Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Keseruan


__ADS_3

Setelah adegan pelukan yang mengharukan itu, Nadia dan ketiga anak Andre sarapan bersamaan dengan gadis itu yang menyuapi bocah-bocah kecil itu. Tak ada yang mau makan sendiri, mereka ingin disuapi oleh Bundanya sebelum nanti ada yang mengganggu moment keempatnya itu. Nadia pun tak keberatan dengan hal itu, pasalnya mereka sangat jarang sekali disuapi bahkan dengan neneknya pun hampir tidak pernah.


Semenjak hadirnya Nadia didalam ketiganya, mereka selalu bersikap manja kepada bundanya itu. Bahkan setiap harinya kedekatan mereka semakin erat layaknya ibu kandung dengan anaknya. Nadia juga berharap kalau dia akan terus berkumpul dengan ketiga anak Andre ini selamanya.


Setelah selesai dengan sarapan pagi itu, akhirnya Nadia membiarkan mereka untuk bermain bersama dengan teman sebayanya. Awalnya mereka menolak dan hanya ingin bersama dengan Nadia saja, namun gadis itu terus membujuk ketiganya. Pasalnya Nadia ingin ketiga anak Andre dapat bersosialisasi dengan sekitarnya.


"Ayo dorong yang kencang kak Abel" seru Anara yang sedang bermain ayunan.


Anara dan Abel bermain ayunan dengan kakaknya yang mendorong adiknya terlebih dahulu. Tentunya Abel tak menuruti ucapan adiknya yang menginginkan didorong kencang karena khawatir akan jatuh. Sedangkan Arnold bermain bola dengan anak laki-laki disana, namun dia lah disini yang paling kecil sehingga ia yang menjadi penjaga gawangnya.


"Ana ni olanya? Ada bica ain ola endak?" seru Arnold kesal.


Bagaimana tidak kesal, sudah hampir 15 menit bermain sepak bola namun dirinya sama sekali tak pernah bekerja apa-apa. Ketika ada bola bukannya segera menendang kearah gawang lawan, namun semuanya malah berkerumun jadi satu.


"Sabal... Namanya juga main sepak bola, harus dilebut dulu bolanya balu ditendang" seru rekannya.


Arnold pun memilih duduk bersila kemudian menaruh tangannya di kedua pipinya sambil melihat anakanak yang tengah berebutan bola. Terlihat sekali kalau dia sedang bosan dengan permainan itu, sedangkan Nadia yang melihat hal itu hanya geleng-geleng kepala saja.


Arnold yang sudah kesal pun akhirnya berdiri dari duduknya, kemudian mendekat kearah sekumpulan anak laki-laki yang tengah berebutan bola tak ada habis-habisnya.


"Inggil..." teriak Arnold membuat semua anak laki-laki berusia diatas Arnold itu menyingkir dan memberi jalan.


Dengan wajah kesal dan menatap semua anak laki-laki disana, Arnold hanya memelototkan matanya. Kemudian tanpa aba-aba, Arnold menendang bola itu dengan keras kearah gawang lawan. Penjaga gawang yang tak siap dengan bola yang datang padanya pun tak dapat menghindar.


Dugh...

__ADS_1


Huwaaaa...


Bola yang ditendang Arnold itu mengenai wajah si penjaga gawang membuat anak yang terkena bola itu langsung saja menangis dengan keras. Sedangkan Nadia yang melihat hal itu segera saja mendekat kearah Arnold dan ibu-ibu lainnya yang sudah berkumpul.


"Tuh amanya ain ola" seru Arnold tanpa merasa bersalah.


Bahkan Arnold merasa bahwa dia sudah mencontohkan cara bermain bola dengan benar. Dengan bangganya dia berdiri sambil melipat dua tangannya didepan dadanya sambil memasang wajah tengilnya. Nadia ingin sekali tertawa melihat Arnold yang tampak bangga dengan pencapaiannya tanpa memperhatikan ada anak lain yang sedang menangis.


"Huwaaaa... Tamu jahat, tendang bola di wajah aku" seru anak laki-laki itu menangis.


"Ditu ja angis. Nak aki ndak oleh angis" ledek Arnold.


