
Setelah kejadian Aneta datang ke rumah Andre, kini semuanya sedang berada di ruang makan untuk melaksanakan acara sarapan pagi yang tertunda. Abel juga sudah merasa lebih tenang setelah ditenangkan oleh Andre walaupun di wajahnya masih terlihat sedikit murung. Mereka melaksanakan sarapan itu dengan tenang bahkan Nadia masih sempat menyuapi Arnold makan karena balita kecil itu masih berantakan jika makan sendiri. Sedangkan Anara dan Abel memakan makanannya sendiri.
Setelah sarapan usai, Papa Reza segera berangkat ke kantor ditemani oleh Mama Anisa sedangkan Andre masih duduk dengan nyaman di kursi ruang makan. Andre melihat Nadia yang masih sibuk membereskan piring dan gelas, membantu pekerjaan Mbok Imah. Sedangkan Anara, Abel, dan Arnold tengah berbincang seru ala anak kecil yang Andre pun tak paham dengan topik yang mereka bicarakan.
Setelah selesai membersihkan meja makan, Nadia mengajak ketiga bocah kecil itu ke ruang keluarga untuk bermain meninggalkan Andre yang masih menatap bingung kekasihnya itu. Andre segera saja menyusul keempatnya ke ruang keluarga dan langsung duduk di sebelah kekasihnya itu.
"Kamu kenapa sedari tadi seperti menghindariku? Bahkan kamu cuek sekali pada kekasihmu ini" tanya Andre berbisik kepada Nadia.
Nadia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Andre, ia hanya mengacuhkannya saja sembari membantu ketiga bocah kecil itu mengeluarkan mainannya. Andre yang di cueki oleh kekasihnya pun merasa aneh dengan sikap Nadia, pasalnya semalam hubungan mereka masih baik-baik saja dan pagi ini juga ia belum berbicara dengannya. Jadi Andre tak merasa mempunyai kesalahan dalam ucapan atau tindakan pada kekasihnya itu.
"Mohon maaf tuan Andre, jangan duduk dekat-dekat seperti ini. Dan silahkan anda berangkat bekerja karena ini sudah jam 8 lebih" ucap Nadia dengan nada formalnya.
Andre yang mendengar ucapan Nadia yang terkesan formal pun semakin dibuat kebingungan. Sepertinya ada kejadian yang ia lupakan sehingga membuat kekasihnya ini bersikap seperti ini. Tanpa aba-aba, Andre menarik tangan Nadia membuat sang empu seketika saja berdiri dan mengikuti jalan laki-laki itu. Nadia sempat melihat kearah belakang untuk memeriksa apakah ketiga bocah kecil yang ditinggalkan itu sedang asyik bermain atau tidak. Beruntungnya ketiganya kini tengah asyik bermain dan Nadia sempat memberi kode kepada Mbok Imah yang tak sengaja melihatnya. Mbok Imah yang mengerti kode itu langsung saja menuju ke ruang tamu untuk menjaga ketiga anak Andre.
***
Andre membawa Nadia ke halaman belakang kemudian duduk di gazebo secara berdampingan. Andre melihat kearah Nadia yang menatap lurus kedepan. Andre menggenggam tangan gadisnya itu dengan erat membuat Nadia mengalihkan perhatiannya kearah laki-laki itu.
"Kenapa kamu jadi cuek seperti ini? Perasaan kemarin saat aku mengantarmu pulang kamu masih bersikap biasa saja" tanya Andre.
"Aku hanya sedang memposisikan diri jika sekarang sedang bekerja sebagai pengasuh dari ketiga anakmu. Saya harus bekerja secara profesional disini" ucap Nadia.
__ADS_1
Berbeda dengan Nadia, Andre merasa kalau kekasihnya ini tengah menutupi sesuatu dan bahkan terkesan menyindir dirinya. Andre dibuat frustasi dengan sikap Nadia yang seperti ini.
"Saya permisi pamit dulu, Tuan Andre" pamit Nadia saat melihat Andre tengah melamun.
Andre segera saja tersadar dari lamunannya kemudian berdiri dan memeluk Nadia dari belakang. Nadia yang belum pernah diperlakukan seperti ini segera memberontak dalam pelukan Andre agar bisa segera dilepaskan.
