
Setelah kejadian kemarin, Andre benar-benar sudah tak mau jika saat ada acara apapun nanti akan diserahkan kepengurusannya kepada Arnold. Ia tak mau acara yang semulanya untuk senang-senang berubah haluan menjadi horor kembali. Ia akan mencari EO yang memang sudah profesional dalam mengatur acara atau mungkin langsung lewat mamanya tanpa sepengetahuan Arnold.
"Padahal kalau lewat Arnold biayanya jauh lebih murah lho, bahkan gratis" ucap Arnold mencoba melakukan penawaran pada papanya.
Namun Andre sudah pada keputusannya kalau takkan menggunakan jasa Arnold. Pasalnya sama saja nanti juga harus memberikannya uang agar bisa membantunya mengawasi saudaranya yang lain agar tak mengganggu acara. Dan itu jumlahnya tak sedikit bahkan Andre yakin jika anaknya itu sedang punya banyak uang.
***
"Gimana kejutannya semalam, Ndre?" tanya Papa Reza sedikit meledek.
Bahkan wajahnya berubah menjadi tengil saat meledek anaknya itu. Andre yang tahu kalau dirinya tengah disindir dan diledek pun hanya menatap sinis kearah sang papa.
"Pasti romantis banget kan?" lanjutnya.
Andre yang kesal pun menendang kaki papanya membuat laki-laki paruh baya itu mengaduh kesakitan. Bahkan ia menatap papanya dengan tatapan permusuhan karena sepertinya sifat tengil Arnold itu memang berasal dari Papa Reza.
"Saking romantisnya, balik masuk rumah jadi kaya habis ziarah kubur" jawab Andre ketus.
Tadi setelah Papa Reza dan Mama Anisa emmbantu membersihkan halaman belakang rumah, keduanya langsung saja masuk kamar dan membersihkan diri. Saat ini Papa Reza telah berada di ruang makan bersama dengan Andre sedangkan yang lainnya masih berada di ruang keluarga. Entah apa yang dibicarakan oleh para wanita dan anak-anak itu membuatnya memilih menyingkir.
"Ya gimana, anakmu itu memang pikirannya sangat ajaib membuat kami saja hanya bisa geleng-geleng kepala" ucap Papa Reza.
"Lalu uang yang waktu itu aku transfer ke mama sisanya kemana, pa? Bukannya dengan dekorasi bahkan bahan seadanya itu pengeluaran juga sedikit" tanya Andre.
Bukan maksud dia perhitungan tentang uang, hanya saja ia hanya ingin meyakinkan diri tentang pemikirannya saja. Sebelumnya ia berpikir bahwa uang sisanya itu akan masuk dalam kantong anak laki-lakinya itu terlebih Arnold sudah membantunya untuk menjaga ketiga saudaranya agar tak rewel saat tak ada sang bunda.
__ADS_1
"Tanya aja sama mama dan anakmu itu" jawab Papa Reza dengan senyumannya.
Andre hanya menganggukkan kepalanya kemudian meminum kopinya dengan sedikit-sedikit. Tak berapa lama, Nadia, Mama Anisa, dan ketiga bocah kecil itu berjalan memasuki ruang makan. Kali ini mereka akan mengadakan makan siang bersama yang kebetulan hari ini adalah hari libur.
Mereka semua pun akhirnya makan bersama dengan suasana hening, terlebih sang pionir Arnold entah kenapa terlihat lebih pendiam. Padahal setelah kejadian kemarin, tak ada yang namanya memarahinya bocah laki-laki itu. Bahkan Andre pun hanya melayangkan protes saja namun tak memarahinya.
***
"Ayo kita ke mall" ajak Arnold dengan semangat kepada ketiga saudaranya yang tengah sibuk dengan tayangan kartunnya.
"Nggak punya uang" jawab ketiga saudaranya dengan serentak.
Sontak saja Arnold tersenyum penuh misterius mendengar jawaban dari ketiga saudaranya itu. Arnold terus membujuk mereka agar mau ikut dengannya ke mall dengan cara mentraktirnya makan atau belanjaan. Walaupun mereka bingung Arnold dapat uang darimana, tetapi karena terus didesak membuatnya segera saja bersiap-siap.
