
Nadia, Mama Anisa, dan ketiga bocah kecil itu pulang dari taman dengan keadaan lelah. Mereka segera saja membersihkan dirinya di kamar mandi masing-masing kecuali Nadia yang akan mengurus ketiga anaknya terlebih dahulu. Setelah anak-anaknya siap, ia mengantar ketiganya ke ruang keluarga agar mereka bisa bermain. Sedangkan Nadia langsung saja kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Tak lama kemudian, Andre memasuki kamar dengan wajah lesunya. Nadia yang sudah selesai bersiap pun akhirnya membantu suami untuk segera mempersiapkan perlengkapannya. Ia juga menunggu suaminya sampai selesai mandi dengan duduk diatas kasur sambil memainkan ponselnya.
Tak berapa lama, Andre keluar dari kamar mandi kemudian mengambil pakaian yang sudah disiapkan istrinya. Ia segera mengganti pakaiannya di walk in closet kemudian mereka berdua turun kebawah untuk melaksanakan makan malam bersama keluarganya yang lain.
***
"Ayo kita ke ruang makan" ajak Andre pada ketiga anaknya.
Ketiganya pun akhirnya menyudahi acara bermainnya kemudian mengikuti kedua orangtuanya menuju kearah ruang makan. Disana sudah ada Papa Reza dan Mama Anisa yang duduk menunggu anak serta cucu-cucunya. Saat melihat anak dan cucunya memasuki ruang makan, keduanya langsung menyambut mereka dengan senyum teduhnya.
"Ayo makan" ucap Mama Anisa.
Semuanya sudah duduk dengan rapi di kursinya masing-masing. Nadia dan Mama Anisa segera mengambilkan makanan pada piring masing-masing penghuni meja kecuali milik Arnold. Arnold akan makan disuapi oleh Nadia agar nanti makanannya tak berantakan kemana-mana.
***
__ADS_1
Setelah makan bersama dengan keluarga, akhirnya mereka memilih untuk masuk dalam kamarnya masing-masing. Nadia setelah menidurkan anak-anaknya juga langsung kembali kedalam kamarnya dan sang suami. Saat masuk kedalam kamar itu, ia melihat suaminya sedang fokus pada ponselnya dengan raut wajah yang terlihat sangat antusias. Bahkan suaminya itu tak menghiraukan keberadaannya yang baru saja masuk kedalam kamar.
Nadia langsung saja masuk kedalam kamar mandi untuk menggosok gigi dan cuci muka. Setelahnya ia langsung berjalan menuju kearah kasur dan menaikinya. Namun yang membuat Nadia heran adalah suaminya itu sama sekali tak mempedulikannya bahkan tetap fokus pada ponselnya.
"Lagi chattingan sama siapa sih kok fokus banget? Sampai istrinya udah duduk disampingnya aja masih nggak dipeduliin" seru Nadia.
Andre yang masih fokus pun dengan tiba-tiba langsung saja terkejut dengan suara yang berada disampingnya. Bahkan ponselnya terjatuh mengenai dadanya dalam keadaan terbuka keatas membuat Nadia tahu kalau Andre sedang berkirim pesan dengan seseorang. Yang membuatnya kesal adalah nama kontak yang ada didalam aplikasi berwarna hijau itu. Alice, perempuan yang sedari sore sudah mengganggu kenyamanannya di taman bersama dengan mertua dan ketiga anaknya.
"Aku kok ngga sadar kalau kamu udah ada disampingku, Nad?" tanya Andre dengan sedikit linglung.
Bahkan Andre langsung saja menutup aplikasi chatt berwarna hijau yang ada di ponselnya. Semua gerak-gerik Andre itu terlihat sangat mencurigakan dalam pandangan Nadia.
Sontak saja Andre gelagapan karena ternyata istrinya mengetahui dirinya sedang apa. Kini ia tahu kalau mungkin saja istrinya itu sedang cemburu karena dirinya tengah sibuk berkirim pesan dengan seorang perempuan. Tadi setelah wawancara selesai memang Andre meminta nomor ponsel Alice agar bisa menyambung silaturahmi. Andre pun sudah menganggap Alice ini sebagai adiknya sendiri, tak lebih.
