Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Koma


__ADS_3

Saat Andre sampai didekat depan ruang operasi, ternyata kedua orangtuanya tengah berbicara serius dengan seorang dokter. Sedangkan ketiga anaknya hanya duduk sambil memandang kearah tiga orang yang sedang berbicara serius. Andre segera saja mendekat kearah mereka karena kini perasaannya menjadi tidak enak. Apalagi melihat wajah kedua orangtuanya yang terlihat shock.


"Ada apa, ma?" tanya Andre sedikit panik.


"Nadia koma, Ndre" ucap Mama Anisa pelan.


Badan Andre seketika menegang mendengar ucapan dari mamanya itu. Pikirannya kosong bahkan kini dia hanya diam menatap lurus kearah pintu ruang operasi. Semua orang yang memanggil dan berusaha menyadarkannya seakan tak terdengar olehnya. Hatinya begitu hancur saat mengetahui istri tercintanya kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit demi melahirkan buah hatinya.


Andre mengusap wajahnya kasar sembari meyakinkan dirinya bahwa dia harus bisa bangkit. Andre langsung menatap kearah dokter yang masih berbincang disana bersama kedua orangtuanya.


"Kapan istri saya akan sadar?" tanya Andre tiba-tiba.


"Kami tidak bisa memastikannya karena saat ini kondisinya masih kritis akibat pendarahan itu" ucap dokter itu.


"Kami juga akan memindahkan pasien ke ruang ICU" lanjutnya.


Andre menganggukkan kepalanya mengerti kemudian dokter itu pergi berlalu dari hadapan keluarganya. Sedangkan Mama Anisa yang sedari tadi sudah menahan tangisnya langsung berbalik kemudian memeluk ketiga cucunya. Arnold, Abel, dan Anara juga langsung memeluk erat neneknya seakan tahu bahwa kondisi bundanya tak baik-baik saja.


"Nek, Anol ndak mau pelgi-pelgi agi dali lumah. Mau again dek ayi dan unda cetiap hali" ucap Arnold tiba-tiba.


"Iya, kita nggak mau ninggalin bunda dan adek lagi. Kita harus jagain mereka agar terhindar dari orang-orang yang akan melukai bunda" ucap Anara.


Ketiga orang dewasa disana hanya bisa menatap anak-anak itu dengan pandangan sulit diartikan. Mereka bingung harus menjelaskan seperti apa keadaannya. Kejadian kedua, setelah Andre dulu yang mengalami koma tentunya juga sudah membekas dalam ingatatan ketiga anak itu. Hal ini tentunya akan berpengaruh dalam psikis mereka.


"Abel, Arnold, Anara... Kita sama-sama jagain bunda dan adek bayi ya. Jadi kalian bisa sekolah dan mengaji seperti biasa, biar nanti kita gantian jagain mereka. Apalagi kini bunda lagi sakit, pasti adek bayi harus dijagain ekstra" ucap Andre dengan berjongkok sambil mengelus rambut ketiganya bergantian.

__ADS_1


Ketiganya menganggukkan kepalanya mengerti kemudian dibujuk untuk pulang bersama Mama Anisa dan Papa Reza. Pasalnya kini hari sudah malam, tak mungkin mereka menginap di rumah sakit terlebih ketiga anak-anaknya yang masih kecil itu. Setelah berbagai bujukan, akhirnya ketiganya mau juga diajak pulang oleh kedua orangtuanya.


***


Keesokan harinya, Andre dan Papa Reza telah bersiap untuk menuju ke kantor. Sedangkan Nadia akan dijaga oleh Mama Anisa, kedua orangtuanya, dan juga ketiga anaknya. Andre dan Papa Reza berangkat ke kantor dari rumah sakit. Mobil dikendarai oleh Andre, bahkan kini aura didalam mobil terasa begitu mencekam karena keduanya sama-sama diliputi kemarahan yang luar biasa.


Setelah 30 menit dalam perjalanan, akhirnya keduanya sampai di perusahaan. Keduanya turun dari mobil kemudian berjalan menuju sebuah ruangan yang mereka tuju yaitu ruang divisi keuangan. Bahkan kedatangan keduanya membuat karyawan yang sedang bersiap-siap untuk bekerja langsung saja berdiri dan kebingungan. Pasalnya masih sekitar 20 menit lagi jam bekerja akan dimulai.


"Dimana Alice?" tanya Andre tanpa basa-basi kepada semua karyawan yang sudah datang.


