Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Hari Tanpa Andre


__ADS_3

Nadia melewati hari-harinya tanpa kehadiran Andre yang kini berada di luar negeri. Anak-anak tinggal bersamanya di rumah kontrakannya karena Papa Reza juga jarang pulang ke rumah mewah Keluarga Farda akibat banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan di luar kota. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, akhirnya Nadia memutuskan untuk membawa ketiga anak Andre tinggal di rumah kontrakannya saja selama penghuni rumah itu tak ada disana.


"Om, Nadia mau minta ijin untuk bawa anak-anak untuk tinggal di kontrakan saja. Soalnya kan om juga jarang ada pulang dan harus ke luar kota untuk mengurus pekerjaan. Kalau Nadia tinggal disini takutnya ada hal-hal yang tak diinginkan seperti omongan oranglain" ijin Nadia waktu itu saat Papa Reza sehabis pulang dari kantor.


"Iya nggak papa, Nad. Lagi pula Om juga nggak bisa jagain mereka karena ternyata pekerjaan yang Andre tinggalkan sangatlah banyak" keluh Papa Reza.


"Sabar, Om. Nanti kalau Andre sudah sembuh, kasih aja itu pekerjaan ke dia semua hehehe" ucap Nadia sambil cengengesan.


"Mana bisa begitu, Nad? Aku yakin habis itu anak sembuh langsung saja gaspol untuk nikahin kamu. Kecuali kalau kamu mau bujuk Andre buat nunda pernikahan, itu pun kalau bujukanmu berhasil" ledek Papa Reza yang kemudian berlalu pergi ke kamarnya.


Nadia yang diledek oleh Papa Reza pun malu bukan main. Pasalnya memang benar ucapan pria paruh baya itu, setelah Andre kembali dan sembuh maka dia akan segera meminang dirinya. Itu sudah keputusan final yang dibuat oleh kekasihnya itu, bahkan Nadia sudah membujuknya untuk beristirahat dahulu namun sama sekali tak berhasil. Akhirnya Nadia hanya pasrah saja menjalani apa yang diputuskan oleh Andre nanti.


***


Walaupun baru dua hari ditinggalkan oleh Andre namun rasa rindu seketika menyeruak didalam dada Nadia. Begitu pula dengan ketiga anaknya yang selalu meminta untuk video call nenek dan papanya. Namun apalah daya, perbedaan waktu membuat mereka sangat sulit untuk melakukan komunikasi. Ketika di Indonesia siang, maka disana tengah malam membuat Nadia tak tega jika harus menghubungi Mama Anisa dan Andre yang sedang istirahat.


"Unda, epon papa dong" rengek Arnold kepada Nadia.


"Disana kan saat ini malam, dek. Pasti mereka sedang istirahat" ucap Nadia memberikan pengertian.

__ADS_1


"Huh... Adahal Anol ngin tau papa dah apat ule cekci pa elum" keluh Arnold.


Nadia yang mendengar ucapan Arnold pun rasanya ingin tertawa, pasalnya dia melarang Andre untuk lirik-lirik bule yang ada disana. Tetapi kali ini bocah laki-laki itu ingin menanyakan apakah sudah mendapatkan bule seksi belum. Astaga, tak mungkin juga Andre sempat mencari hal-hal seperti itu karena dia disana fokusnya untuk berobat. Apalagi ada Mama Anisa disana yang akan langsung menghajar Andre jika laki-laki itu macam-macam.


"Jadi Arnold ingin punya bunda bule yang seksi gitu? Nggak mau bunda Nadia jadi ibunya adek?" goda Nadia dengan wajah yang ia buat sedih.


Bahkan kini Nadia tengah menundukkan kepalanya agar aktingnya itu lebih meyakinkan. Arnold yang melihat itu seketika gelagapan kemudian bangkit dari duduknya dan mendekat kearah Nadia. Andre memiringkan dan melongokkan wajahnya untuk melihat wajah bundanya itu. Namun sama sekali tak terlihat karena tertutupi oleh rambut Nadia. Arnold kembali menegakkan badannya kemudian menghela nafasnya panjang seperti orang dewasa yang tengah menahan kesabarannya.


"Unda, Anol ndak masud gitu lho. Unda ndak oleh sudzon dan angan bapelan dong" celetuk Arnold.


