
Nadia, Andre, dan keempat anaknya kini telah bersiap untuk menuju kampung halaman wanita itu. Kemarin semua sudah disiapkan berupa baju yang akan digunakan selama satu minggu depan. Mereka juga membawa oleh-oleh untuk kedua orangtuanya dan sebagian akan dibagikan kepada tetangga sekitar. Andre memutuskan untuk membawa mobil sendiri walaupun perjalanan terbilang sangat jauh. Namun jika nanti dalam perjalanan, ia kelelahan dan mengantuk maka akan langsung beristirahat terlebih dahulu.
"Sudah siap?" tanya Nadia dengan senyum cerianya.
"Siap..." seru Arnold, Anara, dan Abel.
"Cap..." seru Alan sambil mengangkat kedua tangannya.
Mereka berlima segera keluar dari rumah untuk menyusul Andre yang sudah berada di luar. Abel menggandeng Alan, sedangkan Arnold, Anara, dan Nadia berjalan sambil bergandengan tangan kanan kiri. Saat sampai di luar rumah, terlihatlah Andre yang masih memasukkan beberapa koper ke dalam mobilnya dibantu oleh Papa Reza. Sedangkan Mama Anisa lah yang akan mengatur koper-koper itu agar muat didalam mobil.
Tak berapa lama mereka menunggu, akhirnya semua koper berhasil dimasukkan dan tertata rapi didalam mobil. Kebanyakan barang-barang yang dibawa itu adalah perlengkapan anak-anak. Kelimanya segera mendekat kearah Andre, Mama Anisa, dan juga Papa Reza.
"Ma, pa... Kami pamit ya, do'akan semoga kami selamat sampai tujuan dan pulang dalam keadaan baik-baik saja" pamit Nadia yang kemudian menyalami punggung tangan Mama Anisa dan Papa Reza.
"Iya, kalian hati-hati. Andre juga bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut, ingat ada anak dan istrimu disana" pesan Mama Anisa.
Andre menganggukkan kepalanya mengerti kemudian melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Nadia. Setelahnya keempat cucunya juga berpamitan pada nenek dan kakeknya. Terlihat sekali kalau Mama Anisa seperti berat melepaskan kepergian cucu-cucunya, pasalnya rumahnya nanti akan sangat sepi tanpa kehadiran mereka.
"Kalian jangan lama-lama atau betah disana ya, nanti nenek dan kakek kesepian kalau nggak ada kalian" ucap Mama Anisa dengan wajah sedihnya.
"Iya nek, kita pasti akan kembali dengan selamat ke rumah ini dan mungkin hanya satu minggu disana" ucap Abel menenangkan neneknya.
Mama Anisa segera memeluk Anara dan Abel dengan eratnya. Mama Anisa mengecup kening keduanya bergantian bahkan rasanya tak ingin ditinggal di rumah sebesar ini sendirian. Setelahnya Arnold yang menggandeng tangan Alan mendekat kearah nenek dan kakeknya.
__ADS_1
"Kami mau healing dulu, nek. Jangan rindu sama Arnold, itu berat biar aku saja" ucap Arnold menirukan sebuah kalimat dalam cuplikan adegan film.
Semua orang yang mendengar ucapan Arnold itu tentu dibuat gemas bukan main. Bahkan Mama Anisa dan Papa Reza langsung memeluk hingga menciumi pipi gembul Arnold. Hal ini tentunya membuat Arnold kegelian hingga meronta untuk dilepaskan.
"Ngan... Ngan..." seru Alan membantu kakaknya agar tak diserbu oleh kakek dan neneknya.
"Nek, ngan..." serunya lagi.
Mama Anisa dan Papa Reza segera saja melepaskan Arnold dari pelukannya kemudian menjadikan Alan sasarannya. Alan tertawa begitu renyak saat kakeknya menggendong sambil menggelitiki dirinya. Semua yang melihat pemandangan seperti ini begitu bahagia. Semuanya tampak rukun dengan hal sederhana yang membahagiakan.
Tak berapa lama, semuanya masuk dalam mobil kemudian Andre melajukan mobilnya keluar dari rumah. Keempat bocah kecil itu melongokkan kepalanya keluar jendela sambil melambaikan tangannya kepada Mama Anisa dan Papa Reza. Keduanya juga membalas kepergian mereka dengan lambaian tangan.
