Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Balasan Nadia


__ADS_3

"Sayang, gimana keadaan Arnold?" tanya Andre yang baru saja datang.


Andre yang tadi mendapatkan pemberitahuan dari Nadia tentang Arnold yang masuk rumah sakit langsung saja bergegas pergi pulang setelah menitipkan semua pekerjaannya pada Bayu. Bayu yang tahu jika kondisi atasannya mendadak darurat itu pun memahami dan menerima pekerjaan itu dengan lapang dada.


Ia sampai mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di rumah sakit yang diberitahukan oleh sang istri. Dirinya begitu panik, anak yang biasanya ceria dan jarang sakit harus mengalami seperti ini. Terlebih dulu sakit yang diderita Arnold juga karena ulahnya yang membentak bocah kecil itu. Saat dia tahu bahwa anaknya di ruang IGD, ia langsung berlari dan setelah sampai sana ia melihat ada satpam rumahnya juga sang istri yang masih memeluk dua bocah cilik.


"Masih diperiksa oleh dokter, pa" jawab Nadia dengan tenang.


Andre menganggukkan kepalanya mengerti kemudian mendekat kearah satpam rumahnya. Ia menyuruh satpam itu untuk pulang ke rumah dan diangguki setuju olehnya. Ia juga langsung menghubungi Papa Nilam agar nanti menjemputnya di rumah sakit.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Andre mulai mengorek informasi pada sang istri.


"Ini salahnya Nilam, om. Tadi Nilam patahin pensil milik salah satu teman kelas, aku udah minta maaf tapi nggak dimaafin. Akhirnya ada ibu guru yang datang dan marahin Nilam, Arnold nggak terima. Guru itu hendak memukul Nilam tapi Arnold langsung memeluk aku agar pukulannya tak kena huhu" ucap Nilam menceritakan kejadian sebenarnya sambil menangis.


"Nilam yang melihat Arnold berteriak kesakitan pun sudah meminta agar guru menghentikan pukulannya tapi tetap saja tak berhenti. Akhirnya Nilam dengan sekuat tenaga melarikan diri kemudian mendekati bunda untuk minta pertolongan. Saat kembali kesana lagi, ternyata yang mukul bukan hanya guru tapi siswa lain juga" lanjutnya dengan terus menangis.


Andre yang mendengar cerita Nilam pun mengepalkan kedua tangannya. Ia begitu marah dengan apa yang terjadi pada anaknya. Sekolah yang dulunya sangat ia banggakan karena guru dan lingkungan yang sangat mendukung perkembangan anaknya pun sekarang langsung musnah. Semua umpatan jelek ia layangkan kepada sekolah itu didalam hatinya.


Andre mengambil Nilam untuk dipangkunya, semenjak kejadian anaknya dekat dengan gadis kecil ini membuat semua keluarganya akrab. Bahkan Andre sudah menganggap Nilam sebagai anaknya sendiri dengan papanya yang ternyata adalah teman SMA nya dulu.


"Mereka jahat sama Nilam dan Arnold, om. Kita dipaksa buat gabung sama anak-anak lain padahal kita baru pertama kali bertemu" adunya.

__ADS_1


"Udah ya nggak usah dipikirkan, biar itu nanti jadi urusan om dan papa Nilam" ucap Andre sambil mengelus surai gadis kecil dipangkuannya itu.


Nilam menganggukkan kepalanya mengerti. Ia yakin jika mereka bisa menyelesaikan masalah ini. Nadia terus memeluk Alan sambil melihat kearah pintu ruang IGD yang masih tertutup rapat. Keempatnya dengan setia menunggu Arnold diperiksa oleh dokter.


***


Tak berapa lama, pintu IGD terbuka lebar menampilkan Arnold yang tertidur diatas brankar dengan kaki yang diperban kemudian didorong oleh beberapa perawat. Dokter langsung menemui Andre yang berada disana untuk memberikan informasi mengenai kesehatan Arnold. Sedangkan Nadia bersama Alan dan Nilam memilih mengikuti brankar Arnold yang didorong perawat.


"Bagaimana dengan kondisi anak saya, dok?" tanya Andre kepada dokter yang memang sedari dulu menangani anak-anaknya.