"Sayang, bangun dulu deh. Aku mau kasih penjelasan dulu tentang ini. Aku tak mau ada salah paham diantara kita" ucap Andre dengan lembut.
Nadia masih bergeming, pasalnya dia kini tengah memikirkan apa yang diucapkan oleh Andre. Akhirnya setelah beberapa menit berpikir, ia membuka matanya kemudian bangun dari baringannya. Ia menatap Andre dengan datar seakan meminta penjelasan lebih tentang apa yang tadi dilihatnya.
__ADS_1
"Huft... Sayang, yang berbalas pesanku itu namanya Alice. Dia adalah teman masa kecilku dan tetangga sebelah rumah ini dulunya. Bahkan mama dan papa juga mengenalnya, hari ini aku dan papa bertemu dengannya saat ada wawancara kerja. Dia melamar pekerjaan di perusahaanku, lalu setelah wawancara selesai aku meminta nomor ponselnya untuk ajang silaturahmi. Dari dulu dia sudah seperti adik kandungku sendiri" jelas Andre.
Nadia terdiam membisu sedangkan Andre mulai was-was dengan keterdiaman istrinya itu. Ia khawatir jika istrinya masih saja salah paham dengan hubungannya bersama Alice. Memang dari lubuh hati paling dalam, ia menganggap Alice hanyalah sebagai adik saja. Namun ia juga lupa kalau sudah ada istrinya yang tentu harus lebih mementingkan Nadia daripada bertukar pesan dengan wanita lain.
"Aku sudah tahu, bahkan tadi kami berkenalan saat berada di taman" ucap Nadia dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Mendengar ucapan Nadia pun sontak membuat Andre terkejut. Pasalnya dari mama ataupun istrinya, mereka berdua sama sekali belum menceritakan tentang kejadian saat di tama hari ini. Setelah makan pun mereka memilih masuk kamar masing-masing karena sudah lelah dengan aktifitas yang dijalani.
Berarti Alice juga sudah bertemu dengan mamanya, dalam hati Andre semoga saja ini bukan pertanda buruk. Pasalnya dulu sang mama pernah menjodohkannya dengan Alice sebelum menikah dengan Aneta. Bahkan setelah menikah dengan Aneta pun, mamanya selalu membanding-bandingkan istrinya dengan Alice.
Pernikahan dengan Aneta memang karena perjodohan bisnis, namun sebelumnya ia telah dijodohkan dengan Alice. Namun keluarga Alice menolak karena mereka belum siap untuk kehilangan anak gadisnya dimiliki oleh orang lain. Terlebih usia Alice waktu itu masih 16 tahun membuat kedua orangtuanya menolak tegas sehingga keluarga Andre memutuskan anaknya itu dijodohkan dengan Aneta.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Andre.
"Nggak terjadi apa-apa. Aku mengawasi anak-anak bermain lalu mama ngobrol sama dia. Toh aku nggak ngerti apa yang mereka omongin jadi aku diam aja" ucap Nadia dengan santai.
"Sayang, kamu harus percaya sama aku kalau aku hanya menganggap Alice sebagai adikku saja. Jangan pernah kamu berpikiran macam-macam walaupun kelak keluargaku menjadi akrab dengannya" ucap Andre dengan menatap teduh kearah istrinya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku takkan pernah mempunyai pikiran sempit seperti itu. Namun perlu kamu ingat, aku punya perasaan yang akan cemburu jika miliknya dekat dengan oranglain. Mungkin saja kamu tak punya perasaan dengannya, namun apa kita bisa menyuruh pihak sana untuk tak mempunyai hati lebih padamu? Tentu tidak. Banyak orang bilang kalau persahabatan atau berhubungan dengan berbeda lawan jenis itu tak mungkin salah satunya tak mempunyai perasaan lebih. Ingat itu, mas" ucap Nadia.
Nadia segera saja membaringkan tubuhnya kembali kemudian memejamkan matanya membiarkan Andre terdiam setelah mendengarkan ucapannya. Andre seperti orang linglung setelah mendengar ucapan menohok dari istrinya itu.