Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Arnold dan Abel


__ADS_3

Arnold dan Abel kini akhirnya diperbolehkan untuk pulang setelah hampir 4 hari dirawat. Sebenarnya Arnold sudah diperbolehkan pulang sejak dua hari yang lalu, namun ia tak mau kembali jika kakaknya Abel masih disana. Alhasil bocah kecil itu hanya tiduran disamping brankar milik Abel sambil terus menggoda kakaknya. Bahkan ia juga tak mau kalau infusnya dilepas membuat dokter dan perawat disana membuat tempelan seperti infus ditangan Arnold.


"Talo kak Bel macih cakit, belalti Anol uga. Adi angan epas empus Anol" tegur Arnold saat perawat hendak melepas selang infus ditangan bocah kecil itu.


Perawat dan dokter disana seketika tertawa dengan ucapan Arnold yang begitu menggemaskan. Malah mereka berpikir bahwa yang dimaksud oleh Arnold adalah empus kucing namun setelah melihat arah tunjuk bocah itu membuat semuanya mengerti.


Kini Arnold dan Abel masih duduk diatas brankarnya masing-masing sambil melihat Anara, Nadia, dan Mama Anisa mengemasi pakaian ganti keduanya kedalam tas. Setelah beberapa menit, akhirnya semuanya sudah siap tinggal menunggu kedatangan Andre dan Papa Reza yang akan menjemput.


***


Kini Papa Reza dan Andre memasuki ruang rawat inap setelah tadi menyelesaikan administrasi sebelum menjemput Abel dan Arnold. Setelah melihat papa dan kakeknya, akhirnya Arnold dan Abel turun dari brankar dengan dibantu oleh Mama Anisa juga Nadia.


Arnold langsung saja digendong oleh Andre, sedangkan Abel langsung menggandeng erat tangan Nadia. Abel masih sedikit takut jika melihat adanya Andre didekatnya. Hal ini pun dimaklumi oleh semuanya, sedangkan Arnold sudah biasa saja walaupun ketika mendengar suara teriakan masih akan teringat kejadian waktu itu.


Papa Reza dan Mama Anisa mengikuti keempat orang itu berjalan dibelakangnya dengan Anara yang berada ditengah-tengah mereka. Keluarga yang terlihat harmonis itu kini berjalan dengan santai bahkan semuanya menyunggingkan senyum tipisnya.


***


Semua anggota keluarga Farda kini telah sampai di rumah. Namun saat akan memasuki rumah itu, Abel dan Arnold merengek tak mau ikut masuk membuat semuanya bingung. Bahkan kini Abel sama sekali tak mau bergerak masuk kedalam rumah dan menggenggam erat tangan Nadia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nggak mau pulang kesini, bunda" rengek Abel dengan mata berkaca-kaca.


"Anol uga ndak mau dicini. Lumah enek Dalmi aja cih" ucap Arnold dengan tatapan permohonan.

__ADS_1


"Ada apa, nak? Kenapa nggak mau tinggal disini? Ini kan rumah papa, nenek, dan kakek berarti rumah kalian juga" tanya Nadia dengan lembut sambil mengusap punggung tangan Abel.


"Takut. Maunya tinggal di rumah nenek dan kakek dari bunda aja" ucap Abel dengan tatapan penuh harap.


Nadia yang mendengar hal itu langsung saja melihat kearah Andre, Papa Reza, dan juga Mama Anisa. Ia tak mungkin menentukan hal ini dengan sepihak, pasalnya takut kalau menyinggung mereka. Nadia tahu kalau Arnold dan Abel masih merasa trauma setelah melewati kejadian di rumah ini.


Andre merasa bersalah setelah melihat anak-anaknya menjadi seperti ini karena dirinya. Bahkan untuk tinggal di rumah saja mereka masih merasa takut. Sedangkan Papa Reza dan Mama Anisa hanya menghela nafasnya pasrah karena setelah ini keduanya pasti akan merasa kesepian jika tak ada cucu-cucunya.


