
Sudah dua bulan semenjak acara lamaran itu terjadi, Nadia masih menjadi pengasuh bagi ketiga anak Andre. Namun bedanya adalah dia sudah tak lagi dipanggil dengan sebutan kakak oleh ketiga bocah kecil itu melainkan dengan panggilan Bunda. Walaupun statusnya menjadi pengasuh, namun keluarga Andre sudah menganggapnya sebagai calon istri anak dari keluarga Farda.
Membicarakan tentang pernikahan, acara itu akan dilaksanakan 3 bulan lagi mengingat dalam bulan ini Andre akan ke luar negeri selama satu bulan lamanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Nadia pun tidak masalah dengan hal itu, yang terpenting baginya adalah acara yang akan terselenggara berjalan dengan lancar.
Hari ini Nadia akan mengantarkan Abel dan Anara berangkat sekolah dengan membawa Arnold tentunya karena disana kedua gadis cilik itu mesti ditunggu. Bocah kecil laki-laki itu selama dua bulan ini juga tak mau jauh darinya, bahkan terkadang sampai menginap di rumah kontrakan Nadia. Keempatnya kini berjalan kaki untuk berangkat sekolah karena letak sekolah yang begitu dekat dengan area perumahan tempat tinggal mereka.
"Lalalala Aku sayang sekali, Bunda" ucap Anara dengan nada cerianya bernyanyi.
Sedangkan Abel dan Arnold saling bergandengan tangan dan berjalan dengan melompat-lompat kecil. Nadia sangat bahagia melihat ketiga bocah kecil itu selalu ceria ketika akan ke sekolah. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka berempat sampai didepan sebuah sekolah TK.
Terlihatlah disana sudah banyak ibu-ibu dan pengasuh yang mengantarkan anaknya sambil duduk di kursi yang sudah disiapkan pihak sekolah. Nadia segera saja menggiring Abel dan Anara memasuki kelasnya kemudian dia keluar bersama Arnold yang ada digendongannya.
"Unda, eli pemen itu" seru Arnold saat dirinya melihat ada pedagang gulali.
"Baiklah, tapi satu saja ya. Nanti gigi Arnold bisa bolong kalau makan banyak-banyak" ucap Nadia memberi pengertian.
"Iga. Ma akak Bel dan akak Nala" seru Arnold tak terima.
"Baiklah" pasrah Nadia.
Keduanya segera berjalan menuju pedagang gulali yang menjual berbagai macam gulali dengan segala bentuk. Disana juga ada beberapa ibu-ibu yang sedang membelikan anaknya.
"Mbak Nadia, tumben Arnold mau beli permen ginian dibolehin? Biasanya kalau sama papa dan neneknya nggak dibolehin lho" tanya salah satu ibu-ibu yang ada disana.
Memang ibu-ibu disana sudah mengenal satu sama lain, bahkan tahu kebiasaan dari masing-masing yang megantar anak kecil ke sekolah. Mereka juga mengetahui kalau Nadia ini adalah calon ibu dari ketiga anak Andre.
__ADS_1
"Iya nih, bu. Sekali-sekali saja, biar mereka juga tahu kalau ada permen murah meriah begini" ucap Nadia dengan terkekeh pelan.
"Nanti kalau ketahuan papa dan neneknya dimarahin lho mbak" ucap ibu-ibu itu menggoda.
"Ya jangan sampai ketahuan, bu" ucap Nadia dengan asal sambil tertawa.
Semua ibu-ibu disana hanya tertawa menanggapi ucapan Nadia, walaupun mereka tahu kalau Nadia pasti takut juga kalau dimarahi Andre dan Mama Anisa. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Nadia dan Arnold mendapatkan apa yang dibelinya.
Keduanya segera bergabung dengan ibu-ibu yang lainnya dan duduk sambil menunggu semua siswa yang masih dibelajar dikelasnya. Tak lama kemudian, ada seorang wanita paruh baya dengan pakaian seksi dan banyak perhiasan yang menempel ditangan dan lehernya datang. Hal itu membuat beberapa ibu-ibu yang ada disana segera berpura-pura menyibukkan diri.
