
Sedangkan di kediaman keluarga Aneta...
Aneta pulang ke rumah dengan wajah yang ditekuk kesal, bahkan ia membanting pintu mobilnya dengan keras membuat beberapa pekerja yang ada disana terlonjak kaget. Namun mereka tak berani untuk menegurnya karena bisa saja mereka akan diamuk dan dipecat. Tabiat Aneta hampir sama dengan keluarga suaminya yaitu Lian Ferdi Sukra. Hanya saja Aneta ini adalah tipe orang yang hanya berkata kasar dan merusak mental lawannya saja serta tidak pernah berbuat kasar secara fisik.
Keluarga Sukra adalah marga dari suami baru Aneta. Marga itu termasuk keluarga terpandang walaupun kekuasaannya masih dibawah keluarga Andre. Perusahaan keluarga itu menaungi bisnis makanan ringan yang saat ini produknya sudah menembus pasar Eropa. Kegigihan dan kelicikan pemimpin perusahaan Sukra Group menjadikan lawan bisnisnya enggan untuk bekerjasama namun karena produk yang terjual laris membuat perusahaannya semakin berkembang.
Lian Ferdi Sukra adalah suami dari Aneta, yang kini menjabat sebagai CEO Perusahaan Sukra Group pusat. Sedangkan ayahnya Rudi Andoro Sukra bekerja sebgai CEO di perusahaan cabang. Lian dan Aneta menikah setelah kelahiran Arnold. Keluarga Sukra ini tak ada yang menyukai anak dari hasil pernikahan Andre dan Aneta yaitu Abel sehingga selalu menyiksa fisik dan mentalnya. Mereka tak menyukai Abel karena dianggap sebagai penghalang bagi Aneta dan Lian menikah. Kalau saja Aneta tak hamil maka bisa jadi wanita itu akan lebih mudah meninggalkan Andre.
"Brengsek... Bisa gawat kalau Andre sampai melakukan visum dan anak itu mengadu kepada papanya tentang semua yang ku lakukan padanya" gumam Aneta sambil berjalan memasuki rumah.
Ibu mertua dari Arneta mengernyitkan dahinya heran saat melihat wajah menantunya terlihat sangat kesal bahkan sedari tadi menggerutu tanpa menyapa dirinya yang duduk di ruang keluarga.
"Ada apa Neta? Sampai wajahmu ditekuk seperti itu" tanya Sukma Erdita Sukra, ibu mertuanya.
"Tadi di sekolah Abel aku ketemu sama mantan suamiku, ma. Dia langsung membawa Abel karena anak itu tak mau ikut denganku" kesal Arneta kemudian duduk disebelah mertuanya.
"Apa? Jadi sekarang anak itu tinggal sama Andre?" tanya Sukma.
"Iya, ma. Tadi juga Andre bilang akan melakukan visum pada Abel karena melihat luka lebam di lengan tangannya" ucap Arneta lesu.
__ADS_1
"Harusnya kamu mencegah Andre membawa anak itu, bisa gawat kalau dia mengadu pada keluarga mantan suamimu. Bisa-bisa kita diseret ke penjara" sentak Sukma.
"Aku juga sudah berusaha melarangnya, ma. Tapi Abel yang nggak mau ikut denganku, bahkan dia menangis. Karena aku tak ingin Andre curiga, aku putuskan untuk membiarkan dia membawa Abel" ucap Aneta tak terima disalahkan.
"Dasar bodoh, harusnya kau seret anak itu. Pokoknya kalau sampai Andre lapor polisi dan menyelidiki keterlibatan kita pada luka-luka yang ada ditubuh Abel, mama nggak mau ikut terlibat" ucap Sukma.
Setelah mengatakan hal itu, Sukma segera pergi dari ruang tamu meninggalkan Aneta yang sedang memikirkan banyak hal. Aneta sebenarnya kesal dengan ucapan ibu mertuanya itu, padahal yang melakukan kekerasan fisik pada Abel itu dia, suaminya, dan juga papa mertuanya kenapa jadi dia yang disalah-salahkan. Karena terlanjur kesal dan pusing, Aneta segera saja pergi ke kamarnya dengan langkah gontai sambil memikirkan bagaimana caranya agar Andre tak menyelidiki luka-luka yang ada ditubuh Abel.
