Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Tertangkap Basah


__ADS_3

Andre menyibukkan diri dengan berbagai kertas yang ada dihadapannya. Bahkan karena saking fokusnya dengan pekerjaan yang digelutinya itu membuat ia tak menggubris ucapan sang papa yang tadi memintanya ikut ke rumah Nenek Darmi. Ia memang mendengar dan paham dengan apa yang diucapkan oleh papanya namun ia menolaknya dengan diam.


"Ndre, ayo ke rumah Nenek Darmi. Ada orang yang mengaku sebagai anaknya si Febri itu" ucap Papa Reza yang masuk dengan tiba-tiba ke ruangannya.


"Andre nggak bisa, pa. Banyak banget ini kerjaan" ucap Andre menolak tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas didepannya.


"Pentingkan keluarga dulu sebelum nanti kau menyesal. Uang bisa dicari tapi kebersamaan dengan keluarga nggak akan pernah bisa terulang jika orang itu pergi" ucap Papa Reza memperingatkan.


Papa Reza segera saja pergi dari ruangan Andre setelah mengucapkan kalimat peringatan pada anaknya itu. Papa Reza mendengus kesal dengan sikap keras kepala anaknya yang tak pernah berubah itu padahal usianya sudah dewasa. Bahkan Papa Reza sama sekali tak pamit kepada anaknya itu karena sudah terlanjur kesal.


Sedangkan Andre sendiri langsung terdiam setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Papa Reza itu. Bahkan ia sampai menghentikan memeriksa kertas-kertas yang ada didepannya ini. Seketika Andre merasa tersindir dan tertohok karena dalam beberapa bulan terakhir ini dirinya jarang sekali meluangkan waktu untuk keluarganya.


Tiba-tiba saja Andre langsung bangkit dari kursi kebesarannya itu kemudian pergi dari ruangannya meninggalkan banyak pekerjaan. Bahkan raut wajahnya kelihatan begitu panik dan khawatir hingga terburu-buru berjalan keluar. Ia langsung berlari dengan begitu cepat sampai menghiraukan Bayu yang memanggilnya.


"Pak, anda mau kemana? Pekerjaan anda masih banyak" teriak Bayu sambil mengejar Andre.


Adegan kejar-kejaran antara Bayu dan Andre itu menarik perhatian dari beberapa karyawan yang melihatnya. Tak biasanya Andre dan Bayu terlihat dalam kondisi seperti ini yang sebelumnya hanya melihat keseriusan keduanya. Bahkan mereka menahan tawanya saat Andre seperti terlihat menghidari kejaran Bayu dengan membelokkan jalannya kearah mobil-mobil yang terparkir.

__ADS_1


"Ayolah pak, masa semua pekerjaan dilimpahkan ke saya. Bisa cepat tua nanti saya" serunya tak terima.


Andre sudah seringkali melimpahkan pekerjaannya kepada Bayu jika sedang tak mood dalam mengerjakannya. Hal ini membuat Bayu kesal karena harus sering lembur padahal yang dikerjakan itu merupakan bagian pekerjaan Andre. Walaupun diberikan gaji tambahan namun tetap saja membuat Bayu kelelahan dan kurang tidur.


"Kali ini aja, Bay. Aku udah diancam nih sama papa, bisa-bisa semua keluarga pada marah kalau aku terlalu sibuk" seru Andre sambil terus berlari.


"Dari kemarin juga bilangnya gitu. Kali ini aja terus tapi malah dilakukan berulangkali" seru Bayu kesal.


Andre berhasil kabur dari kejaran Bayu dengan masuk kedalam mobilnya. Ia sedikit menghela nafas lega bahkan kini sudah melajukan mobilnya keluar dari area perusahaan. Sedangkan Bayu yang melihat hal itu langsung menendang angin dengan kakinya untuk melampiaskan kekesalannya.


"Awas saja kau, bos. Aku adukan ini sama nyonya" gerutu Bayu kemudian berlalu masuk kedalam perusahaan.


Andre melajukan mobilnya itu dengan kecepatan sedang karena ternyata jalanan siang hari ini begitu macet. Satu jam berlalu barulah ia sampai di sebuah rumah sederhana milik Nenek Darmi. Ia memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Nenek Darmi untuk melihat situasi sekitar. Bahkan di halaman rumah sudah terlihat adanya mobil sang papa.