"Sebentar saja" pinta Andre.
Mendengar permintaan Andre, Nadia segera saja terdiam tak memberontak lagi walaupun ia sedikit risih dengan adegan intim seperti ini. Pasalnya selama ini dirinya belum pernah dipeluk oleh laki-laki lain selain ayahnya.
"Maaf... Maafkan aku jika ada kalimat atau sikapku yang membuatmu seperti ini. Bisakah jika ada masalah kamu menjelaskannya padaku? Jangan diam seperti ini, aku takut" ucap Andre.
Nadia terdiam membeku mendengar ucapan dari Andre, padahal dia sudah membuat alasan yang masuk akal namun tetap saja laki-laki itu curiga padanya kalau dirinya berbohong. Ucapan Andre benar kalau ada masalah sebaiknya dibicarakan jangan diam lalu tiba-tiba meninggalkan.
"Maafkan aku, mungkin ini karena aku yang sedang sensitif saja. Aku tersinggung saat kamu menjawab pertanyaan Aneta tentang siapa aku. Harusnya aku bisa membedakan ketika dalam bekerja atau tidak. Harusnya aku sadar kalau disini aku memang pengasuhnya anak-anak, lain hal jika diluar pekerjaan yang aku sebagai kekasihmu" jelas Nadia.
Andre yang mendengar itu menepukkan dahinya pelan kemudian sedikit meringis karena memang salahnya yang tak peka terhadap perasaan kekasihnya. Padahal sebenarnya ia mengucapkan itu juga karena ada alasan tertentu. Ia pun kalau berada di posisi Nadia pasti juga akan merasa marah dan kecewa.
"Maaf, aku menjawab hal itu karena punya tujuan tertentu. Aku tak ingin Aneta mengganggumu karena tahu kalau kamu adalah kekasihku. Aku tahu Aneta itu bagaimana, dia akan nekat menghancurkan orang yang tengah dekat denganku demi mencapai tujuannya yaitu mengambil Abel dari kami" ucap Andre.
Nadia menganggukkan kepalanya mengerti dengan alasan yang diberikan oleh Andre. Andre adalah orang yang selalu berhati-hati dalam bertindak, jadi pasti Andre melakukan sesuatu itu ada alasannya.
__ADS_1
"Tapi kenapa kau membiarkan Aneta duduk dipangkuanmu?" tanya Nadia dengan wajah garangnya.
"Astaga... Itu dasarnya Aneta saja yang ingin merayuku biar aku mencabut laporan di polisi. Lagi pula tadi aku kan langsung berdiri dan dia terjatuh" ucap Andre membela diri.
"Kalau Anara tak memanggilmu, aku jamin dia masih ada dipangkuanmu" kesal Nadia.
Andre hanya menggaruk tengkuk belakangnya yang tak gatal. Memang benar sih apa yang diucapkan Nadia karena sebenarnya ia sangat terkejut dengan Aneta sampai otaknya kosong dan diam saja saat wanita itu ada di pangkuannya.
"Cieeee... Ada yang cemburu" goda Andre.
Untuk mengalihkan suasana dan perhatian, akhirnya Andre memilih untuk menggoda kekasihnya itu. Namun bukannya malu, Nadia malah menendang kakinya hingga ia meringis kesakitan.
Dugh...
"Rasain" kesal Nadia.
Nadia segera berlalu masuk kedalam rumah meninggalkan Andre yang masih meringis kesakitan. Andre segera menyusul kekasihnya itu agar tak marah lagi dengannya.
"Aku berangkat kerja dulu, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku" pamit Andre pada Nadia setelah sampai di ruang keluarga.
"Baik tuan Andre yang terhormat" jawab Nadia.
__ADS_1
"Kalau kau memanggilku dengan panggilan Tuan Andre lagi, aku pastikan kalau satu bulan lagi perutmu akan mblendung" ancam Andre.
Nadia yang mengerti ancaman Andre itu pun memelototkan matanya tajam kearah kekasihnya. Melihat Nadia terlihat garang, Andre segera saja berlari keluar rumah setelah dengan cepat kilat mencium kening ketiga anaknya. Sedangkan Nadia yang melihat tingkah kekasihnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala.