Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Belajar Kelompok


__ADS_3

Keesokan harinya...


Hari ini adalah jatahnya belajar kelompok di rumah Abel dan Anara untuk pertama kalinya. Setelah bel pulang sekolah berbunyi tadi, mereka semua berkumpul di dekat lapangan basket. Ada Anara, Abel, Diani, Fabby, Nuri, Aldi, Dino, Rega, dan Didin yang akan ikut dalam belajar kelompok hari ini. Mereka memutuskan untuk naik mobil Abel dan Anara untuk menuju rumah keduanya.


Nadia dan wali siswa lainnya sudah memberikan nomor ponsel untuk saling berkomunikasi saat nanti akan mengantar jemput anak-anaknya saat melaksanakan belajar kelompok. Untuk Dino dan Didin yang orangtuanya tak mempunyai ponsel akan di fasilitasi mobil antar jemput oleh pemilik rumah yang akan dijadikan tempat belajar kelompok.


"Sudah siap semua?" tanya Anara dengan antusiasnya.


"Siap dong" jawab semuanya dengan semangat.


Mereka pun berjalan bersama dengan saling bergandengan tangan menuju mobil milik keluarga Anara dan Abel. Mobil yang digunakan kali ini adalah yang biasanya dipakai oleh Mama Anisa karena muatan kendaraannya jauh lebih banyak. Setelah semua masuk dalam mobil, kendaraan itu melaju menembus ramainya jalanan kota.


***


Nadia dan Mama Anisa sudah sibuk dengan berbagai cemilan serta minuman yang akan mereka sajikan kepada teman-teman Anara dan Abel. Bahkan keduanya juga memasak makan siang lebih banyak agar belajarnya lebih fokus. Sedangkan Arnold dan Alan hanya bisa menatap kedua wanita itu dengan tatapan yang aneh.


"Kenapa harus sibuk-sibuk bikin kue kering ya? Kan bisa beli, beres tenaga dan waktu" ucap Arnold memandang kedua wanita yang tampak sangat sibuk itu.


"Lang jaan" jawab Alan.


"Benar, mungkin mereka kurang kerjaan" timpal Arnold menyetujui ucapan adiknya itu.


Keduanya pun memilih menyingkir dari dapur kemudian berjalan menuju ruang keluarga. Daripada di dapur juga mereka diabaikan lebih baik mencari sesuatu yang bisa keduanya kerjakan.


***

__ADS_1


Tak berapa lama, mobil milik keluarga Farda masuk kedalam halaman rumah. Setelah mobil berhenti, semua turun kemudian berlari mengikuti Anara dan Abel yang sudah masuk ke rumah terlebih dahulu. Saat memasuki ruang keluarga, terlihatlah dua bocah laki-laki yang tengah sibuk berguling-gulingan di atas karpet. Keduanya sontak saja langsung bangun dari posisi rebahannya dan menatap banyak orang yang masuk dalam rumahnya. Disana mereka juga melihat kehadiran kedua kakaknya yang tersenyum menatap Arnold dan Alan.


"Wah... Banyak sekali teman-temannya kak Nara dan kak Bel" kagum Arnold sedangkan Alan hanya menganggukkan kepalanya.


"Iya dong. Makanya Arnold buruan cepat sekolah biar dapat teman banyak" ucap Anara dengan bangga.


"Kalau Arnold nggak mau punya teman banyak tuh. Aku maunya punya cewek banyak" ucap Arnold dengan percaya dirinya.


Semua teman-teman Anara dan Abel tentunya kagum dengan ucapan adik dari sahabat mereka itu. Sontak saja semuanya langsung berjalan mendekat kearah Arnold meninggalkan Anara dan Abel. Mereka langsung saja mencubit pipi Arnold dan Alan dengan gemasnya. Arnold dan Alan yang diperlakukan oleh orang asing seperti itu pun langsung saja memberontak. Mereka tak mau pipinya dicubiti oleh orang tak dikenal.


"Lucunya..." seru Diani sambil menguyel-uyel pipi Alan.


"Iya, kaya bakpao" ucap Fabby yang mencubit kecil pipi Arnold.


"Jangan pegang-pegang pipi kami. Ish... Pipi kami jadi ternoda" protes Arnold.


