Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kesabaran


__ADS_3

"Nenek akan menemani Fikri tinggal disini kan?" tanya Fikri dengan tatapan menuntut jawaban.


Fikri sudah dinyatakan sembuh walaupun kakinya tak bisa digunakan berjalan terlalu lama dan kepalanya masih sedikit pusing. Hari ini juga Fikri sudah diperbolehkan untuk pulang walaupun nantinya harus kembali satu minggu lagi untuk check up.


"Pastinya dong. Nenek akan mendampingi Fikri sampai dewasa nanti" ucap Nenek Hulim dengan senyum hangatnya.


Walaupun ia tak tahu sampai kapan batas umurnya, tetapi selama ia masib hidup tentunya akan berusaha untuk terus bersama Fikri. Apalagi anak dan menantunya sama sekali tak bisa diharapkan untuk menemani masa tuanya.


Selama Fikri dirawat, setelah kejadian waktu itu kedua orangtua bocah laki-laki itu juga sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya sampai kini. Nenek Hulim hanya bisa mengelus dadanya melihat tingkah anak dan menantunya yang sama sekali tak peduli dengan Fikri yang sedang sakit.


Justru ia begitu bangga dengan keluarga Nadia yang bahkan setiap hari mereka datang menjenguk dan menemani Fikri juga dirinya. Mereka juga membawakan beberapa makanan agar Nenek Hulim tak perlu kerepotan keluar dari ruangan Fikri. Semoga saja keluarga kecil Nadia diberikan kebahagiaan seterusnya hingga bisa bermanfaat untuk orang banyak.


Karena jarang orang berada seperti mereka mempunyai rasa simpati kepada sesamanya. Hal ini bisa dilihat dari kedua orangtua Fikri yang bahkan pada anaknya sendiri acuh. Kalaupun mereka membantu sesama, sudah dapat Nenek Hulim pastikan kalau itu semua hanya pencitraan.


"Ayo kita pulang" seru Arnold dengan semangat mengalihkan pembicaraan.


Terlebih Arnold melihat jika Fikri matanya sudah berkaca-kaca karena begitu bahagia karena ada yang menemani dirinya saat ini. Arnold tak mau suasana menjadi sedih-sedihan dan mengingat masa lalu kembali.


Bahkan kini Nadia juga lah yang menjemput Fikri dengan dibantu oleh sopir keluarga. Fikri dan Alan juga begitu bersemangat untuk pulang. Keduanya bahkan sudah bergandengan tangan untuk berjalan keluar dari ruang rawat inap.


Setelah dirasa semuanya sudah siap, mereka pun akhirnya keluar dari ruang rawat inap itu. Walaupun kakinya masih sedikit sakit, namun itu tak menyurutkan semangatnya melangkah dengan menggandeng tangan mungil Alan.


"Anti alo tatinya akit ilang cama Alan ya, akak Ikli. Bial Alan endong" ucap Alan dengan percaya dirinya.

__ADS_1


Nadia dan Nenek Hulim yang ada dibelakang keduanya pun hanya bisa tertawa mendengar celotehan Alan. Mereka geleng-geleng kepala karena Alan begitu percaya dirinya akan menggendong Fikri yang badannya jauh lebih besar.


"Kalau kakak Fikri kesakitan biar digendong bunda dan nenek. Nggak usah sok bisa, nanti kecengklak biar tahu rasa" ucap Arnold menanggapi.


Arnold memang berjalan paling depan, memimpin semuanya untuk menunjukkan arah keluar rumah sakit. Sedangkan Alan dan Fikri berada ditengah dengan diikuti oleh dua orang dewasa. Alan mencebikkan bibirnya kesal karena merasa diledek oleh sang kakak. Padahal niatnya baik dan ingin dipuji namun selalu saja kakaknya itu menjatuhkannya.


"Sudah... Sudah... Ayo naik ke mobil" ucap Nadia melerai kedua anaknya.


Pasalnya jika tak dilerai pasti akan terus berlanjut dan tak ada ujungnya. Lagi pula mobil yang dibawa sopir juga sudah menunggu mereka. Mereka segera saja masuk kedalam mobil kemudian sopir melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang.