"Eh Mbak Nadia, yang mau nikah sama duda ya? Kok mau sih, mbak? Mau sama dudanya apa duitnya nih" ejek ibu-ibu itu yang bernama Ibu Laili.
"Ya dua-duanya dong, Bu Laili. Realistislah ya, kalau laki-laki nggak punya duit gimana mau nafkahin anak dan istrinya" ucap Nadia dengan santai.
Hampirs emua ibu-ibu disana menahan tawanya saat melihat Ibu Laili kehabisan kata-katanya. Niatnya mau mempermalukan Nadia sebagai perempuan matre, malah kini dirinya yang dipermalukan. Karena sudah kepalang malu, Ibu Laili segera duduk agak menjauh dari kerumunan Nadia dan ibu-ibu yang lainnya.
Nadia yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala saja, pasalnya dia sudah biasa menghadapi Ibu Laili yang selalu julid terhadapnya.
***
Setelah hampir 3 jam di sekolah, Nadia dan ketiga anak Andre pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Namun dipertengahan jalan mereka bertemu dengan kedua orangtua Parno. Melihat hal itu, dengan sigap Nadia menyembunyikan Anara, Abel, dan Arnold disebelahnya.
"Wah... Hebat bener nih kamu, Nad. Dapat calon suami duda kaya ditambah tiga anak lagi. Jangan-jangan tuh si duda nikahin kamu bukan nyari istri tapi pengasuh buat anak-anaknya" ledek Ibu Dyah dengan pedas.
"Cieee... Iri ya, bu. Nadia mah udah ada yang ngelamar dan bentar lagi nikah kalau anaknya situ kan bisanya nyari calon dengan cara licik" ejek Nadia.
__ADS_1
Ibu Dyah yang mendengar itu seketika meradang, begitu pula dengan Bapak Aden. Keduanya maju kedepan Nadia kemudian menjambak rambut gadis itu. Melihat calon bundanya dianiaya, Arnold segera saja maju kemudian menendang kaki kedua orangtua Parno.
Dugh... Dugh...
Awwwssss...
Ternyata tendangan bocah kecil laki-laki itu sangatlah kuat untuk anak seusianya. Bahkan kedua orangtua Parno bisa melepaskan jambakan rambut Nadia akibat dari tendangan itu.
"Akal" seru Arnold dengan memasang wajah garangnya.
Sedangkan Abel dan Anara ketakutan bahkan saling memeluk satu sama lain. Terutama Abel yang kini traumanya kembali kambuh karena melihat adegan kekerasan didepannya. Ia mengingat kalau dulunya juga dijambak oleh kedua orangtua Lian.
"Bunda, kak Abel badannya gemeteran" ucap Anara memberitahu.
Nadia yang awalnya tadi menatap tajam kearah dua pasangan paruh baya itu dengan rambut yang sudah acak-acakan pun seketika mengalihkan pandangannya. Tanpa mempedulikan kehadiran kedua orangtua Parno, Nadia segera saja menggendong Abel kemudian menggandeng Arnold.
"Nara, kamu pegang ujung baju Bunda ya" ucap Nadia kepada Anara.
Anara menganggukkan kepalanya dengan wajah yang sudah basah dengan air matanya. Nadia merasa sangat bersalah dengan kejadian ini sehingga membuat trauma Abel kambuh.
"Saya pastikan setelah ini keluarga kalian akan hancur" ucap Nadia dengan wajah datarnya.
Nadia segera pergi dari hadapan kedua orangtua Parno yang masih terkejut. Kedua orangtua Parno seketika menegang, mereka lupa kalau keluarga Andre merupakan keluarga terpandang yang tak suka diganggu. Terlebih ini berkaitan dengan Abel, cucu perempuan keluarga Farda. Kedua orangtua Parno seketika saja sadar dan segera meminta maaf kepada Nadia.
Namun nasib sial dihadapi keduanya, ternyata Nadia sudah lebih dahulu berlalu setelah mengucapkan ancamannya itu. Keduanya hanya bisa menghela nafasnya pasrah, kedua orang paruh baya itu sudah siap dengan kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.
__ADS_1