Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
LDR


__ADS_3

Bulan ini Andre tengah berada di luar kota untuk mengurus proyek kerjasama pengembangan sebuah daerah wisata agar bisa meningkatkan perekonomian daerah setempat. Kerjasama itu melibatkan beberapa perusahaan property yang akan membangun beberapa vila dan fasilitas umum untuk disediakan di daerah itu. Area yang terpencil menjadi kendala atas perekonomian daerah itu yang semakin mundur sehingga berakibat pada pengangguran yang banyak dan sebagian memilih untuk pergi ke kota.


Andre dan yang lainnya akan berada disana selama satu bulan lamanya. Itu berarti Nadia dan Andre menjalani hubungan jarak jauh atau LDR. Sejak kemarin tiba di daerah itu, Andre sudah uring-uringan pasalnya disana sangat susah signal membuat komunikasinya dengan keluarga dan sang kekasih terhambat.


"Sialan... Bisa-bisanya di saat-saat seperti ini signalnya hilang-hilang" seru Andre yang kemudian membanting hpnya dikasur tempatnya menginap.


Tadi dirinya sedang menghubungi Nadia namun saat tersambung dan gadisnya itu mengangkat panggilannya, tiba-tiba saja berubah menjadi menghubungkan. Dia sungguh kesal berada disini, kalau saja proyek ini tak terencana satu tahun yang lalu pastinya dia sudah memilih membatalkannya.


"Sabar... Sabar... Nanti kalau udah nikah, kekepin terus. Kalau ada kerjaan di luar kota langsung bawa dan kunciin di kamar seharian" gumam Andre sambil mengelus dadanya.


Andre sudah membayangkan hari-harinya saat menikah nanti dengan Nadia, padahal realitanya adalah dia harus menghadapi ketiga bocah kecil lucu yang siap menggagalkan semua aksi romantisnya dengan sang istri kelak.


Setelah asyik dengan lamunannya, Andre segera bergegas berangkat ke area yang akan dijadikan proyek kerjasamanya bersama dengan rekan lainnya.


***


Sedangkan di rumah mewah milik Keluarga Farda...


Nadia juga tengah galau karena selama beberapa hari ini komunikasinya dengan Andre seakan sangat sulit. Dia selalu mendapatkan omelan-omelan dari ketiga anak Andre saat tak berhasil menghubungi laki-laki itu.


"Bunda, papa itu tinggal di hutan apa goa sih kok sampai nggak bisa ditelfon?" tanya Anara kesal.


"Ungkin cinyalna diakan cinga di utan" ucap Arnold asal.

__ADS_1


"Pokoknya bunda harus terus berusaha menghubungi papa sampai bisa. Masa kita nggak tanya kabar, udah makan atau mandi belum gitu sih" ucap Anara.


Nadia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat mendengar ucapan Anara, anak gadisnya ini sudah seperti bertanya ke pacarnya saja. Sedangkan Abel hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah kedua adiknya itu.


"Sinyal ponsel kan nggak bisa di prediksi, jadi memang harus dicoba setiap saat untuk menghubungi papa. Tapi bunda nggak bisa mencoba hal itu setiap detik atau menit karena kan harus jaga dan ngurusin kita" ucap Abel bijak.


"Nah... Pintar sekali anaknya bunda ini" puji Nadia dengan tersenyum manis.


Abel membalas pujian itu dengan senyuman yang begitu manisnya. Saat ini Abel sudah lebih baik kondisinya, terlebih ia juga sudah berani untuk mengatakan apa yang diinginkannya tanpa takut. Gadis kecil itu juga kini jauh lebih ceria dibandingkan saat awal bertemu. Andre dan kedua orangtuanya begitu bahagia melihat perkembangan Abel yang begitu cepat, bahkan dokter yang memeriksa pun terkejut akan hal itu.


"Anol uga pintal" seru Arnold tak terima jika hanya kakaknya yang dipuji.


"Oh baiklah... Kakak Anara dan adek Arnold juga sangat pintar. Anak bunda semuanya pintar" seru Nadia dengan antusias.