***


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh sopir tiba di halaman rumah Fikri. Namun ada yang aneh karena disana sudah terparkir banyak mobil di halaman. Nenek Hulim berpikir bahwa anak dan menantunya juga ada di rumah karena mobil mereka juga terparkir disana.


Nenek Hulim mengelus dadanya sabar karena harus berhadapan lagi dengan manusia-manusia tak punya hati itu. Sebisa mungkin ia tak meluapkan emosinya karena kondisi jantungnya yang mungkin akan memburuk jika ia marah-marah. Bahkan Nadia juga langsung mengelus lengan atas Nenek Hulim seakan mengetahui pergolakan batin wanita paruh baya itu.


Nenek Hulim mencoba meredakan kekesalan dan emosi yang melanda jiwanya. Ia tak menyangka jika mempunyai anak dan menantu yang bertabiat buruk seperti ini. Semuanya akhirnya turun dari mobil itu kemudian berjalan masuk kedalam rumah itu.


"Apa yang kalian lakukan di rumahku?" seru Nenek Hulim.


Nenek Hulim begitu kesal karena saat masuk ke dalam rumah ternyata ruang tamu digunakan untuk pesta. Bahkan sudah banyak botol-botol minuman keras dan toples cemilan berantakan diatas meja. Banyak orang yang ada disana bahkan sudah tak sadarkan diri dengan tertidur di atas sofa. Tentu saja disana ada kedua orangtua Fikri yang juga mungkin sudah tak sadar dengan apa yang terjadi.


"Kalian, bawa anak-anak ke kamar" titahnya kepada ART yang ada disana.

__ADS_1


Langsung saja ART yang tadi berkumpul karena mendengar teriakan dari Nenek Hulim pun membawa Fikri, Alan, dan Arnold yang tak paham dengan situasi yang terjadi. Arnold ingin protes kepada sang bunda untuk tetap berada disana namun Nadia langsung menggelengkan kepalanya. Nadia takkan membiarkan anak-anaknya mengetahui tentang hal-hal dewasa seperti ini.


Setelah memastikan ketiga bocah kecil itu pergi, Nadia dan Nenek Hulim menatap semua orang yang ada di ruang tamu. Bahkan mendengar teriakan yang menggelegar dari Nenek Hulim pun mereka sama sekali tak terganggu. Nenek Hulim meminta kepada ART yang masih ada disana untuk segera membantunya membangunkan orang-orang itu.


"Hei... Bangun kalian" teriak Nenek Hulim.


Byurrrrr....


Bahkan Nadia yang kesabarannya setipis tisue dibagi empat itu pun langsung saja mengambil gayung dan ember berisi air dari kamar mandi. Nadia langsung mengguyur mereka semua karena sudah dibangunkan dengan teriakan juga tak mampu untuk mereka sadar.


"Bagus Nadia, guyur tepat wajahnya" titah Nenek Hulim.


Arrrrghhhhh....


Ahhhhhhhhhhh....


Banjir... Banjir....


Hahahaha...


Semua orang yang wajahnya disiram oleh Nadia langsung terbangun bahkan mereka berpikir bahwa sedang kebanjiran. Namun melihat atap diatasnya tak basah membuat mereka curiga dan langsung menatap suara tertawa didekat semuanya. Mereka menatap tajam kearah Nadia, Nenek Hulim, dan beberapa ART yang tertawa karena tingkah semuanya. Kecuali orangtua Fikri yang kini tingkahnya sudah ketahuan hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Pergi kalian semua dari rumahku" teriak Nenek Hulim dengan sedikit memukul-mukulkan gayung ditangannya.

__ADS_1


Ini adalah pertanda kalau mereka tak segera pergi maka Nadia dan Nenek Hulim akan menyiram wajah-wajah penuh dosa itu dengan air kembali. Mereka langsung saja meraih tas dan barang bawaannya kemudian berlari tergopoh-gopoh keluar dari rumah Fikri. Nadia hanya bisa menahan tawanya melihat kejadian ini yang sudah seperti dulu saat ia bersama Mama Anisa memberi pelajaran pada Sukma dan Aleta.


"Kalian... Kemasi pakaian dan barang kalian...."


__ADS_2