Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Damai


__ADS_3

"Benar dengan apa yang dikatakan oleh cucuku, aku bukan seorang Tuhan yang bisa kau berlutut seperti ini untuk meminta maaf. Minta maaflah pada ibumu itu" ucap Papa Reza dengan tegasnya.


Febri menatap kearah Papa Reza yang memandangnya begitu intens. Bahkan terlihat sekali jika Papa Reza begitu menginginkan dirinya untuk langsung meminta maaf pada ibunya bukan dia. Padahal niat Febri awal ingin melakukan ini karena meminta ijin dulu pada Papa Reza agar diijinkan mendekati Nenek Darmi.


"Aku hanya ingin minta ijin agar diberikan kesempatan untuk merawat ibu. Apalagi selama ini abang yang selalu ada untuk beliau maka aku harus ijin dulu" ucap Febri dengan tatapan sendu.


"Nemangna mau belangkat cekolah pate ijin bulu?" tanya Alan menatap heran pada Arnold.


"Mungkin paman itu mau ijin belajar menghargai dan menghormati orangtua sekalian minta uang saku" ucap Arnold acuh.


Papa Reza menahan tawanya sedangkan Febri kini langsung saja berdiri kemudian berjalan kearah Nenek Darmi. Sedari tadi mentalnya sudah dijatuhkan oleh Alan dan Arnold membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Terlebih ucapan kedua bocah kecil itu sudah seperti orang dewasa yang pintar dalam mengajari sesuatu.


Papa Reza segera menggandeng tangan kedua cucunya itu untuk ikut duduk disana. Namun mereka langsung berdiri disamping kanan dan kiri Nenek Darmi. Mereka akan menilai tentang ketulusan dari Febri yang tengah minta maaf pada Nenek Darmi.


"Maafkan aku, bu. Kasih Febri kesempatan untuk merawat ibu. Apapun akan Febri lakukan agar bisa mendapatkan maaf dari ibu" ucap Febri dengan bersungguh-sungguh.


"Angan epat pelcaya, nek. Momongan aki-aki itu tebanyatan bulcit" ucap Alan mencoba mempengaruhi Nenek Darmi.

__ADS_1


Sontak saja Papa Reza menatap cucunya itu. Apa cucunya itu tak sadar kalau dirinya juga laki-laki namun bisa-bisanya malah mengucapkan hal itu. Sedangkan Nenek Darmi menahan tawanya hingga kini air mata tiba-tiba terjatuh dari matanya. Ia bukan menangis sedih namun rasanya ingin tertawa namun harus ditahan karena suasana tak mendukung.


"Jangan jadi setan. Jadi malaikat yang mempengaruhi hal baik, kamu juga laki-laki kalau anda lupa" ucap Febri kesal.


"Cetan tok nomong cetan. Agian Alan itu ya atan etap adi Alan mana bica adi malaitat. Alan ndak lupa talo aki-aki, api aku dalah ontoh aki yan jujul" ucap Alan menatap sinis kearah Febri.


"Sudah... Sudah... Kok kalian malah berdebat ini. Sebenarnya kamu pulang kesini punya tujuan apa, Feb? Puluhan tahun kamu nggak menengok ibu. Apa kamu ingin warisan yang ibu punya? Karena tahu sebentar lagi mungkin ibumu ini akan mati" ucap Nenek Darmi dengan serius.


Semuanya tersentak kaget dengan ucapan Nenek Darmi. Bahkan Nadia langsung menarik anak-anaknya agar menjauh dari sana walaupun tadi sempat memberontak. Ia tak ingin anak-anaknya mendengar tentang perebutan harta atau apapun itu urusan dewasa. Sedangkan Papa Reza langsung berjalan mendekat kearah Nenek Darmi.


Febri menatap tak percaya kearah Nenek Darmi yang kini memandangnya dengan tajam. Papa Reza juga menatap kearah Febri dengan intens. Jangan sampai pikiran dari Nenek Darmi itu benar adanya kalau Febri dan keluarganya kembali karena ada sangkut pautnya dengan warisan wanita tua itu.