Ketiganya tersenyum melihat Nadia memuji semuanya, segera saja mereka menghambur ke pelukan gadis itu. Dengan sigap Nadia langsung memeluk balik ketiganya agar tak ada yang jatuh. Mereka berempat tertawa begitu bahagia dengan kegiatan sederhana ini.


"MasyaAllah... Mama bahagia ketiga cucu kita mendapatkan calon ibu yang begitu menyayangi mereka. Walaupun Nadia terkesan tomboy, cuek, dan urakan namun pada faktanya dia adalah perempuan sempurna yang dikirim Tuhan untuk anak dan cucu-cucu kita" lirih Mama Anisa.


"Iya, ma. Papa juga bahagia karena semenjak ada Nadia, hidup mereka jauh lebih berwarna. Memang benar perkataan orang bahwa don't judge people from the cover" ucap Papa Reza.


Mama Anisa hanya menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan suaminya itu. Keduanya terlarut dengan apa yang mereka lihat saat ini.


***

__ADS_1


Nadia pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki setelah berhasil menidurkan ketiga bocah kecil itu. Hari sudah menunjukkan malam hari dan tepat pukul setengah 9 malam. Awalnya Nadia akan diantarkan oleh Papa Reza atau satpam di rumah Andre, namun gadis itu menolak dengan alasan akan pergi membeli makan terlebih dahulu dan itu sangat lama. Akhirnya Mama Anisa terpaksa menuruti keputusan Nadia itu.


Dari kejauhan, Nadia melihat ada segerombolan preman yang tengah nongkrong di sebuah gardu tak jauh dari rumah kontrakannya. Namun bukan itu yang menarik perhatiannya, Nadia melihat ada seseorang yang dikenalnya tengah berada disana.


Seseorang itu adalah Parno. Laki-laki itu tak benar-benar menjalankan apa yang diperintahkan oleh Andre. Dia dan kedua orangtuanya masih ada di kota yang sama dengan Nadia, hanya saja Parno tak terlalu menampakkan wajahnya didepan gadis itu agar Andre tak menghajarnya lagi.


"Anak mami udah pintar merokok nih yeeee...." ejek Nadia saat jaraknya sudah dekat dengan gerombolan itu.


Semua orang disana seketika mengalihkan pandangannya, Parno dan para preman itu terkejut dengan kehadiran Parno. Para preman itu seketika ketakutan, pasalnya Nadia adalah yang menghajar area pribadi mereka dengan membabibuta waktu itu. Sedangkan Parno langsung melihat kearah sekitar untuk mengetahui adanya kehadiran Andre atau tidak disisi gadis itu.


"Nadia ngapain malam-malam begini disini? Nggak baik lho kalau seorang gadis jalan sendirian malam begini" ucap Parno dengan sedikit takut.


"Suka-suka gue lah, emang loe siapa ngatur-ngatur gue" ketus Nadia.


"Nadia, Parno kan cuma nanya baik-baik. Kok jawabnya nyolot sih?" kesal Parno dengan mencebikkan bibirnya.


Tingkah kemayu yang ditunjukkan Parno di hadapan Nadia dan teman-teman premannya seketika membuat semuanya bergidik ngeri. Para preman itu baru tahu kalau Parno mempunyai sikap seperti itu, pasalnya setiap bertemu maka laki-laki itu akan memasang wajah tegas dan seramnya.


"Gue nggak butuh ditanya sama loe. Harusnya gue yang tanya ngapain laki-laki jadi-jadian kaya loe ada ditempat seperti ini malam-malam? Mau cari pelanggan?" ejek Nadia.


"Ish... Nadia jahat. Parno itu laki-laki tulen ya, nih buktinya Parno bisa merokok" ucap Parno sambil menyebulkan asap kearah wajah Nadia.


Uhukkk... Uhukkk...

__ADS_1


"Sialan loe..." seru Nadia sambil terbatuk-batuk.


Nadia segera berlalu dari sana karena sudah tidak tahan dengan asap rokok yang disebulkan oleh Parno tadi. Sedangkan Parno sudah ketakutan jika Nadia mengadukan kejadian ini pada Andre. Para preman yang disana ikut pergi meninggalkan Parno yang masih melamun karena mereka tak mau berurusan dengan Nadia.


__ADS_2