Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Sadar


__ADS_3

Andre duduk di balkon kamarnya sambil merokok dan mata menatap lurus ke depan. Hanya ada ekspresi datar yang ditunjukkan oleh wajah laki-laki itu. Pikirannya bercabang hingga sampai saat ini dia tak bisa berpikiran jernih. Masalah perusahaan yang begitu banyak setelah beberapa bulan ia tinggalkan menjadi dalang utamanya, bahkan ia mengalami kerugian besar.


Papa Reza juga mengetahui hal itu namun memilih diam dan tetap mengerjakan sambil mencari solusi yang tepat. Pikiran-pikiran buruk yang ada di kepala Andre itu yang membuatnya lebih sensitif dari biasanya. Bahkan walaupun itu hanya bercandaan seperti apa yang dilakukan oleh Arnold tadi, membuatnya gelap mata. Sudah sedari sebelum pernikahan kemarin terjadi masalah ini ada dan puncaknya adalah tadi pagi setelah dia mengantar istri dan anaknya ke sekolah.


Dia mendapatkan kabar dari papa dan anak buah kepercayaannya ternyata ada beberapa proyek yang disabotase oleh orang-orang tak dikenal. Hal ini mengakibatkan beberapa proyek terancam gagal kembali membuat Andre stress bukan main sehingga anaknya lah yang menjadi korban pelampiasan emosinya.


"Kalau gue rugi besar kali ini, semua aset-aset yang ku simpan selama ini pasti akan melayang. Mau hidupin keluarga gue gimana kalau kaya gini?" gumam Andre disela-sela menghirup rokoknya.


Andre memilih untuk keluar kamarnya kemudian memutuskan pergi ke perusahaannya. Ia tak ingin perusahaan yang dibangun keluarganya bangkrut begitu saja karena ulah oknum-oknum tak dikenal. Dia harus membereskan tikus-tikus yang berkeliaran dalam perusahaannya karena Andre yakin kalau ada yang menjadi pengkhianat sehingga beberapa proyek gagal.


Saat berada di ruang keluarga, dahinya mengernyit heran ketika rumahnya terlihat sangat sepi. Sepertinya Andre sedang lupa ingatan bahwa tadi menyuruh Nadia untuk mengurus anaknya disaat istrinya membutuhkan dirinya untuk diantar ke rumah sakit.


"Mbok Imah..." seru Andre memanggil ART di rumahnya.


Mbok Imah yang berada di dapur segera saja berlari tergopoh-gopoh menuju majikannya yang tengah memanggil dirinya. Sesampainya didekat Andre, Mbok Imah segera menghadap kearah majikannya itu.


"Ada apa, den?" tanya Mbok Imah.


"Nadia sama anak-anak kemana?" tanya Andre dengan bingung.


Mbok Imah yang mendengar pertanyaan Andre pun dibuat kebingungan, pasalnya sedari tadi majikannya di rumah namun tak tahu jika anaknya masuk rumah sakit. Sebenarnya rumah tangga seperti apa yang dibangun oleh Nadia dan Andre sampai masalah seperti ini saja sudah kacau padahal baru satu hari menikah.

__ADS_1


"Den Arnold dan Neng Abel kan dibawa ke rumah sakit sama Neng Nadia. Memangnya Den Andre tak diberitahu?" tanya Mbok Imah.


Andre yang mendengar jawaban Mbok Imah pun seketika tersadar bahkan tubuhnya membeku. Dia baru saja ingat kalau Nadia memintanya untuk mengantar anaknya ke rumah sakit dan ia menolaknya. Tanpa berpamitan, Andre segera saja berlalu pergi dari hadapan Mbok Imah.


"Maafkan papa, nak" gumam Andre lirih sambil terus fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Andre merasa sangat bersalah pada ketiga anak dan juga istrinya itu. Akibat terlalu memikirkan perusahaannya yang sedang dirundung kerugian besar, dia sampai melakukan kesalahan fatal pada keluarganya. Ia juga yakin kalau sekarang kedua orangtuanya pasti sudah berada di rumah sakit.


Kini ia juga melupakan tentang akan pergi ke perusahaannya dan lebih memilih membelokkan mobilnya ke rumah sakit.


