Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Selamat Ulang Tahun, Bunda


__ADS_3

Keempat bocah kecil sedang berada didalam kamar mereka. Para orang dewasa sudah masuk dalam kamarnya masing-masing. Tadi mereka pura-pura tidur kemudian setelah kedua orangtuanya pergi langsung saja terbangun dan berdiskusi. Kini mereka tengah membahas acara ulang tahun bundanya esok hari.


"Kita mau kasih kado apa besok buat bunda?" tanya Abel.


"Arnold belum kerja jadi nggak punya uang. Kasih kado yang nggak pakai uang dan tak perlu beli" ucap Arnold sambil berpikir.


"Nggak modal kamu, dek. Pakai dong celengan ayammu itu" sindir Anara.


"Wooo... Iya, Arnold lupa kalau punya tabungan, tapi aku pengen kasih sesuatu dari hasil kerja kerasku bukan dari hasil nabung uang yang dikasih bunda dan nenek" ucap Arnold yang kembali berpikir.


Anara dan Abel pun membiarkan adiknya itu berpikir, lagi pula kecerdasan Arnold itu membuat dia tak mau menerima saran dari oraglain. Saran dari oranglain selalu dianggapnya tak lebih daripada idenya. Sedangkan Alan meletakkan kepalanya diatas paha Arnold karena sebenarnya dia telah mengantuk.


"Alan, bantuin abang mikir dong. Jangan tidur" ucap Arnold sambil menusuk-nusuk pipi bulat adiknya.


Bahkan Alan kini sudah menguap berulang kali dan matanya terlihat sayu. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam yang artinya ini sudah melebihi waktu tidurnya. Alan selalu menepis jari telunjuk Arnold agar berhenti mengganggunya. Dan tak berapa lama, Alan sudah tertidur pulas dengan kepala yang ada dipangkuan kakaknya. Arnold menghembuskan nafasnya pasrah melihat adiknya tak bisa memberikan ide.


"Aku udah dapat ide" seru Anara dengan bangga.


"Aku juga" ucap Abel tiba-tiba menyahuti ucapan kembarannya.


"Emang kalian mau kasih kado apa ke bunda?" tanya Arnold penasaran.


"Rahasia" ucap keduanya serentak.


Arnold yang mendengar hal itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kesal. Otaknya yang biasanya kreatif kini seakan buntu karena dia memikirkan sesuatu hal yang sangat sulit menurutnya. Bundanya itu terlalu spesial untuk diberikan kado yang biasa-biasa saja. Padahal Nadia tak pernah meminta sesuatu yang sulit, cukup keluarga terutama anak-anaknya saling rukun itu sudah hal paling penting.


Abel dan Anara langsung tidur setelah mencoba berdiskusi tentang kado yang akan diberikan kepada Nadia. Mereka meninggalkan Arnold yang masih kebingungan dengan tertidur pulas, menyusul Alan yang telah masuk dalam alam mimpi.

__ADS_1


"Napa ndak ada yang bantuin Arnold buat kasih ide kado buat bunda? Semuanya malah pada tidur. Ndak plend emang mereka, terus Arnold diskusi sama siapa? Masa sama tembok" gerutu Arnold.


Karena lelah dan mengantuk, akhirnya Arnold memutuskan untuk tidur menyusul ketiga saudaranya yang lain. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi esok, semoga saja di alam mimpi nanti bisa menemukan sesuatu yang istimewa buat bundanya.


***


Keesokan harinya adalah tepat hari sabtu, semua orang berada di rumah karena memang weekend semua aktifitas bekerja dan sekolah libur. Keempat bocah kecil yang semalam berdiskusi itu masih tertidur dengan lelapnya tanpa terganggu walaupun sudah dibangunkan oleh bundanya.


"Nak, bangun yuk. Udah siang ini lho" ucap Nadia sambil mengusap kepala Arnold dengan lembut.


"10 jam lagi bunda" elak Arnold yang kemudian membalikkan badannya membelakangi Nadia.


Nadia yang mendengar jawaban dari Arnold hanya bisa menganga lebar. Terlebih jawabannya itu sungguh tak masuk akal karena berarti akan tidur selama seharian ini. Nadia juga bingung dengan anak-anaknya yang tak biasanya dibangunkan akan susah seperti ini.