"Iya, nek. Benar apa yang dikatakan oleh ayah. Kami memang meminta mereka untuk di rumah saja, namun keduanya malah ingin kesini merawat nenek" ucap salah satu anak Febri membela ayahnya.


"Jangan pula ibu ngomong tentang kematian seperti itu. Febri nggak suka, kematian itu sudah ditentukan oleh Allah jangan mendahuluinya. Maafkan atas sikapku dulu yang malah meninggalkan ibu sendirian" ucap Febri dengan tatapan bersalah.


Tanpa aba-aba Nenek Darmi segera memeluk anaknya yang masih berlutut didepannya ini. Nenek Darmi dan Febri menangis tersedu-sedu untuk menghilangkan segala rasa sesak yang ada di dada. Rasa rindu begitu membuncah hingga hanya bisa mereka ungkapkan dengan sebuah pelukan erat.

__ADS_1


"Yah... Dlamana ndak celu, macak epat cekali mamapanna" ucap Alan mengerucutkan bibirnya kesal.


Nenek Darmi dan Febri sontak saja tertawa mendengar gerutuan dari Alan itu. Ternyata bagi anak kecil itu apa yang dilihatnya tadi merupakan sebuah tontonan seru walaupun ia tak tahu dengan yang dibicarakan. Nenek Darmi memberi kode pada Papa Reza agar tangannya memegang dirinya.


"Kalian berdua anak-anak ibu. Semoga kelak kalian bisa saling menjaga agar tak ada yang salah jalan. Terutama saat ibu nanti sudah tiada. Walaupun ibu bukanlah ibu kandungmu, aku harap kamu bisa menjaga Febri kelak. Kalau memang Febri salah jalan tolong tegur dan nasihati dia" ucap Nenek Darmi sambil tersenyum.


Papa Reza tak mengatakan apapun karena dia begitu terharu sudah dianggap sebagai anak kandung oleh Nenek Darmi. Bahkan kini tangannya sudah dikaitkan dengan tangan Febri yang juga begitu terharu atas apa yang diucapkan ibunya. Walaupun sudah dikecewakan namun Febri masih merasakan kasih sayang begitu besar dari ibunya itu. Kini Febri dan Papa Reza langsung memeluk Nenek Darmi dengan begitu eratnya.


"Terimakasih bu sudah memaafkan aku. Setelah ini Febri janji akan menjaga dan membahagiakan ibu" ucap Febri begitu tulus.


Nenek Darmi hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia masih terisak dalam pelukan kedua anaknya yang begitu ia sayangi. Hari ini dirinya begitu bahagia dengan hadirnya sang anak kandung yang sudah lama tak ia temui. Ternyata pikirannya yang melalang buana tentang anaknya tadi merupakan firasat bahwa ia akan bertemu dnegan Febri.


Mereka bertiga segera melepaskan pelukannya setelah berpelukan lumayan lama. Istri Febri dan kedua anaknya segera memeluk Nenek Darmi sambil memperkenalkan dirinya masing-masing. Mata tua itu terlihat begitu bahagia menatap anak, menantu, juga cucunya semua berkumpul.


"Meleka tutu nenek?" tanya Alan sambil menunjuk kearah dua orang laki-laki yang masih memeluk Nenek Darmi.


"Iya, Alan. Mereka juga cucu nenek sama seperti kalian. Eh kalau kalian cicit dong" ucap Nenek Darmi sambil tertawa.

__ADS_1


Alan menatap intens kearah dua orang laki-laki berumur 20an tahun itu. Sedangkan yang ditatap hanya bisa salah tingkah terlebih tadi sudah mendengar bagaimana mereka pintar dalam berbicara. Alan segera mendekat kearah Nenek Darmi kemudian langsung mengucapkan kalimat ancaman yang membuat mereka tertawa.


"Angan acam-acam cama nenek Alan ya. Ntal abang Anol endang antatna talo akal" ucap Alan mengancam.


__ADS_2