
Nenek Hulim dan Fikri yang mendengar kabar bahwa Anara juga Abel terserang demam karena terlalu lelah mengikuti jadwal tambahan belajar pun segera saja datang ke rumah Keluarga Farda. Padahal jam saat ini sudah menunjukkan waktu jam 7 malam. Nenek Hulim yang baru saja pulang dari kantor langsung meluncur ke rumah keluarga Farda setelah menjemput Fikri.
"Ada apa dengan kedua cucu cantikku itu?" tanya Nenek Hulim menginterogasi Mama Anisa dan Nadia.
Kini Nenek Hulim ada di kamar Anara dan Abel bersama dengan Mama Anisa juga Nadia. Sedangkan Fikri memilih duduk di ruang keluarga bersama kedua adiknya setelah makan malam usai. Mama Anisa dan Nadia saling memandang kemudian melempar senyum kearah Nenek Hulim yang kini menatap khawatir kedua cucu perempuannya.
"Kecapekan hingga demam. Kayanya mereka tenaga dan otaknya terlalu diforsir untuk belajar" ucap Nadia memberitahu.
"Lebih baik mundur saja itu dari olimpiade. Beruntung Fikri waktu itu baru satu kali ikut namun tak lolos seleksi di sekolahnya sehingga ia tak ikut maju mewakili sekolah untuk melaju ke Olimpiade Nasional. Kalau lolos bisa saja dia juga ikut sakit kaya gini" ucap Nenek Hulim geram.
Mama Anisa dan Nadia memahami apa yang diucapkan ole Nenek Hulim. Namun mereka juga tak bisa mengundurkan diri dari acara ini karena waktunya terlalu mepet. Terlebih Anara dan Abel kini menjadi dua orang terpilih untuk maju dalam Olimpiade ini. Mereka harus bernegosiasi dengan pihak sekolah untuk memberikan waktu istirahat lebih pada keduanya.
"Nggak bisa seenaknya mundur gitu, nek. Acaranya saja tinggal hitungan hari" ucap Nadia sambil terkekeh.
Nenek Hulim hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia merasa kasihan dengan Anara dan Abel yang masih kecil namun sudah merasakan beratnya belajar. Bisa-bisa terlalu berat dalam berpikir bisa mempengaruhi kondisi psikologisnya. Anak juga bisa saja trauma akan belajar karena terlalu ditekan.
Mereka bertiga kini memilih untuk keluar dari kamar kedua gadis kecil itu. Mereka membiarkan keduanya untuk istirahat agar besok bisa menjelaskan tentang kejadian hari ini. Terlebih saat sarapan akan berangkat sekolah tadi pagi yang keduanya terlihat lesu itu membuat Nadia dan Mama Anisa merasa kalau ini adalah penyebabnya.
***
__ADS_1
"Kak Ikli napa dalang ke lumah ngukin Alan? Alan kecepian lho dicini, coalna abang cibuk pacalan cama Kak Ilam" ucap Alan mengadu pada Fikri.
Arnold yang merasa dituduh oleh adiknya itu sontak menggeplak kaki adiknya hingga Alan langsung bangun dari baringannya. Alan tadi memang sedang baringan diatas karpet ruang keluarga dengan kepala yang dipangku oleh Fikri. Alan menatap julid kearah abangnya yang memandangnya sinis, sedangkan bocah cilik itu mengelus kakinya yang kini sedikit memerah.
"Mana ada abang pacaran mulu? Yang ada ya kamu itu setiap hari video call sama Cia. Mana tukang gombal lagi" ucap Arnold tak terima.
"Woh... Amana uga nanak uda. Abang tan udah tuwa, halusna cibuk cekolah uga kelja" ucap Alan memberi alasan.
Papa Reza dan Andre yang mendengar perdebatan antara keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala. Padahal keduanya belum paham mengenai apa itu pacaran namun dengan seenaknya sudah berani mendekati cewek. Hampir setiap hari juga Nadia selalu bercerita tentang Alan yang meminta melakukan video call dengan Cia.
