Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Pacaran


__ADS_3

Mendengar ucapan asal dari Andre seketika membuat Nadia menendang tulang kering kaki Andre membuat sang empu mengaduh kesakitan. Sedangkan Nadia yang melihat Andre kesakitan tersenyum bahagia.


Dugh...


"Rasain, makanya kalau bicara jangan asal" kesal Nadia.


"Jadi cewek kasar amat sih" keluh Andre dengan memegang kakinya yang terasa sakit.


"Biarin" ucap Nadia acuh tak acuh.


Nadia segera berlalu dari hadapan Andre yang masih mengaduh kesakitan untuk segera pulang ke rumahnya. Namun Andre tak membiarkan hal itu, ia segera mencengkal pergelangan tangan Nadia membuat gadis itu menghentikan jalannya dan menghadap kearah laki-laki itu. Dua mata saling menatap intens mencoba menyelami apa yang ada didalamnya. Bahkan Andre dengan sengaja mendekatkan wajahnya dengan wajah milik Nadia.


Deg... Deg... Deg...


Saat netra mereka saling menatap dalam, ada perasaan asing yang masuk ke dalam relung hati keduanya. Ada perasaan nyaman dan hangat di hati mereka membuat keduanya tak sadar menyunggingkan senyuman manisnya. Tanpa mereka sadari ada beberapa orang yang tengah melihat kejadian itu. Beberapa orang itu mendekat kearah dua sejoli yang masih saling menatap mesra.


"Hmm... Hmm..."


Deheman dari beberapa orang yang hadir membuyarkan adegan romantis itu dan seketika saja kedua sejoli itu mengalihkan pandangannya kearah lain. Wajah mereka memerah bahkan kini terlihat salah tingkah akibat terciduk saling tatap-tatapan. Orang yang datang itu adalah kedua orangtua Andre dan ketiga anaknya.


"Udah lah, Ndre. Kalau memang cinta ya katakan cinta, nggak usah gengsi" sindir Mama Anisa.


"Biarin aja, ma. Biar Nadia diambil sama Parno" sambar Papa Reza.


Andre yang mendengar ucapan dari mama dan papanya pun seketika saja memelototkan matanya kemudian menarik tangan Nadia agar gadis itu mendekat kearahnya. Sedangkan Anara, Abel, dan Arnold yang melihat kejadian itu hanya memiringkan kepalanya karena tidak paham dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Nadia yang tangannya ditarik tiba-tiba oleh Andre mengernyitkan dahinya heran, pasalnya raut wajah Andre terlihat sangat panik dan takut. Sedangkan Mama Anisa dan Papa Reza hanya tersenyum mencibir melihat hal itu.


"Anara, Abel, Arnold... Kamu mau punya mama baru nggak?" tanya Andre tiba-tiba.


Andre mensejajarkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi ketiga anaknya. Ketiganya terdiam mencerna maksud dari ucapan papanya itu. Abel seketika saja langsung menampilkan raut wajah ketakutan dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Nggak... Nggak mau, Abel nggak mau punya mama. Nanti Abel di pukul-pukul dan dibentak lagi. Enggak..." seru Abel histeris.


Abel terlihat histeris bahkan menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil menangis. Anara dan Arnold seketika saja ditarik menjauh dari Abel oleh Papa Reza. Sedangkan Andre dan Nadia segera menarik tubuh Abel untuk masuk kedalam pelukannya. Nadia terus membisikkan kalimat penenang untuk gadis kecil yang masih terlihat memberontak di pelukannya itu. Sedangkan Andre masih terus mengelus punggung anaknya dengan lembut, ia merasa sangat bersalah karena dengan cerobohnya menanyakan sesuatu yang masih sensitif bagi anak gadisnya itu.


Anara dan Arnold menangis terisak saat melihat keadaan Abel yang masih menangis histeris. Mama Anisa dan Papa Reza berusaha untuk menenangkan kedua cucu mereka.


"Nggak mau... Abel nggak mau punya mama" ucap Abel lirih.


"Sudah, ayo masuk dulu" sela Papa Reza.


