepertinya Alan mulai pembalasannya karena tadi telah diledek oleh Fikri. Wajah Fikri langsung muram saat Alan tak mau berbagi makanan dengannya. Sedangkan Nenek Nilam, Andre, Papa Reza, dan Papa Nilam yang tak tahu apa-apa mengenai permasalahan sebelumnya hanya menatap penasaran kearah mereka.
"Cana inta unda uat patein opok ulu. Anti kecini agi Alan acih akanan" ucap Alan dengan santainya membuka beberapa bungkus snack.
__ADS_1
Para orang dewasa yang mengerti ucapan Alan pun hanya bisa menahan tawanya saat Alan menyuruh Fikri memakai popok seperti dirinya agar mendapatkan cemilan sepertinya. Kelucuan Alan ini lah yang membuat suasana di rumah keluarga Farda itu selalu hidup walaupun banyak masalah menghampiri.