Fikri yang melihat keduanya seperti itu kebingungan pasalnya dia memang belum mengenal siapa Cia. Kesibukan sang nenek yang bekerja membuat Fikri tak bisa bebas untuk bermain dengan kedua adiknya itu. Pasalnya Fikri memang dibatasi untuk keluar rumah karena Nenek Hulim khawatir akan keselamatan cucunya. Terlebih beliau mendengar kabar kalau anak dan menantunya itu akan segera bebas.
"Emmm... Tatek-tatek ungkin kak Ikli" ucap Alan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Arnold, Papa Reza, dan Andre tertawa mendengar Fikri ternistakan oleh ucapan dari Alan itu. Terlebih kini raut wajahnya sudah menekuk kesal karena ledekan dari lan. Namun lihat sang pelaku yang berbuat ulah ternyata dia malah dengan santainya merebahkan badannya itu diatas karpet sambil mengelus perutnya yang membuncit.
"Pelut Alan talo abis akan tok uncit cih. Ah ndak papa, yan enting cehat. Agian akanan na uga alal tok, ukan hacil kolupsi" gumam Alan pada dirinya sendiri.
Hahahaha...
__ADS_1
Fikri yang merasa gemas dengan Alan itu langsung saja mendekat kearah adiknya. Tiba-tiba saja dia langsung menciumi pipi bulat Alan membuat bocah kecil itu menggulingkan badannya berulangkali. Namun Fikri terus saja mengejarnya membuat Alan pasrah saja hingga tawa renyah terus keluar dari bibir mungil bocah cilik itu.
"Wah... Seru banget nih kayanya" ucap Nenek Hulim yang baru saja datang bersama dengan Nadia dan Mama Anisa.
"Nenek, tutuna nih akal cama Alan. Adahal Alan cedali adi dadi nanak pediam lho" ucap Alan yang kini sudah lelah tertawa.
Fikri juga sudah menghentikan kegiatannya itu membuat Alan langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Terlalu banyak tertawa membuatnya sedikit engap membuat bocah cilik itu kini langsung digendong oleh Nadia. Alan juga menatap sinis kearah Fikri yang kini tertawa puas melihat wajah memerah adik kecilnya itu.
"Pendiam darimana? Cerewet gitu kok" ucap Andre menggerutu.
Alan hanya menjulurkan lidahnya untuk meledek papanya itu, terlebih bocah kecil itu masih kesal dengan tingkah Andre yang tak sopan pada Nenek Darmi. Kejadian itu begitu membekas dalam ingatan Alan membuatnya berjanji dalam hati kalau ia tidak akan bertindak sesuatu yang membuat orangtuanya terluka.
"Sudah... Jadi gimana ini tentang Anara dan Abel? Apa perlu nenek yang datang ke sekolah untuk bernegosiasi dengan pihak sekolah. Nenek di sekolah itu juga punya andil karena masuk dalam jajaran petinggi yayasan sehingga akan sedikit mudah untuk mengevaluasi semua yang terjadi" ucap Nenek Hulim memberikan solusi.
Andre dan Papa Reza tentunya terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Nenek Hulim. Selama ini mereka sama sekali tak mengetahui tentang beberapa pengurus besar yayasan sekolah tersebut. Sekolah juga tak mempublikasikan siapa saja pengurus yayasan sekolah karena itu merupakan rahasia instansi tersebut.
"Untuk saat ini tidak perlu dulu, nek. Andre dan papa yang akan mengurus semuanya dulu. Kalau memang nanti akan alot dalam bernegosiasi, kami akan meminta bantuan nenek" ucap Andre menolak dengan halus.
Andre tak ingin jika nanti malah dikira memanfaatkan jabatan dari Nenek Hulim untuk memenangkan argumen mereka. Mereka akan berusaha untuk bernegosiasi dulu dengan pihak sekolah agar bisa mendapatkan kesepakatan yang tak merugikan instansi pendidikan dan siswanya.
__ADS_1
"Talo utuh antuan Alan uga ilang ya. Alan ciap..." ucap Alan tiba-tiba dengan mata yang sudah terpejam membuat semua orang disana menahan tawanya.