Nadia sudah tak bisa menahan tawanya lagi, ia segera saja tertawa terbahak-bahak akibat ucapannya yang begitu seperti orang dewasa. Darimana juga dia mendapatkan kata-kata itu, sungguh sangat ajaib bocah kecil ini. Nadia segera saja menarik Arnold masuk kedalam pelukannya dan menciuminya bertubi-tubi.


"Mpun, unda. Pipi Anol anti ambah ulat kalna seling diium" seru Arnold.


Mendengar ucapan Arnold itu bukannya Nadia menghentikan ciumannya namun malah menambahnya dengan bertubi-tubi. Ia sangat bahagia dikelilingi oleh anak-anak yang lucu dan pintar seperti ketiga anak Andre itu. Bahkan kini Anara dan Abel tengah membantu menemani Ayah Deno dan Ibu Ratmi menunggu pelanggan yang akan membeli sembako.


***


Nadia kini tengah menggantikan kedua orangtuanya menjaga warung sembakonya sedangkan ketiga anak Andre tengah ikut Ayah Deno dan Ibu Ratmi membeli jajanan di taman. Ketiga anak Andre itu sangat suka jika diajak jalan-jalan oleh kedua orangtua Nadia, pasalnya mereka berdua sangat memanjakan bocah-bocah kecil itu. Apapun yang mereka mau pasti dituruti padahal dulunya dia sudah sering menegurnya namun kedua orangtuanya tetap nggak mau menuruti.

__ADS_1


"Biarin aja sih, Nad. Lagi pula mereka itu kalau minta ini itu juga harganya cuma 1000 dan paling mahal 5000 rupiah aja. Nggak akan bikin kami bangkrut" elak Ibu Ratmi saat dirinya menegur waktu itu.


Bukan dirinya pelit, namun yang dibeli selalu saja mainan yang sama padahal setelah membelinya tak pernah mereka mainkan. Sampai-sampai mainan itu menumpuk di rumah Andre dan kontrakannya. Sedangkan untuk jajanan di pedagang kaki lima, Nadia memang membatasi karena perintah dari Mama Anisa.


Saat dirinya sedang asyik bermain game di ponselnya, tiba-tiba saja adda seseorang yang akan membeli sesuatu di warung sembako milik kedua orangtuanya. Ia segera saja menyimpan ponselnya di saku kemudian menegakkan kepalanya. Alangkah terkejutnya saat melihat orang yang akan membeli sembako adalah kedua orangtua Parno.


"Wah... Ternyata habis nggak jadi nikah sama duda kaya, sekarang kerjanya jadi karyawan warung sembako" ucap Ibu Dyah dengan julidnya.


"Hadeh... Saya malas meladeni tukang nyinyir seperti anda ini. Silahkan kalian mau beli apa? Kalau mau nyinyir sebaiknya kalian pergi aja, nggak usah jadi belanja disini" ucap Nadia dengan malas.


"Wah songong juga nih perempuan satu. Kalau saya tahu karyawannya disini kamu, saya bakalan nggak mau belanja disini" kesal Ibu Dyah.


Hari Nadia yang tengah dalam mood baik seketika memburuk gara-gara kedatangan dua orang yang selalu nyinyir tentang kehidupannya. Andai saja tadi Ibu Dyah tak nyinyir duluan tentang hidupnya, pasti dia juga akan melayani mereka dengan baik bukan malah mengusirnya.


"Yayaya... Terserah ibu aja lah. Jadi mau beli apa kagak nih? Kalau kagak ya udah silahkan pergi" ucap Nadia mengalihkan perhatian.


"Nggak jadi. Awas aja ntar saya bilangin sama pemilik warung ini agar memecat kamu" seru Ibu Dyah yang kemudian menarik Bapak Aden yang sedari tadi diam.


Mereke berdua pergi berlalu dari warung sembako itu sambil terus mengumpati Nadia dengan keras. Nadia hanya membiarkan saja toh yang memulai keributan ini juga Ibu Dyah sendiri. Lagi pula dirinya tak takut dipecat oleh pemiliknya karena yang punya juga kedua orangtuanya sendiri. Kalau dipecat dari Kartu Keluarga itu baru membuat Nadia stress.

__ADS_1


__ADS_2