Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kembalinya Arnold


__ADS_3

Hampir dua minggu Arnold dirawat di rumah sakit untuk dilakukan observasi mengenai kesehatan fisik dan psikisnya. Hari ini adalah hari kepulangannya karena kakinya yang nyeri akibat pukulan sapu itu telah sembuh bahkan keadaan mentalnya juga semakin baik. Ini semua berkat dukungan dari keluarganya yang begitu setia menghibur dan menjaganya secara bergantian.


"Apa nanti Arnold akan disambut kaya waktu kakak Abel dan bunda pulang dari rumah sakit?" tanya Arnold kepada papanya.


Hari ini hanya Andre dan Papa Reza saja yang menjemput Arnold pulang karena yang perempuan sedang di rumah menyiapkan sesuatu tanpa diketahui oleh bocah kecil itu dan kedua laki-laki dewasa itu. Arnold menatap papa dan kakeknya seakan menuntut jawaban yang membuat hatinya bahagia.


Namun yang dilihat oleh Arnold adalah wajah-wajah kebingungan untuk menjawab. Arnold melihat jika papa dan kakeknya itu tak tahu menahu tentang adanya kejutan atau tidak pasalnya hari ini memang yang perempuan hanya pamit akan belanja sebagai alasan tak bisa menjemput bocah laki-laki itu.


Arnold menghela nafasnya pasrah dengan menyembunyikan segala kekecewaan yang masuk dalam hatinya. Ia ingin bunda dan saudaranya yang lain menyambutnya dengan pesta kecil-kecilan seperti dulu ia melakukannya. Papa Reza hanya memandang cucunya kasihan karena sepertinya para perempuan memang tak sekreatif Arnold dalam menyiapkan suatu pesta.


"Kalau memang nanti tak ada pesta kejutan untukmu, kita habiskan hari dengan makan siang bertiga dengan restorant mewah" ucap Papa Reza menenangka.


"Hah... Makan mewah di restorant terlalu biasa, Arnold nggak like" ucap Arnold lesu.


Papa Reza dan Andre hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal itu dengan tangannya. Mereka berdua juga sangat awam dalam hal kejutan seperti itu. Akhirnya dengan langkah lesunya Arnold berjalan meninggalkan Papa Reza dan Andre yang menatapnya dengan tatapan bersalah. Andre dan Papa Reza segera saja berjalan mengikuti langkah Arnold keluar dari rumah sakit.


***


Tak berapa lama mobil yang dikendarai oleh Andre itu masuk dalam gerbang rumah keluarga Farda. Dari luar, kondisi rumah tampaklah sepi seperti tak ada penghuninya. Ketiganya turun dengan Arnold yang masih tampak diam tanpa semangat.


"Aku jadi kasihan lihat Arnold" ucap Andre tiba-tiba kepada papanya yang berjalan disampingnya itu.


"Sama" ucap Papa Reza sambil menghela nafasnya pelan.

__ADS_1


Saat pintu terbuka, tiba-tiba saja suara sorakan langsung terdengar. Hal ini membuat Arnold, Papa Reza, dan Andre terkejut hingga memundurkan langkahnya. Terutama melihat dandanan dari Mama Anisa, Nadia, Anara, Abel, dan Alan yang membuat mereka benar-benar shock.


Kelima orang itu berdandan menggunakan kaos serta rok dengan rumbai-rumbai dari tali rafia warna warni bahkan rambut palsunya juga dari bahan yang sama. Mereka berlima bernyanyi dan berjoget dengan diiringi lagu salah satu sountrack piala dunia sepak bola dulu saat di Afrika.


Hahaha...


Tawa renyah Arnold melihat saudaranya terutama Arnold yang berjoget dengan menggoyangkan pinggulnya. Sungguh pemandangan yang membuat mereka semua bahagia. Bahkan Papa Reza dan Andre ikut-ikutan berjoget dengan mengambil rambut palsu yang dikenakan oleh Alan.


