Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Tetangga Julid


__ADS_3

Andre dan Nadia memutuskan untuk jalan-jalan sore bersama ketiga anaknya di sekitar komplek perumahan tempat tinggalnya. Beberapa orang yang tinggal disana juga terlihat berkumpul disebuah area taman bermain. Bukan hanya anak kecil namun orang dewasa juga banyak terutama ibu-ibu dan para pengasuh. Nadia dan Andre duduk tak jauh dari kumpulan ibu-ibu itu sedangkan ketiga anaknya sudah berlarian untuk bermain di wahana permainan yang disediakan.


"Eh... Jeng, lihat deh itu ada pasangan pengantin baru yang menikah kemarin. Kok belum kenalan sama kita-kita ya istrinya itu, padahal udah nungguin kue atau apalah gitu sebagai salam perkenalan" ucap salah satu ibu-ibu itu mulai menggunjing kedatangan Nadia.


"Ya mana dia tahu kalau disini tradisinya begitu, jeng. Setiap ada pendatang yang tinggal disini harus memberi salam perkenalan ke tetangga. Dia kan orang kampung katanya" timpal ibu-ibu lainnya.


Nadia dan Andre mendengar gunjingan-gunjingan yang dilayangkan para tetangga kepadanya. Nadia sudah mengetahui tentang harus memberikan salam perkenalan ketika menjadi warga di perumahan itu. Namun apalah daya Nadia yang baru dua hari tinggal bersama dengan suaminya harus dihadapkan pada ujian kedua anaknya masuk ke rumah sakit. Ia belum sempat membeli apapun, terlebih kemarin baru sampai di rumah dan langsung beristirahat.


Andre yang ingin menegur ibu-ibu itu seketika saja gerakannya terhenti karena Naia memegang erat telapak tangannya. Nadia mengelus lengan suaminya agar menetralkan emosinya karena tetangga julid itu. Andre sudah mendengus kesal bahkan dadanya naik turun karena emosinya. Ia tak terima istrinya disindir-sindir begitu.


"Biarin dulu, kalau mereka udah keterlaluan biar aku yang maju" bisik Nadia tepat ditelinga suaminya itu.


Andre hanya menganggukkan kepalanya menuruti perintah dari istrinya itu. Ia kembali menyamankan posisi duduknya sambil mengawasi ketiga anaknya yang tengah bermain dengan cerianya. Tawa dan senyuman ketiganya membuat hati Andre lebih tenang.


Beberapa ibu-ibu masih melirik sinis kearah Nadia yang duduk tenang di kursi taman bermain itu. Ada sekitar delapan orang ibu-ibu bertempat tinggal di perumahan itu yang kini tengah berada di area taman bermain. Sedangkan para pengasuh berada didekat anak yang diasuhnya untuk menjaga mereka.

__ADS_1


"Orang kampung nikah sama duda kaya tinggalnya di kota. Ya begitulah, norak. Apalagi dia bukannya bekas pengasuh anak-anaknya Andre ya, oh jangan-jangan lakinya nikahin dia biar bisa dijadikan pembantu di rumahnya. Lumayan kan gratis" ucap ibu-ibu yang bernama Bu Ninda dengan pedas.


"Ya mbok biarkan to ya, kalian ini terlalu ikut campur urusan orang. Dia mau ngasih salah perkenalan kita terima, kalau enggak ya nggak papa" ucap Bu Arum yang memang terkenal bijak di lingkungan komplek.


"Bu Arum ini gimana sih? Ini kan sudah biasa dilakukan oleh warga baru, kalau nggak kaya gitu kita bisa saja nggak kenal lho antar sesama" ucap Bu Ninda kemudian diangguki oleh teman-temannya yang lain.


Nadia sudah mengepalkan kedua tangannya karena ia merasa tersinggung dengan ucapan ibu-ibu itu. Andre pun menatap istrinya yang kini tengah emosi mendengar ucapan menyakitkan itu.


"Kamu harus percaya kalau aku tak seperti itu. Aku menikahimu karena memang aku mencintaimu, walaupun awalnya aku jatuh cinta pada caramu mengasuh anak-anakku" bisik Andre.