"Bukannya Mbak Alice sudah mengundurkan diri tadi pagi, pak. Bahkan surat pengunduran dirinya sudah ada di ruang HRD" ucap salah satu karyawan.


Tadi memang Alice datang ke kantor sangat pagi bahkan dirinya saja yang terbiasa datang lebih awal kalah dengannya. Alice juga sempat berpamitan dengannya setelah keluar dari ruang HRD karena memang hanya dirinyalah yang sudah berangkat.


"Kita ke rumahnya, minta HRD mengirimkan alamat rumahnya ke chatt pribadimu" titah Papa Reza.


Andre menganggukkan kepalanya kemudian meraih ponsel yang ada di sakunya dan berlalu pergi dari ruangan divisi keuangan diikuti oleh Papa Reza. Setelah kedua atasan mereka pergi, sontak saja semua karyawan berkumpul mengenai Alice yang tiba-tiba mengundurkan diri bahkan sampai dicari oleh pemilik perusahaan. Kasak-kusuk terus berkembang, mereka berpikir bahwa Alice telah melakukan kesalahan fatal yang membuat atasannya marah.


***


Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia merasa dipermainkan dengan Alice, ternyata perempuan itu bagaikan ular berbisa yang baru menunjukkan bisanya ketika dibelakang dirinya. Bahkan wanita itu dengan sigap pergi setelah melakukan kesalahan fatal yang menyebabkan belahan jiwanya kini tak sadarkan diri.


"Ndre, turunkan kecepatan mobilmu. Dari maps, tinggal sebentar lagi kita sampai" ucap Papa Reza.


Andre pun menurunkan kecepatan mobilnya kemudian mengikuti arahan dari maps sesuai petunjuk dari Papa Reza. Setelah hampir 20 menit mencari, akhirnya mobil mereka hanya bisa berhenti didepan gang perkampungan saja. Andre memarkirkan mobilnya didekat lapangan terbuka yang berada di area perkampungan itu.

__ADS_1


"Papa yakin mereka tinggal disini? Nggak salah baca maps kan?" tanya Andre sedikit tak percaya.


Andre tahu kalau Alice adalah orang yang sederhana, namun kedua orangtuanya itu gengsinya sangat tinggi sehingga tak mungkin tinggal di area seperti ini. Kalaupun mereka bangkrut, tak mungkin juga tidak mempunyai tabungan untuk membeli rumah sederhana.


"Yakin, ini sesuai maps dan alamat kok" ucap Papa Reza yakin.


Keduanya pun akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil kemudian berjalan kaki menuju alamat rumah Alice. Setelah beberapa kali bertanya pada warga sekitar, ternyata memang Alice dan keluarganya tinggal didekat perkampungan itu. Berkat beberapa warga, akhirnya Andre dan Papa Reza menemukan sebuah rumah yang lebih bagus dari sebelahnya.


Tok... Tok... Tok...


"Alice... Pak Dion..." seru Andre.


Andre segera mengetuk pintu rumah itu berulang kali karena terlihat sekali kalau begitu sepi. Bahkan Andre sudah berteriak memanggil nama Alice namun tak juga ada orang yang menyahut. Sampai beberapa saat ada seorang warga yang mendatangi keduanya.


"Cari nak Alice dan keluarganya, pak?" tanya salah seorang warga yang melihat Andre dan Papa Reza terus mengetuk pintu rumah itu.


"Eh... Iya bu, mereka kemana ya?" tanya Papa Reza.


"Sekitar 15 menit yang lalu mereka pergi dengan membawa koper dan tas besar. Saya nggak tahu mereka mau kemana soalnya waktu ditanyai juga cuma diam saja" ucap ibu-ibu itu.


Kedua tangan Andre seketika saja mengepal untuk menahan emosinya yang tiba-tiba ingin meledak. Papa Reza segera pamit kepada ibu-ibu itu kemudian menarik tangan Andre untuk segera pergi dari sana. Keduanya berjalan menuju lapangan untuk mengambil mobilnya.


"Sialan... Arrrghhh..." seru Andre setelah sampai didekat mobilnya.


Bahkan Andre langsung menendang ban mobilnya untuk meluapkan rasa kesalnya. Ia tak menyangka bahwa Alice sepicik ini sehingga berhasil meloloskan diri dari kejarannya. Namun ia dan papanya akan berusaha untuk menangkap mereka dengan kedua tangannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2