Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Seperti Istana Barbie


__ADS_3

Dua mobil masuk dalam halaman rumah keluarga Farda membuat Zunai yang sedari tadi sibuk melihat jalanan langsung saja menatap sebuah bangunan yang menurutnya seperti istana itu. Bahkan ia melihat rumah ini seperti istana barbie yang terbuat dari plastik yang sering ia lihat di toko yang depannya kaca itu.


"Kenapa rumahnya besar sekali? Pantas saja kakek bilang rumahnya muat untuk kita tinggal disini. Ternyata lebih besar dari rumah budhe" gumam Zunai pelan.


Gumaman pelan itu tentu masih bisa terdengar oleh Nadia yang ada duduk didepan dan samping Andre yang mengemudikan mobilnya. Hatinya berdesir hebat bahkan sepertinya ia harus meminta suaminya untuk mengusut hal ini. Jangan sampai nanti saat mereka sudah mengadopsi atau memasukkannya pada yayasan milik Mama Anisa malah timbul masalah di kemudian hari.


"Ayo turun" ajak Andre setelah berhasil memarkirkan mobilnya.


Andre langsung mengambil Arnold yang ada dipangkuan Nadia sedangkan istrinya itu menggendong Alan yang dibawa oleh Abel. Kedua gadis kecil itu langsung turun dari mobil kemudian menggandeng tangan mungil Zunai. Ketiganya berjalan dengan ceria sambil melompat-lompat kecil.


Zunai bahkan langsung melepas sandalnya saat mereka semua akan masuk ke dalam rumah. Hal ini membuat Anara dan Abel langsung menghentikan langkah kakinya.


"Dipakai saja sandalnya. Nanti kalau lantainya kotor, kita bersihkan sama-sama" ucap Abel yang kemudian mengambil sandal Zunai agar bisa dipakai oleh gadis kecil itu.


Awalnya Zunai ragu karena takut mengotori lantai rumah mewah ini akibat sandal bututnya. Namun mendengar perintah dari Abel membuatnya menurut saja. Ketiganya langsung masuk ke dalam rumah kemudian segera naik ke kamar. Untuk sementara, Zunai akan berada di kamar Abel sedangkan Ega ikut yang bocah laki-laki.


***


"Zunai, mandi dulu yuk. Ini pakai bajunya kak Nara dulu, soalnya kalau pakai baju kak Abel masih kebesaran" ajak Nadia.


Zunai yang sedari tadi melihat seluruh isi kamar Abel sambil berdiri itu pun hanya bisa menatap kagum. Apalagi ruangannya begitu luas dan sejuk membuatnya ingin sekali tidur disini seterusnya. Namun ia harus tahu diri kalau ini bukan kamarnya atau mililnya. Kalau mau punya kamar seperti ini, ia harus bekerja bertahun-tahun dulu.


Zunai menganggukkan kepalanya kemudian memasuki kamar mandi bersama Nadia. Sedangkan Abel sendiri kini tengah berganti pakaian di ruang walk in closetnya setelah membersihkan diri tadi. Dibantu oleh Nadia, Zunai mandi dengan bersih. Pasalnya selama ini dia hanya mandi di rumah warga atau masjid terdekat itu pun tanpa sabun atau gosok gigi.

__ADS_1


Setelah selesai membersihkan diri. Zunai memakai pakaian yang bersih, wangi, bahkan bahannya terasa lembut. Wajah Zunai yang tadinya kusam kini lebih bersih walaupun tak bisa disangkal kalau kulitnya berwarna sedikit gelap karena sering panas-panasan. Bahkan rambutnya juga lembut karena diberi shampo oleh Nadia.


"Sekarang tidur siang ya sama kak Abel" ajak Nadia sambil menggandeng tangan Zunai.


"Zunai nggak terbiasa tidur siang, tante. Ini juga nggak ngantuk" tolak Zunai dengan mata yang masih berbinar cerah.


Padahal Abel sendiri sudah tidur diatas kasur setelah tadi menyelesaikan acara bebersihnya. Akhirnya Nadia mengajak Zunai keluar dari kamar itu untuk duduk di ruang keluarga melihat acara kartun. Sedangkan semuanya memang memilih untuk istirahat saat ini.