Para ibu-ibu disana bukannya marah dengan Arnold malah menahan tawanya. Apalagi melihat wajah Arbold yang begitu menggemaskan dengan gaya tengilnya. Sedangkan ibu dari seorang anak yang menangis itu mencoba untuk menenangkan anaknya.


"Senaja kok. Kan alok mau uat gol halus endang ola ke awang belalti tu engaja" ucap Arnold mengelak.


Nadia hanya bisa menepuk dahinya pelan mendengar ucapan Arnold. Itu kan hanya untuk menenangkan anak laki-laki itu bukan yang sebenarnya, ah memang Arnold tak bisa untuk diajak berbohong sedikitpun untuk memnghibur oranglain. Nadia memberi kode kepada ibu sebagai tanda permintaan maafnya dan ia pun menganggukkan kepalanya mengerti.


"Adek, sekarang minta maaf ya sama kakaknya" suruh Nadia dengan lembut.


"Lho Anol ndak engaja, uat apa inta maap" ucap Arnold dengan herannya.


"Tadi kan Arnold bilangnya sengaja kok sekarang jad nggak sengaja" goda Nadia.


"Unda..." seru Arnold kesal karena diledek bundanya itu.

__ADS_1


"Iya... Iya... Ayo minta maaf sama kakaknya. Maaf sudah membuat kakak kesakitan karena terkena tendangan bola Arnold. Gitu nak" ucap Nadia sambil mencontohkan.


Arnold pun akhirnya mau meminta maaf setelah beberapa kali dibujuk oleh Nadia. Ia segera mendekati anak laki-laki yang masih menangis di pelukan ibunya itu.


"Mamapin Anol, akak. Anol hilap" ucap Arnold mengubah kata-kata yang tadi dicontohkan oleh Nadia.


Nadia hanya bisa menghela nafasnya pasrah melihat cara minta maaf Arnold itu. Namun dia memakluminya, yang terpenting anak itu sudah berani meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Bahkan wajah Arnold saat meminta maaf pun tak menunjukkan rasa bersalahnya sama sekali, raut mukanya hanya datar seperti papanya.


Anak laki-laki itu akhirnya mengulurkan tangannya kearah Arnold sesuai arahan ibunya, begitu pula dengan anak bungsu Andre itu. Keduanya bersalaman kemudian berpelukan. Akhirnya mereka semua memilih untuk bermain sepak bola bersama lagi dengan catatan tak boleh menendang bola dengan kencang.


Awalnya Arnold tak menyetujuinya namun Nadia dengan sigap memberikan pengertian.


"Ana bica ain cepak ola endangnya ndak encang-encang. Ain ola ekel ja alo gitu" ucap Arnold protes.


"Adek, kalau kencang-kencang tendangnya nanti terluka. Adek boleh tendang bola kencang-kencang kalau sudah besar itu pun nanti saat di lapangan sepak bola sesungguhnya" ucap Nadia.


Arnold hanya menganggukkan kepalanya kemudian ikut semua teman-temannya untuk mengejar bola. Diputuskan juga dalam permainan itu tak ada penjaga gawangnya agar tak ada yang terkena tendangan bola lagi. Abel dan Anara pun sedari tadi sibuk bermain ayunan dan perosotan bersama anak perempuan lainnya.


Nadia akhirnya ikut berkumpul dengan ibu-ibu yang ada disana sambil mengawasi semua anak-anaknya. Ketiga anak Andre terlihat sangat bahagia bermain bersama dengan teman-teman sebayanya di hari libur ini. Setelah hari terasa sudah sangat terik, akhirnya semua orang memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Kalian senang?" tanya Nadia sambil membawa barang-barang bawaan mereka saat piknik tadi.


"Sangat, terimakasih bunda. Kita senang bisa main di hari libur seperti ini. Minggu depan lagi ya bunda" ucap Abel dengan senyum cerianya.


Nadia hanya menganggukkan kepalanya setuju. Ketiganya berjalan beriringan dengan Arnold berada ditengah menggandeng tangan kedua kakaknya yang ada disebelah kanan kirinya. Sedangkan Nadia berjalan dibelakang ketiganya.

__ADS_1


__ADS_2