"Bakalan sepi deh, tanpa mereka" ucap Mama Anisa setelah melihat mobil yang dikendarai Andre perlahan menjauh.
Mama Anisa menganggukkan kepalanya mengerti kemudian mereka saling bergandengan tangan masuk kedalam rumah. Mereka akan menikmati moment tanpa kehadiran anak dan juga cucunya selama satu minggu kedepan di rumah berlantai dua ini.
***
Nadia duduk disamping kemudi menemani suaminya agar Andre tak terlalu bosan dan mengantuk. Sedangkan keempat anaknya berada di kursi belakang sibuk dengan percakapannya masing-masing. Anara dan Abel sibuk bercerita sambil menonton sebuah film kartun dalam ponsel bundanya. Sedangkan Alan bersikap manja dengan menyandarkan kepalanya pada bahu Arnold.
"Alan, jika tak ada bahu untuk bersandar maka masih ada sajadah untuk kau bersujud" ucap Arnold tiba-tiba.
Arnold merasa bahunya sangat pegal karena sudah selama satu jam lamanya bocah cilik itu menyandarkan kepalanya pada bahu kecil sang kakak. Bahkan sedari tadi Arnold sudah mencoba menghindar, namun adiknya itu malah terus memepet dirinya hingga ia harus menempel pada pintu dan jendela mobil.
__ADS_1
Sedangkan Nadia yang mendengar hal itu sontak saja tertawa. Dia merasa bingung dengan Arnold yang tahu kata-kata itu dari mana, pasalnya selama ini lingkungan pergaulannya hanyalah keluarga saja. Atau mungkin dia melihat saat dulu berada di sekolah TK kedua kakaknya.
"Lebih baik Alan duduk dipangkuan bunda saja sini. Kasihan abang itu pasti bahunya sakit" bujuk Nadia pada Alan sambil merentangkan kedua tangannya kearah belakang.
"No... Au ang" tolak Alan.
"Nggak usah bunda, nanti kalau duduk di pangku pasti kedua kaki bunda kebas" ucap Arnold tak setuju dengan saran dari Nadia.
Nadia hanya bisa menggarukkan kepalanya tak gatal. Ia bingung Alan malah lebih dekat dan menurut pada ucapan Arnold. Sedangkan pada dirinya sangat jarang berinteraksi, ia berpikir mungkin karena selama satu tahun perkembangannya ia tak ada disisi bocah cilik itu ternyata berpengaruh.
"Nanti gantian, nak. Kalau bahu Arnold udah nggak pegal, Alannya bunda kasih ke kamu lagi" bujuk Nadia lagi.
Akhirnya Arnold menyetujuinya terlebih bahunya sudah begitu kebas walaupun Alan sempat memberontak. Namun karena Arnold membujuknya dengan kalimat-kalimat manis membuat Alan langsung saja menurut. Abel segera membantu Alan untuk menuju kearah pangkuan bundanya. Akhirnya Arnold tertidur dengan bahu yang terbebas dari beban.
***
Setelah kurang lebih 9 jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Andre memasuki wilayah perkampungan Nadia. Hari sudah mulai sore ketika mereka sampai disana, bahkan keempat anaknya terlihat tidur dengan lelapnya didalam mobil. Setelah memasuki area perkampungan dengan mobil sekitar 500 meter, akhirnya mereka sampai didepan sebuah rumah sederhana yang menurut Nadia adalah tempat tinggalnya.
Mobil hitam mewah itu berhenti tepat didepan rumah itu. Beberapa warga yang tengah duduk bersantai didepan rumah pun langsung mengalihkan perhatiannya kearah mobil itu. Bahkan ada beberapa warga yang lewat langsung saja menghentikan jalannya untuk melihat siapa penumpang mobil itu.
"Nak, ayo bangun..." ucap Nadia sambil mengusap kaki Abel dan Anara yang ada di kursi belakang.
Abel dan Anara langsung bangun berikut juga dengan Arnold, sedangkan Alan masih terlelap dalam pangkuan Nadia. Andre segera saja keluar dari dalam mobil diikuti oleh ketiga anaknya. Sedangkan Nadia menunggu suaminya untuk membawa Alan keluar terlebih dahulu. Kakinya terasa kesemutan karena terlalu lama memangku anaknya.
__ADS_1