"Gimana? Rumah kakek besar dan muat kan untuk kalian tinggali" ucap Nadia mengajak berbincang Zunai.


"Iya tante, rumahnya sangat besar. Lebih besar rumah ini dari rumahnya budhe" jawab Zunai dengan ceria.


"Tante, kami boleh nginap disini sehari saja?" lanjutnya bertanya.


"Boleh dong, lebih dari sehari juga nggak papa" jawab Nadia membuat Zunai langsung memeluk wanita dewasa itu dengan eratnya.


"Terimakasih, tante. Suatu saat nanti kalau Zunai sukses dan punya rumah sendiri, aku bakalan ajak kalian semua menginap disana" ucap Zunai dengan keinginan sederhananya.


Nadia menganggukkan kepalanya kemudian mengelus lembut kepala Zunai. Ia masih tak menyangka bisa membantu orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan ia dulu sampai tak kepikiran untuk mempunyai suami orang kota yang kebanyakan adalah dari keluarga kaya, namun di kota ini banyak sekali hal yang bisa ia petik. Terutama bahwa tak semua orang yang tinggal di kota itu kehidupannya seberuntung Andre dan keluarganya.


"Unda, Alan mau nandi" seru Alan dari atas tangga.


Alan takut kalau ia turun dari tangga sendirian sehingga memilih berteriak memanggil bundanya yang terlihat sedang berbincang seru dengan Zunai. Nadia pun melepaskan pelukannya dari Zunai kemudian berjalan naik keatas untuk membantu memandikan Alan.

__ADS_1


"Tante ke atas dulu ya. Si bayi mau mandi, nanti sekalian biar Ega tante bersihkan" ucap Nadia saat melihat Zunai akan ikut dengannya.


Akhirnya Zunai memilih untuk duduk di ruang keluarga saja dengan ditemani oleh cemilan dan jus. Itu pun Nadia yang menyiapkannya agar gadis itu nyaman duduk disana. Nadia segera menggandeng tangan kecil Alan yang sudah menunggunya didekat tangga.


"Unda, butanna adi Alan obok di talpet lestolan ya? Napa adi di kacul lumah" tanya Alan.


"Oh... Tadi Alan mengigau kemudian jalan sendiri pulang ke rumah dalam keadaan tidur" ucap Nadia asal.


Alan terdiam bahkan melihat Nadia yang seperti menahan tawanya. Sepertinya dia tak mungkin mengigau kemudian berjalan sendirian pulang ke rumah, apalagi dalam keadaan tidur. Jarak rumah dengan tempat restorant itu sangat jauh jadi tak mungkin berjalan kaki sampai sini.


"Unda ucil, pukan ohong" ucap Alan dengan sinis.


"Usilnya kaya siapa sih?" tanya Nadia sambil tertawa.


"Kaya Alan lah, masa iya seperti kakek yang pendiam itu" ucap Alan dengan percaya dirinya.


Nadia tertawa mendengar pengakuan anaknya mengenai dirinya yang begitu usil. Ternyata anaknya itu menyadari kalau dirinya begitu usil dan jahil. Berbeda dengan Andre dan Papa Reza yang memang lebih pendiam namun tegas dalam berucap. Keduanya segera masuk kamar kemudian membangunkan Ega yang masih tertidur.


"Eda... Angun, ada ketoak" seru Alan dengan menarik-narik baju Ega.


"Jangan ditarik dong. Nanti ini sobekan yang ada di baju Ega bisa tambah lebar" tegur Nadia sambil menyingkirkan tangan Alan dengan lembut.


"Ish... Abisna, daju cobek tok macih dipate. Anti kacih aja daju-daju Alan yang macih balu itu uat dikacih ke Eda" ucap Alan dengan ceplosan pedasnya.

__ADS_1


Nadia meringis tak percaya mendengar ceplosan dari Alan itu. Kalau Ega bangun dan mendengarnya kan dia bisa saja sedih mendengar ledekan dari Alan. Memang anaknya yang satu itu, mau membantu saja harus meledek orangnya dulu dengan ucapan pedasnya.


__ADS_2