***


Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mobil yang Andre kendarai sampai juga di halaman parkir rumah sakit. Andre segera saja turun dari mobilnya kemudian berlari kecil menuju ruang resepsionis.


"Sebentar ya tuan, biar saya cek dulu" ucap resepsionis itu dengan ramah.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya resepsionis itu memberitahukan bahwa nama yang dicarinya berada di ruang IGD. Akhirnya setelah mengetahui dimana keberadaan anak dan istrinya, Andre segera saja berlalu dari sana. Andre berjalan cepat dan terlihatlah bahwa ada istri, anak, serta kedua orangtuanya tengah duduk didepan ruang IGD.


"Bagaimana dengan keadaan Abel dan Arnold?" tanya Andre tiba-tiba membuat semua orang yang ada disana mengalihkan pandangannya.


Anara yang melihat adanya Andre langsung saja menyembunyikan wajahnya di ketiak Nadia. Hal itu membuat hati Andre tersentil karena anaknya sendiri takut melihatnya. Sedangkan Nadia, Mama Anisa, dan Papa Reza hanya menatap datar kearah Andre dengan mulut tertutup rapat.

__ADS_1


"Ayolah ma, pa, Nadia. Bagaimana dengan keadaan kedua anakku didalam?" tanya Andre frustasi karena tak ada yang mau menjawabnya.


"Mata kau buta, kami saja masih diluar dan belum masuk kedalam. Bahkan pintunya masih tertutup rapat, bagaimana kita bisa tahu kondisi kedua cucuku itu" ketus Mama Anisa menatap sinis kearah Andre.


Andre yang mendengar ucapan mamanya yang terkesan ketus bahkan sinis terhadapnya pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia sudah tahu kesalahannya bahkan konsekuensi dari perbuatannya itu. Andre pun memutuskan untuk duduk disamping Nadia sambil menunggu dokter dan perawat keluar.


"Eits... Mau ngapain kau duduk didekat Nadia dan cucuku? Kuman dilarang mendekat" larang Mama Anisa dengan tatapan tajamnya.


Karena Andre tak ingin membuat keributan, akhirnya ia memilih duduk di kursi tunggu seberang keluarganya. Walaupun sebenarnya ia ingin protes kepada mamanya itu karena menganggap dirinya kuman bahkan tak boleh dekat-dekat pada anak dan istrinya. Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang IGD.


Ceklek...


Semua orang yang menunggu pun akhirnya berdiri kecuali Anara yang berada di gendongan Nadia. Mereka segera mendekat kearah dokter yang memeriksa kedua bocah kecil anggota keluarga Farda itu.


"Bagaimana dengan keadaan cucu saya, dok?" tanya Mama Anisa dengan cepat.


"Saya sarankan untuk kedua cucu anda untuk berkonsultasi ke dokter spesialis kejiwaan atau psikiater. Jiwanya terguncang bahkan sedari tadi kami sudah mencoba menyadarkan keduanya, namun hanya tatapan kosong saja yang terlihat. Bahkan ketika kami ajak berbicara, tak ada respons apapun. Tadi kami sudah mendatangkan psikiater juga namun beliau mengatakan akan melakukan observasi terlebih dahulu" ucap dokter itu.


Badan Nadia dan Mama Anisa lemas seketika bahkan kaki keduanya seperti jelly. Anara yang berada di gendongan Nadia pun memilih turun kemudian menarik tangan Nadia agar duduk begitupun dengan Mama Anisa yang dipapah Papa Reza. Hati keduanya hancur, bukan hanya Abel yang mengalami shock namun ternyata Arnold juga.


Sedangkan Andre hanya bisa menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air mata yang sedari tadi ingin keluar. Gara-gara dirinya, kedua anaknya mengalami hal ini. Dia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada kedua anaknya.

__ADS_1


"Kami sudah memberikan obat penenang sehingga pasien saat ini tengah istirahat. Untuk sementara waktu, keduanya dianjurkan untuk rawat inap terlebih dahulu" lanjutnya.


Papa Reza menganggukkan kepalanya kemudian dokter dan perawat itu pamit. Semuanya masih shock setelah mendengar ucapan dokter itu, bahkan Nadia sudah menangis di pelukan Anara. Tiba-tiba saja Mama Anisa berdiri...


__ADS_2