Melihat semua keluarganya menyambut dengan tingkah konyolnya membuat Arnold tak berhenti tertawa. Sungguh hal ini lah yang diinginkan oleh Arnold sejak kemarin saat dirinya dinyatakan akan pulang dari rumah sakit. Ternyata keluarganya begitu peka dengan apa yang diinginkan olehnya.


***


"Kenapa kalian tak berdiskusi dengan kami untuk mempersiapkan semuanya? Padahal kan Andre dan papa juga ingin berlatih joget agar gerakannya sama" keluh Andre.


"Papa kan nggak pintar joget, bisanya cuma tepuk tangan aja" sindir Arnold.


Memang benar, Andre dan Papa Reza tadi hanya bertepuk tangan dengan memutar badannya saja. Sedangkan yang lain bergerak sesuai dengan gerakan yang mereka buat bersama. Walaupun gerakan Arnold masih acak-acakan namun sudah sesuai temponya seperti yang lain.


Andre dan Papa Reza merasa tersindir dengan ucapan Arnold itu. Namun mereka tetap bahagia karena dengan seperti ini pun ternyata bisa menimbulkan sesuatu yang berbeda. Tiba-tiba saja Alan berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekat kearah Arnold.


"Bang, Alan unya ado uat bang" ucap Alan drngan senyuman cerianya.


Arnold yang menyandarkan kepalanya pada Nadia pun langsung menegakkan tubuhnya. Ia begitu penasaran dengan hadiah apa yang akan diberikan oleh saudaranya itu. Ia tak mengharapkan hadiah apapun dari saudaranya yang terpenting sambutan tadi lebih dari cukup.

__ADS_1


"Utup ata" titah Alan.


Dengan segera Arnold menutup matanya dengan antusias, begitupun dengan yang lainnya menatap penasaran dengan hadiah yang akan diberikan Alan. Mereka tak ada yang diberitahu oleh Alan perihal hadiah ini sehingga semuanya juga ikut terkejut.


"Angan intip ya, anti intitan" peringatnya dengan tegas kepada sang kakak yang hanya menganggukkan kepalanya.


Tak berapa lama Alan terlihat naik keatas kursi sofa yang ada disamping Nadia dan Arnold duduki. Ia memajukan wajah dan bibirnya dekat pada wajah Arnold kemudian menciumnya bertubi-tubi.


Arnold yang memejamkan matanya tentunya terkejut dengan perbuatan Alan yang mencium wajahnya bertubi-tubi hingga basah dengan air liur. Keluarganya yang lain hanya bisa melongo melihat hadiah yang dimaksud oleh Alan itu.


"Iuman kacih cayang dan mau dali Alan anteng" seru Alan dengan terus menciumi pipi kakaknya.


Cup... Cup... Cup...


Arnold yang risih wajahnya basah dengan air liur pun mencoba untuk mengelak bahkan langsung menyembunyikan wajahnya pada pelukan sang bunda. Sedangkan Alan yang melihat itu tak kehabisan cara, rambut Arnold lah yang kini menjadi sasaran ciuman bibir maut bocah kecil itu.


Semua orang akhirnya tertawa melihat Arnold yang pasrah dengan kelakuan adiknya. Akhirnya ada juga orang yang bisa mengimbangi kejahilan Arnold itu.


"Ata bang talo adiah tu ndak oleh eli ake wang, ini glatis lho iuman dali Alan tu" ucap Alan dengan bangganya.


"Tapi wajah dan rambut abang basah karena liur kamu, adek" gerutu Arnold.


"Ndak apa bang. Tu ekas anda inta dan kacih cayang dali Alan lho, halusnya bang halgai don" seru Alan tak terima atas gerutuan abangnya itu.

__ADS_1


Akhirnya Nadia memilih menggendong Arnold kemudian membawanya ke kamarnya untuk dimandikan sedangkan yang lainnya memilih masuk kedalam kamar masing-masing. Abel dan Anara langsung membawa Alan ke kamar mereka untuk bermain disana. Mereka akan keluar kamar saat nanti acara makan malam berlangsung terlebih Arnold masih dalam mode manjanya.


__ADS_2