Andre berjalan dengan langkah pelan menuju kearah teras rumah Nenek Darmi. Beruntung teras milik Nenek Darmi itu ada pembatas tembok yang lumayan tingga sehingga mudah baginya untuk bersembunyi. Andre terus mencuri dengar tentang pembicaraan antara Nenek Darmi dan orang-orang yang mengaku keluarga beliau.


"Pedas kali tuh mulut Andre dan Arnold. Habis makan cabai berapa kilo tuh" gumam Andre sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Mendengar ucapan kedua anaknya yang begitu bijak walaupun pedas itu membuat Andre ikut tertohok. Bahkan ia merasa jika kedua anaknya jauh lebih cerdas dalam menyikapi sesuatu dibandingkan dirinya. Bahkan ia merasa bersalah tak ikut Nadia dalam memberikan didikan kepada anak-anaknya. Selama ini Nadia berperan dalam mendidik sikap anaknya agar menjadi pemberani sehingga ia yang keenakan tak direpotkan mengenai urusab anaknya membuatnya terlena hingga melupakan kewajibannya. Kewajiban untuk ikut mendidik dan mendampingi istri juga anak-anaknya.


Byurrr...


Terlalu lama melamun tentang dirinya yang jauh dari kata suami dan ayah idaman bagi keluarganya, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan sebuah guyuran air teh mengenai kepalanya. Ia terkejut hingga langsung menatap keatas mengintip siapa yang membuang air teh ini kesini. Bahkan karena terlalu asyik melamun membuatnya tak tahu jika diantara Nenek Darmi dan Febri sudah berdamai.


Mata Andre sontak saja melotot melihat Alan dan Arnold duduk di pembatas teras yang bisa ia simpulkan bahwa pelaku pembuangan air teh itu adalah kedua anaknya. Bahkan keduanya tersenyum tengil kearah sang papa sambil menjulurkan lidahnya. Keduanya mengejek papanya membuat Andre tak terima namun ia memberi kode papa anaknya itu untuk diam saja.


"Tatek, talo uka intip dan nuping pembicalaan olang tu anti tena kalma apa?" tanya Alan sambil melirik sinis papanya.


"Bintitan matanya sama telinganya jadi lebar kaya gajah" jawab Arnold dengan santai.


Sedangkan sang kakek yang belum sempat menjawab pun hanya menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Arnold. Lagi pula memang Papa Reza pun tak mengetahui tentang keberadaan Andre sehingga menganggap ucapan cucunya itu hanya rasa ingin tahunya saja.


Andre yang mendengar ucapan dari kedua anaknya itu hanya bisa mengelus dadanya sabar. Bahkan ia sudah menatap kedua anaknya seakan mengibarkan bendera perang itu. Sambil berusaha membersihkan air yang ada di rambutnya, Andre terus menggerutu karena kini jas dan kemejanya juga basah. Rasanya begitu lengket juga karena mungkin gula yang ada dalam minuman teh itu.


"Tatek, unda... Ihat tu ada olang yan pataian dan lambutna bacah adahal tuaca agi ndak ujan" seru Alan sambil menunjuk kearah Andre.

__ADS_1


Andre yang mendengar ucapan anaknya itu menjadi kalang kabut pasalnya ia ingin kehadirannya disini tak diketahui oleh Nadia dan Papa Reza. Bahkan ia berusaha melihat kearah sekitarnya untuk mencari tempat persembunyian. Namun sebelum mendapatkan tempat sembunyi, Papa Reza dan Nadia sudah langsung berjalan menuju kearah dekat pembatas teras.


Andre hanya meringis sambil salah tingkah karena perilakunya kini tertangkap basah oleh istri dan papanya. Bahkan Nenek Darmi dan keluarga anaknya yang penasaran ikut melihat apa yang ditunjuk oleh Alan itu. Mereka hanya bisa menahan tawanya melihat Andre yang lumayan basah kuyup pasalnya dua gelas besar air teh keduanya guyurkan tepat mengenai sasaran.


__ADS_2