"Kalian mau kemana?" tanya Nadia heran.
"Kita mau ke mall, bunda. Diajak Arnold" jawab Abel.
Nadia sontak saja menatap Abel dengan tatapan herannya, pasalnya tadi saat bertemu di ruang keluarga juga Arnold tak memberitahu apapun tentang rencana mereka ini. Akhirnya Nadia memutuskan untuk ikut turun lagi bersama ketiga anaknya agar bisa menemui Arnold.
"Kamu mau ke mall kok nggak ijin sama bunda dulu?" tanya Nadia langsung pada anak laki-lakinya itu.
"Maaf bunda, Arnold lupa" ucap Arnold dengan cengengesan.
"Kalau gitu bunda harus ikut. Bunda nggak akan ijinin kalian keluar tanpa sepengetahuan dan pengawasan dari orang dewasa" ucap Nadia dengan tegas.
__ADS_1
Arnold hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sebenarnya dia ingin melakukan quality time bersama dengan ketiga saudaranya tanpa adanya orangtua yang mengawasi. Namun saat melihat tatapan Nadia yang garang seperti akan menerkamnya pun akhirnya membuat Arnold menganggukkan kepalanya pasrah.
Tanpa banyak kata lagi, Nadia segera saja berlari naik tangga rumah untuk bersiap-siap. Sedangkan keempat anaknya menunggu di ruang keluarga dengan santai kecuali Arnold yang sudah mengerucutkan bibirnya. Tak berapa lama, Nadia datang sampai di ruang keluarga dengan senyuman manisnya.
"Ayo kita berangkat" seru Nadia.
"Ayo..." seru Anara, Abel, dan Alan.
Mereka berempat berjalan bersamaan keluar dari rumah sedangkan Arnold yang ditinggalkan begitu saja hanya bisa pasrah. Ia segera saja berjalan keluar rumah mengikuti semuanya yang sudah terlebih dahulu berjalan. Bahkan Nadia dan ketiga saudaranya telah berada didalam mobil saat dirinya keluar dari pintu rumah.
"Sepertinya ini karma karena kemarin ngerjain papa" gumam Arnold sambil berjalan menuju mobil.
***
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh sopir keluarga Farda sampai di sebuah mall terbesar di kota itu. Saat mereka berangkat tadi, Mama Anisa, Papa Reza, dan Andre sedang pergi keluar karena ada urusan penting yang tak Nadia ketahui. Kelimanya segera saja keluar dari mobil kemudian memasuki area mall.
Alan yang tak terbiasa dengan keramaian pun akhirnya memilih untuk meminta gendong sang bunda. Nadia berjalan sambil menggendong Alan sedangkan ketiga anaknya yang lain saling bergandengan tangan.
"Mau kemana dulu kita?" tanya Nadia.
"Kita kesana dulu" tunjuk Arnold pada sebuah toko perhiasan.
Nadia mengernyitkan dahinya heran saat melihat Arnold akan ke toko perhiasan. Pasalnya ia pikir jika anak-anaknya itu akan ke mall karena ingin ke arena bermain anak. Namun pada faktanya Arnold memilih ke toko perhiasan yang membuatnya bingung. Ia juga tak membawa uang banyak membuatnya sedikit ragu melangkahkan kakinya ke toko itu. Namun Arnold dan kedua kakaknya telah melangkahkan kakinya kesana terlebih dahulu membuat Nadia harus pergi kesana juga.
"Bunda, Arnold beli ini 3 ya" ucap Arnold meminta ijin.
__ADS_1
Kalung berjumlah tiga buah yang telah dipilih Arnold secepat kilat itu pun membuat Nadia begitu takjub. Pasalnya walaupun hanya dalam bentuk model yang sederhana namun ia yakin jika harganya begitu mahal. Pasalnya kalung itu bukanlah terbuat dari emas melainkan berlian asli membuatnya ragu-ragu untuk membelikannya.