***
Setelah dua jam pulang ke rumah, Nadia kembali ke rumah sakit dengan keadaan sudah mandi dan berpakaian rapi. Tak lupa juga tadi ia mampir ke rumah majikannya untuk mengambilkan semua pakaian ganti Andre beserta ketiga anaknya dan makanan untuk sarapan. Saat masuk ke dalam ruangan itu, terlihatlah ketiga anak kecil yang sudah terbangun semua dengan Abel yang sedang disuapi sarapan oleh Andre. Sedangkan Anara dan Arnold tengah duduk menonton acara kartun di TV.
"Ayo mandi, setelah itu kita sarapan" ucap Nadia pada kedua bocah itu.
Anara dan Arnold yang mendengar suara Nadia segera mengalihkan pandangannya kemudian mengarahkan kedua tangannya meminta kode untuk digendong. Nadia hanya terkekeh pelan saat melihat kekompakan dari kedua kakak beradik itu. Tak mungkin juga dirinya menggendong keduanya sekaligus, bisa-bisa badannya akan encok.
"Aduh... Bisa encok nih badan kak Nadia kalau gendong kalian berdua bersamaan" goda Nadia.
Keduanya seketika menurunkan uluran kedua tangannya lalu mengerucutkan bibirnya kesal. Nadia yang melihat itu benar-benar tertawa karena melihat kelucuan mereka. Bahkan Andre hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya, ia pun baru sadar kalau Arnold sekarang sudah lebih dekat dengan Nadia bahkan sering menampakkan ekspresinya. Abel yang melihat itu matanya berkaca-kaca karena selama ini ia tak pernah merasakan suasana hangat seperti ini.
__ADS_1
"Lho Abel kenapa?" tanya Andre yang melihat mata anaknya terlihat berkaca-kaca.
Semua orang disana seketika mengalihkan perhatiannya ke arah Abel yang kini matanya sudah siap meluncurkan air mata. Bukan air mata kesedihan namun itu adalah bentuk rasa bahagia yang tiba-tiba hadir didalam hatinya.
"Hiks... Abel nggak pernah ngeliat dan ngerasain moment kaya gini. Rasanya Abel sangat bahagia hiks" ucap Abel dengan menangis.
Andre mengalihkan pandangannya kearah lain agar tak terlihat bahwa kini dadanya tengah sesak bahkan matanya sampai ingin meluncurkan air mata. Nadia yang melihat itu segera mendekat kearah Abel dengan menggandeng tangan Arnold dan Anara. Nadia menggendong Anara dan Arnold bergantian kemudian menaruhnya diatas brankar milik Abel.
"Ayo kita peluk kak Abel sama-sama" seru Nadia dengan nada cerianya.
Arnold dan Anara yang mengerti ucapan Nadia pun dengan segera memeluk Abel diikuti oleh gadis itu yang memeluk ketiganya. Tak lupa tangan Nadia menarik lengan Andre untuk ikut berpelukan dengan ketiga anak itu. Andre yang mengerti itu pun segera memeluk erat semua anak-anaknya.
"Kakak Abel nggak boleh sedih atau ingat-ingat yang dulu lagi. Kita akan selalu bersama kak Abel, selamanya" ucap Nadia.
"Tul... Etul..." seru Arnold.
Seruan Arnold itu membuat semuanya tertawa terlebih kalimat yang diucapkannya tak terlalu jelas. Andre yang melihat itu pun tersenyum tipis, ternyata membawa Nadia menjadi pengasuh bagi ketiga anaknya adalah keputusan yang tepat. Setelah ini dia harus berterimakasih kepada mamanya karena memilihkan pengasuh yang baik sehingga bisa membangkitkan kehangatan di keluarga mereka.
Tanpa mereka ketahui, dibalik pintu terdapat sepasang orangtua paruh baya tengah memandang pemandangan diatas brankar tempat tidur itu dengan senyuman manisnya. Mereka berdua sangat terharu dengan apa yang dilihatnya. Bahkan sang wanita paruh baya sudah menitikkan air matanya, melihat keluarga anaknya kini dipenuhi kehangatan. Ia berdo'a semoga anak dan cucu-cucunya selalu diberikan kebahagiaan lahir dan batin.
__ADS_1