"Untuk kondisi kakinya beruntung hanya luka luar saja. Memang akan terasa nyeri karena lebam dan bengkaknya namun tak ada luka dalam yang serius. Untuk masalah seriusnya hanya pada kondisi mentalnya. Dulu anak Pak Andre sudah mengalami trauma akan kekerasan atau bentakan dan ini juga berpengaruh pada saat ini" ucap dokter itu.


Andre sudah menduga jika hal ini yang akan terjadi. Terlebih Arnold baru pertama kalinya masuk sekolah membuat kejiwaan bocah kecil itu pasti terguncang dan kemungkinan trauma akan pendidikan semakin kuat. Setelah ini proses pengobatan panjang akan dijalani Arnold yang membuat semua keluarga harus fokus pada bocah kecil itu.


Setelah berbincang, mereka berdua pergi berpisah ke masing-masing tempat. Dokter kembali ke ruangannya sedangkan Andre memilih menyelesaikan administrasi rumah sakit anaknya.


***


"Mas, kamu disini temani anak-anak. Aku harus pergi sebentar untuk menemui seseorang" ucap Nadia meminta ijin.


Alan dan Nilam sudah tidur di sofa ruang rawat inap Arnold. Saat Andre menyusulnya, ia segera saja mengutarakan niatnya untuk pergi ke suatu tempat. Namun Andre heran dengan kepergian istrinya yang mendadak bahkan wajahnya juga terlihat seperti menahan amarah.

__ADS_1


"Mau kemana, sayang?" tanya Andre.


"Aku harus mengurus sesuatu, aku mohon ijinkan aku pergi" ucap Nadia dengan tatapan permohonan.


Andre hanya menganggukkan kepalanya pasrah menuruti apa permintaan sang istri. Andre yakin kepergian sang istri ini berkaitan dengan kejadian Arnold. Andre juga tahu kalau Nadia pasti sudah memikirkan matang-matang rencana untuk membalas orang yang melukai anaknya.


Nadia pun langsung pergi setelah berpamitan kepada Andre. Dia berjalan menyusuri lobby rumah sakit dengan kedua tangan mengepal erat. Saat dirinya tengah berjalan keluar rumah sakit, tiba-tiba saja Mama Anisa, Papa Reza, dan kedua anaknya juga baru saja datang dari arah berlawanan dengannya.


"Nadia..." panggil Mama Anisa.


Mereke berempat mendekat kearah Nadia namun Mama Anisa yang melihat aura kemarah pada wajah menantunya pun mengerti jika kejadian ini ada sebabnya. Mama Anisa meminta Papa Reza untuk membawa kedua cucu perempuannya langsung masuk ke ruang rawat Arnold sedangkan dirinya akan mendampingi Nadia menyelesaikan masalah ini.


"Duo N kembali beraksi" gumam Papa Reza pelan saat melihat dua punggung wanita di keluarganya berjalan bersamaan.


***


Nadia dan Mama Anisa masuk kedalam mobil dengan wanita paruh baya itu yang akan menyetirnya. Didalam perjalanan, Nadia menceritakan tentang penyebab Arnold menjadi seperti ini. Mendengar cerita dari Nadia tentunya membuat Mama Anisa marah besar bahkan tanpa sadar menaikkan kecepatan berkendaranya.


Keduanya seperti terbakar amarah yang begitu besar membuat suasana didalam mobil terasa sangat sesak dan mencekam. Tak ada suara perbincangan apapun setelah membicarakan mengenai penyebab kejadian ini, keduanya fokus dengan pikirannya masing-masing. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Mama Anisa berhenti di sebuah tempat. Tempat yang menjadi awal kesakitan Arnold disaat masuk ke sekolah.


"Are you ready?" tanya Mama Anisa dengan seringaian sinisnya.

__ADS_1


"Ready" seru Nadia dengan semangat.


Keduanya turun dari mobil kemudian berjalan memasuki area sekolah yang sudah nampak sepi. Walaupun tampak sepi, namun masih terlihat beberapa kendaraan yang terparkir disana. Hal ini sudah bisa diduga kalau ada beberapa orang yang masih berada di area sekolah ini.


__ADS_2