"Teman-teman, udah ya jangan mainin pipi adikku. Itu udah mau nangis lho" tegur Abel.


Sontak saja semuanya menghentikan kegiatannya di pipi dua bocah laki-laki itu. Mereka menatap Arnold dan Alan yang memang benar matanya terlihat sudah berkaca-kaca bahkan mungkin sebentar lagi akan menangis.


"Huaaaaa.... Nda...." tangis Alan menggelegar.


"Bunda, nenek... Huaaaa..." tangis Arnold menyusul adiknya.


Bahkan keduanya langsung berlari ke dapur dimana bunda dan nenek mereka berada meninggalkan teman-teman kakaknya yang merasa bersalah. Bahkan tangis keduanya masih terdengar dari arah dapur membuat mereka akhirnya menyusul Arnold dan Alan. Saat sampai di dapur, mereka melihat Arnold tengah berada di pelukan bundanya dan Alan dipeluk oleh sang nenek.

__ADS_1


"Maafkan kami tante, sudah membuat mereka menangis" seru semuanya sambil menundukkan kepalanya.


Nadia dan Mama Anisa langsung mengalihkan pandangannya kearah teman-teman Anara juga Abel. Bukannya marah, keduanya malah tersenyum. Mereka berdua masih berusaha untuk menenangkan Arnold dan Alan.


"Udah ya, jangan nangis lagi. Nanti sesak nafas lho, kalian kan memang lucu jadi wajar kalau ada yang gemas dengan kedua pipinya. Mereka udah minta maaf lho, sebagai ciptaan Tuhan yang baik kita harus saling memaafkan" ucap Nadia sambil mengelus punggung Arnold.


Arnold pun langsung melepaskan pelukannya dengan sang bunda kemudian menghadap kearah teman-teman kakaknya. Ia menghapus kasar air mata yang mengalir pada kedua pipinya kemudian menatap menyelidik kearah mereka.


"Kita maafin tapi jangan lagi pegang-pegang pipi Arnold dan adek Alan" peringat Arnold dengan mata melotot tajam.


Teman-teman Anara dan Abel pun akhirnya menegakkan kepalanya setelah mendengar ucapan dari Arnold. Bahkan mereka menganggukkan kepalanya secara bersamaan kemudian tersenyum bahagia. Mereka memilih langsung bersalaman tangan dengan dua bocah kecil itu secara bergantian.


"Ayo kita makan siang dulu sebelum kalian belajar bersama" ajak Nadia dengan lembut.


"Siap tante" seru semuanya.


Arnold dan Alan begitu bersemangat karena kini di rumahnya sangatlah ramai. Jika setiap harinya seperti ini tentunya mereka takkan kesepian. Namun tujuan teman-teman kakaknya itu ke rumah untuk belajar bersama, walaupun nantinya akan diganggu oleh Alan dan juga Arnold.


***


Setelah makan siang berakhir akhirnya Anara, Abel, dan teman-temannya pergi ke gazebo halaman belakang rumah keluarga Farda. Mereka akan belajar disana dengan sudah disediakannya fasilitas papan tulis, spidol, penghapus, dan beberapa cemilan. Bahkan Arnold dan Alan ikut duduk disana dengan membawa pensil juga buku tulis sendiri.


"Kita kerjain dulu PR matematikanya, kalau ada yang nggak bisa nanti yang paham kasih tahu didepan cara pengerjaannya" ucap Abel.


Semuanya mengangguk setuju kemudian fokus pada buku soal yang ada didepannya. Bahkan Arnold juga mencuri pandang pada soal yang ada di buku kakaknya itu. Ia menulis acak di buku tulisnya walaupun masih tak jelas penulisannya.

__ADS_1


"Wah... Ini jawabannya 20" seru Arnold setelah berhasil menjawab soal nomor 1 sambil bertepuk tangan sendiri.


Teman-teman Anara juga Abel begitu takjub dengan Arnold yang bisa menjawab pertanyaan matematika yang lumayan susah itu. Bahkan soal ini bukan hanya tentang penjumlahan, perkalian, pengurangan, atau pembagian saja namun akar kuadrat.


__ADS_2