Akhirnya semua menganggukkan kepala kemudian mereka masuk kedalam rumah dengan Abel yang tertidur di gendongan Nadia. Sedangkan Papa Reza segera menggendong Anara dan Andre membawa Arnold. Mama Anisa segera menyusul semua keluarganya yang sudah masuk terlebih dahulu.


Akhirnya ketiga bocah kecil itu ditidurkan di kamar kemudian semua orang dewasa keluar. Andre meminta semuanya untuk duduk di ruang keluarga dahulu. Nadia hanya menghela nafasnya pelan karena lagi-lagi dia harus pulang malam, padahal ia sudah tak sabar ingin menceritakan tentang Parno pada orangtuanya.


***


Sesampainya di ruang tamu dan semuanya telah duduk, Andre segera mengucapkan keinginannya pada kedua orangtuanya.


"Ma, Pa... Aku serius dengan ucapanku tadi bahwa aku ingin menikah dengan Nadia" ucap Andre dengan tegas.

__ADS_1


Mama Anisa dan Papa Reza hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing, sedangkan Nadia hanya mendengus kasar. Entah mengapa kali ini Nadia kurang setuju dengan pernyataan Andre karena waktu yang tidak tepat untuk membahas hal ini. Terlebih kondisi Abel yang belum bisa menerima seseorang yang biasa disebut dengan mama.


"Alangkah lebih baiknya kita bicarakan hal ini kalau memang Abel sudah siap menerima orang baru sebagai mamanya. Lagi pula pastikan dulu perasaan anda pada saya, tuan Andre. Saya tak ingin menikah dengan orang yang masih bermasalah dengan masa lalunya, begitupun saya yang harus menyelesaikan masalah saya dengan Parno" ucap Nadia.


Masalah dengan Aneta dan Parno saja belum selesai, masa iya mau membicarakan tentang pernikahan. Nadia berpikir untuk menyelesaikan semua masalahnya terlebih dahulu baru memikirkan tentang pernikahan, lagi pula mereka belum lama saling mengenal.


"Huft... Aku sudah menyakinkan hatiku kalau aku memang mencintaimu, Nad. Tentang masa laluku dengan mantan istriku dan juga kamu dengan Parno, aku mohon kita bersama-sama melewati semua masalah ini. Aku akan membantu menyelesaikan masalahmu begitu pula denganmu" ucap Andre dengan tatapan permohonan.


"Kalau memang Nadia belum mau menikah dulu, kalian bisa pacaran dulu agar bisa mengenal satu sama lain. Kalau misal nanti di pertengahan jalan kalian tidak cocok, ya sudah berarti tak perlu lanjut ke jenjang pernikahan. Karena sepertinya Abel juga belum siap untuk mempunyai mama baru" sela Mama Anisa.


"Takkan aku lepaskan kamu, Nad. Kalaupun nanti di pertengahan jalan kita tak ada kecocokan, akan aku paksa menjadi cocok" batin Andre.


Mama Anisa, Andre, dan Papa Reza menatap kearah Nadia yang sedang menundukkan kepalanya gugup. Pasalnya selama ini dia belum pernah pacaran, sekalinya mau pacaran tetapi dijodohin sama orangtuanya dengan laki-laki kemayu membuatnya sedikit kapok.


"Kita pacaran dulu ya, Nad" ucap Andre sambil memegang tangan gadis itu.


Nadia menghela nafasnya pelan, kemudian menatap mata Andre yang memberikan tatapan lembutnya.


"Huft... Iya aku mau jadi pacarnya Tuan Andre" ucap Nadia.


Andre yang mendengar itu seketika menghela nafasnya lega, bahkan kini ia tersenyum lebar karena keinginannya tercapai.


"Kok masih tuan sih Nad, dia kan udah jadi pacar kamu. Panggil sayang, bebeb, atau honey gitu biar romantis" goda Mama Anisa.


Nadia yang melihat itu hanya menundukkan kepalanya karena wajahnya memerah malu, sedangkan Andre hanya geleng-geleng kepala menanggapi godaan mamanya.

__ADS_1


__ADS_2