Nadia menganggukkan kepalanya pertanda bahwa ia percaya dengan suaminya itu. Bahkan terlihat sekali kalau Andre tengah takut jika istrinya itu percaya pada ucapan ibu-ibu itu. Nadia segera saja berdiri dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan suaminya yang kebingungan. Nadia melangkahkan kakinya menuju ibu-ibu yang masih menggosipi dirinya itu.


Seketika saja ibu-ibu yang disana sebagian langsung menatap kearah Nadia dengan tatapan sinis. Sedangkan Bu Arum yang masih waras memilih tersenyum untuk menyambut kehadiran Nadia. Nadia duduk disebelah Bu Arum namun selama beberapa menit disana, istri Andre itu memandang semuanya heran pasalnya ibu-ibu yang tadi menggunjingnya sekarang terdiam.


"Tadi kayanya sebelum saya kesini, kalian sibuk sekali dengan ucapan-ucapan yang menggunjing saya. Kok setelah saya disini, kalian diam? Bukannya akan lebih baik jika menggunjing seseorang itu didepannya langsung ya" ucap Nadia menyindir.

__ADS_1


"Gini ya ibu-ibu, saya menanggapi ucapan kalian tadi mengenai saya yang belum memberi salam perkenalan yang katanya adalah tradisi di komplek ini sebagai warga baru. Kalau memang dengan salam perkenalan itu bisa membuat kehidupan antar warganya saling rukun dan membantu jika ada kesusahan, lalu saat kemarin Abel dan Arnold cucunya Mama Anisa masuk rumah sakit sehari setelah kami menikah apakah kalian ada yang tahu? Setahu saya kehidupan bertetangga itu kalau ada yang sakit kita jengukin atau sekedar menanyakan, jika ada yang meninggal kita membantu mempersiapkan dan yang lainnya. Bahkan saya dan anak-anak saja baru pulang kemarin siang dari rumah sakit" lanjutnya dengan sarkas.


Ucapan Nadia itu benar-benar menohok hati ibu-ibu yang sedari tadi julid pada dirinya. Terlebih mereka selama ini tak pernah peduli antar sesama tetangga. Entah yang kesusahan atau tertimpa sakit, yang terpenting bagi mereka adalah salam perkenalan.


"Kalau hanya kasih salam perkenalan lalu setiap harinya nggak mau kenal atau bantu antar tetangga ya buat apa? Sebenarnya saya mau memberikan salam perkenalan besok sekalian saya pergi belanja untuk kebutuhan rumah, namun setelah mendengar apa yang kalian ucapkan membuat saya berpikir ulang. Saya minta tolong untuk kalian, punya mulut dijaga takutnya nanti kebanyakan julid malah bibirnya jadi miring" lanjutnya.


Nadia segera saja berlalu dari hadapan ibu-ibu itu setelah memberikan ceramah panjang lebar. Sedangkan mereka semua hanya terdiam kecuali Bu Arum yang menampilkan senyum puasnya karena melihat Nadia berani melawan Bu Ninda. Akhirnya setelah Nadia pergi, kerumunan ibu-ibu seketika hening bahkan mereka terlihat menyibukkan diri dengan ponselnya masing-masing.


"Kamu hebat sayang" bisik Andre setelah Nadia duduk disampingnya kembali.


"Iya dong, istri Andre gitu loh" ucap Nadia dengan bangga.


Andre hanya tertawa melihat Nadia membanggakan dirinya. Sungguh ia beruntung mendapatkan seorang istri yang mampu mencairkan suasana di kala stress melanda. Andre melirik sekilas jam tangannya karena tak terasa matahari sudah berada di ufuk barat.


"Arnold, Abel, Anara... Ayo pulang" seru Andre.

__ADS_1


Langsung saja ketiga anak itu menghentikan acara bermainnya. Mereka segera saja berlari menuju kearah orangtuanya lalu menggandeng tangan keduanya. Mereka berlima berjalan dengan saling bergandengan tangan sambil tersenyum dengan bahagia. Namun tiba-tiba saja...


"Awas...."


__ADS_2