Mereka bisa saja membeli rumah baru, namun untuk saat ini karena keuangan perusahaan masih goyah jadi Andre dan Papa Reza mengurungkan niatnya. Akhirnya ketiga orang dewasa itu menganggukkan kepalanya pasrah menyetujui permintaan Arnold dan Abel.


"Terimakasih bunda" lirih Abel dibalik pelukannya dengan Nadia.


Akhirnya Mama Anisa dan Papa Reza dibantu oleh Mbok Imah menyiapkan beberapa pakaian milik ketiga bocah kecil itu. Arnold dan Abel sama sekali tak mau masuk kedalam rumah sehingga Nadia ikut berada di luar untuk menjaganya.


***


Setelah melakukan perjalanan selama 10 menit, mobil yang mereka naiki sampai di pelataran rumah. Semuanya turun dan masuk kedalam rumah kontrakan Nadia setelah disambut oleh Ibu Ratmi.


"Oh gitu, kalau begitu tak apa biarkan mereka tinggal sama kami untuk sementara waktu. Kami akan senang karena rumah ini takkan sepi lagi karena ramai suara anak kecil" ucap Ibu Ratmi sambil terkekeh pelan.


Setelah dijelaskan mengenai kondisi Abel dan Arnold oleh Papa Reza akhirnya Ibu Ratmi dan Ayah Deno menyetujui untuk ketiga anak itu untuk sementara waktu tinggal disana. Saat Andre, Papa Reza, dan Mama Anisa akan pamit tiba-tiba saja Arnold menyeletuk hal tak terduga.


"Unda ulang aja cama meleka. Ita mau inggal dicini beltiga cama enek dan atek" usir Arnold saat melihat Nadia masih berada ditempatnya.

__ADS_1


"Lho... Jadi Bunda nggak ikut tinggal sama kalian?" tanya Nadia dengan bingung.


Arnold dan Abel menganggukkan kepalanya dengan cepat. Sedangkan Anara hanya mengikuti kedua saudaranya saja walaupun ia ingin Nadia juga berada disini. Nadia menatap kearah Andre dan kedua orangtuanya yang sama bingungnya dengan dirinya.


"Kita nggak mau ganggu papa dan bunda" ucap Abel dengan lirih.


Andre dan Nadia seketika tertegun dengan ucapan Abel itu. Padahal keduanya sama sekali tak pernah mengatakan kalau kehadiran anak-anaknya mengganggu moment keduanya. Nadia berjongkok didepan Abel dan Arnold kemudian mengelus pipi keduanya dengan lembut.


"Kalian jangan bicara seperti itu. Tak ada yang mengganggu kami kok, malahan kita ingin selalu berkumpul sama kalian. Iya kan, pa?" tanya Nadia sambil melihat kearah Andre.


Dengan tegas Andre menganggukkan kepalanya. Namun keduanya tetap kekeh untuk menyuruh Nadia pergi dan tinggal bersama Andre dengan kedua orangtuanya. Akhirnya semuanya mengalah dan Nadia akan tinggal bersama Andre.


"Kalian tenang saja, kami akan menjaga ketiganya dengan baik. Untuk mengantar sekolah, biar ayahmu itu yang mengantarnya kesana. Nanti Nadia yang akan menunggui disana setelah ayah pulang" ucap Ibu Ratmi menenangkan Nadia dan Andre yang terlihat gelisah.


"Baiklah bu. Kami titip mereka ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi Nadia dan yang lainnya" pesan Nadia.


Ibu Ratmi menganggukkan kepalanya. Kemudian Andre dan Nadia mengalihkan perhatian kearah tiga anak kecil itu dengan menatapnya lembut.


"Kalau ada yang kalian inginkan, langsung bilang sama nenek dan kakek biar mereka segera menghubungi bunda. Kalau ada yang sakit juga ya" ucap Nadia sambil menciumi ketiga anaknya.


Ketiganya menganggukkan kepala kemudian rombongan Andre dan keluarganya itu akhirnya berpamitan untuk pulang. Sedangkan kini ketiga anak kecil itu sudah berada di kamar Nadia setelah melihat mobil milik keluarganya pergi.


"Berhasil" seru ketiganya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2