"Mana ada kaya gitu, nak. Ini udah jam 9 lho, ayo bangun, mandi, terus sarapan" ucap Nadia.


Keduanya hanya menggeliat saja kemudian mengubah posisi tidurnya, hal ini membuat Nadia curiga. Tak berapa lama Andre masuk dalam kamar anak-anaknya. Sedari tadi ia sudah menunggu istri dan anak-anaknya namun tak juga muncul membuatnya memutuskan untuk menyusul mereka.


"Mereka belum bangun juga?" tanya Andre heran.


"Iya nih, pa. Nggak tahu juga kok susah dibangunin, padahal semalam saja tidurnya juga tepat waktu kan" ucap Nadia bingung.


"Kalau dalam hitungan tiga kalian nggak bangun, nggak ada jalan-jalan weekend ini" ancam Andre tiba-tiba setelah mendengar penjelasan istrinya.


Sontak saja semua yang mendengar hal itu langsung bangun dan menegakkan badannya dengan mata tertutup. Andre dan Nadia yang melihat hal itu tertawa karena tingkah mereka yang begitu lucu dan kompak.


"Selamat ulang tahun bunda" seru keempatnya bersamaan kemudian merebahkan badannya lagi keatas kasur.

__ADS_1


Ternyata mereka yang masih setengah sadar itu menegakkan badannya karena mengingat jika hari ini adalah ulang tahun bundanya. Hal ini tentunya membuat Nadia begitu terharu walaupun awalnya akan menegur mereka karena susah dibangunkan. Andre pun langsung memeluk istrinya, bahkan ia sendiri lupa dengan ulang tahun Nadia. Namun dirinya sungguh beruntung kalau anaknya ternyata mengingatnya membuat kekesalannya hilang.


"Selamat ulangtahun, bunda. Maaf karena papa baru ingat kalau hari ini adalah hari kelahiranmu. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan selalu menjadi cahaya untuk keluarga kita" ucap Andre dengan tulus.


"Terimakasih papa" ucap Nadia dengan mata yang berkaca-kaca.


Andre langsung memeluk istrinya itu dengan erat begitu pula dengan Nadia. Nadia sungguh bahagia, walaupun tak ada kue atau kejutan mewah namun hal sederhana begini saja membuatnya terharu dan merasa diistimewakan.


"Woooo... Pelukan nggak ajak-ajak" seru keempat bocah kecil yang ada diatas kasur.


Sebenarnya mereka sudah bangun namun ingin menyaksikan keromantisan kedua orangtuanya membuatnya pura-pura masih tidur. Sontak saja Nadia dan Andre melepaskan pelukan diantara keduanya kemudian menatap menyelidik kearah keempat anaknya.


"Wah... Sekarang anak-anak papa udah pintar bohong ya" ucap Andre dengan tatapan menyelidik.


"Masih mending kita bohong demi kebaikan, yang penting ingat dengan hari ulang tahun bunda" sindir Arnold.


Andre hanya bisa salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal setelah mendapat sindiran dari Arnold. Anaknya satu ini memang pintar sekali kalau membalas ucapan seseorang.


"Tapi tetap aja kalian salah, masa ada bohong demi kebaikan" ucap Andre tak terima.


"Weee... Ada lho, kebaikannya adalah papa beruntung bisa peluk bunda. Coba kalau kita tadi bangun, pasti kami nggak akan ngebolehin kalian buat pelukan" ucap Arnold dengan menatap julid papanya.


Mama Anisa terkekeh pelan melihat suaminya tak bisa menjawab ucapan dari anaknya. Andre hanya bisa mengelus dadanya sabar melihat anaknya pintar sekali berbicara. Keempat bocah kecil itu langsung saja merangkak kearah Nadia kemudian memeluknya secara bersamaan.


"I love you, bunda" seru Arnold, Anara, dan Abel bersamaan.


"Ndaaaaa...." seru Alan yang ingin seperti ketiga kakaknya.

__ADS_1


Nadia memeluk keempat anaknya dengan sayang. Ia begitu terharu dengan apa yang dilakukan oleh keempat anaknya ini bahkan matanya sampai berkaca-kaca.


__ADS_2