Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Arnold Sekolah


__ADS_3

Melihat sang atasan didekati oleh seorang perempuan tak jelas, Bayu dengan sigap segera saja bangkit dari duduknya kemudian mencekal tangan Adeline yang akan menyentuh tubuh Andre. Bayu memang diminta untuk tetap berada didalam ruangan Andre agar tak terjadi fitnah atau salah paham jika nanti istri atau keluarganya datang.


Semua telah dipersiapkan dengan matang agar tak ada yang tersakiti dan menimbulkan masalah baru. Andre begitu beruntung dengan kehadiran Bayu yang langsung sigap memegang tangan Seina. Andre begitu malas jika harus menepis tangan dari wanita lain selain dari keluarganya.


"Jangan sentuh atasan saya atau saya patahkan tangan anda sekarang juga" ancam Bayu dengan nada datarnya.


Andre yang baru pertama kali melihat Bayu bersikap begitu pun sangat tercengang. Pasalnya laki-laki yang menjadi asistennya itu selalu menyelesaikan masalah dengan santai bahkan seakan seperti sebuah gurauan saja. Namun saat melihat sisi lain dari Bayu, ternyata laki-laki itu sungguh menyeramkan juga jika marah. Jika di rumah ada Arnold yang menjaganya, sedangkan di kantor ada Bayu sebagai pawangnya.


Adeline yang terkejut dengan perubahan raut wajah dan sikap dari Bayu pun langsung memalingkan wajahnya. Ia juga baru tahu mengenai tabiat asisten Andre yang sudah seperti anak laki-laki yang ia temui kemarin saja. Adeline meronta untuk dilepaskan membuat Bayu mengeratkan pegangannya.


"Lepaskan tanganmu dari lenganku, sialan. Aku tak sudi jika tanganku disentuh oleh babu sepertimu" ketus Adeline dengan kalimat pedasnya.


Bayu sudah terbiasa disepelekan dan direndahkan seperti itu oleh oranglain sehingga kalimat Adeline tak berpengaruh apapun padanya. Berbeda dengan Andre yang begitu marah karena asisten yang selama ini banyak membantunya direndahkan seperti itu.


"Bay, lepaskan peganganmu dari tangannya" titah Andre dengan raut datarnya.


Mendengar perintah dari sang bos pun akhirnya Bayu memilih untuk melepaskan genggamannya dari lengan Adeline. Adeline tentunya sudah tersenyum penuh kemenangan dan menatap sinis kearah Bayu. Ia yakin jika Anre pasti akan membelanya dari asistennya itu.


"Aku tahu kamu pasti takkan membiarkanku disakiti oleh asistenmu itu" ucap Adeline dengan penuh percaya diri.


Bahkan kini Adeline dengan percaya dirinya meletakkan jari-jari lentiknya di bahu Andre. Sedangkan Andre masih terdiam walaupun sudah diberi kode oleh Bayu agar segera menepis jari tangan itu. Saat Adeline akan membawa tangannya kearah wajah Andre, sontak saja laki-laki itu langsung menepisnya dengan keras membuat perempuan itu mengaduh kesakitan.


"Kamu jahat sekali, Ndre" ucap Adeline sambil memegang tangannya yang sakit dengan sebelahnya.

__ADS_1


"Sekarang pergi dari perusahaan saya atau saya hubungi polisi untuk menyeretmu keluar" ucap Andre dengan mengancam perempuan itu.


Andre telah bersiap dengan mengambil ponselnya dari meja kerjanya membuat wajah Adeline berubah menjadi panik. Tanpa berpamitan, Adeline langsung saja membalikkan badannya kemudian pergi dari ruangan Andre tanpa berpamitan. Andre yang melihat hal itu tentunya bernafas lega karena ruangan yang semula ia rasakan sesak kini mulai longgar.


"Thanks, Bay. Gue baru tahu kalau loe bisa juga garang kaya gitu" ucap Andre sambil terkekeh pelan kemudian kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Lah saya dari dulu garang, bos. Hanya saja kemarin-kemarin saya ini lagi malas menampakkannya saja" elak Bayu.


Bayu pun langsung pergi tanpa berpamitan kepada Andre sedangkan sang atasan hanya geleng-geleng kepala saja. Ternyata di kantor ini ada juga yang mempunyai sifat menyebalkan seperti anaknya Arnold.


***


Hari ini merupakan hari dimana pertama kalinya Arnold bersekolah di sebuah TK yang dulunya menjadi tempat belajar kedua kakaknya. Arnold begitu bahagia pasalnya dia akan setiap hari bertemu dengan Nilam yang sudah dipastikan juga bersekolah disana. Semenjak kejadian pertemuan mereka waktu itu, Arnold sangat sering bertemu dengan Nilam agar bisa sekedar meringankan beban gadis kecil itu.


"Ayo bunda, kita berangkat" ajak Arnold.


Nadia dan Alan akan mengantar sekaligus menunggu Arnold di sekolah. Sebenarnya Arnold tak suka jika akan ditemani oleh bunda dan adiknya saat sekolah, namun itu sudah peraturannya. Disana untuk sekolah TK wajib ditunggu oleh pihak keluarga karena pernah ada kejadian penculikan membuat peraturan baru itu dibuat.


Nadia, Alan, dan Arnold berjalan kaki menyusuri jalanan komplek perumahan itu dengan langkah riangnya. Mama Anisa, Andre, Papa Reza, Abel, dan Anara sudah pergi pagi-pagi tadi untuk menjalankan aktifitasnya masing-masing.


"Alan nanti kalau sekolah TK disini juga kan, bunda?" tanya Arnold yang menggandeng tangan adiknya itu.


"Iya dong, yang lebih dekat sama rumah" ucap Nadia sambil tersenyum.

__ADS_1


Ia begitu bahagia karena melihat kedua anak laki-lakinya itu selalu rukun dengan kasih sayang yang begitu melimpah. Walaupun beberapa kali ada perselisihan namun mereka akan selalu berakhir baikan. Nadia yang berjalan di belakang kedua anaknya itu pun begitu gemas melihat keduanya yang badannya tampak gembul.


"Kaya anak panda lagi jalan" gumam Nadia pelan sambil terkikik geli.


***


"Nilam... Kekasih Arnold yang tampan" teriak Arnold dengan senyum cerianya.


Arnold melihat Nilam yang tengah digandeng oleh seorang pria dewasa yang ia yakini adalah papanya. Bahkan sekarang papanya jauh lebih perhatian kepada anak-anaknya karena Andre yang kenal dengannya langsung mengadukan sikap istri barunya itu. Sedangkan Nadia sudah meringis pelan karena merasa malu dengan apa yang dilakukan putranya terlebih banyak ibu-ibu yang langsung melihat kearah Arnold.


"Anol..." panggil Nilam dengan senyuman cerianya.


Arnold yang kini sudah berada dihadapan Nilam dan papanya pun tersenyum ceria melihat gadisnya sudah berangkat. Bahkan kini sudah tak tampak lagi kesedihan di wajahnya karena ada yang mengantarnya walaupun pada akhirnya sang papa tak bisa menunggunya di sekolah. Nanti akan ada ART yang datang setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah.


"Nyonya Andre, terimakasih atas perhatiannya kepada Nilam sehingga saya sadar dan lebih peka dengan keadaan mereka" ucap Papa Nilam dengan sedikit menundukkan kepala.


"Sama-sama, lagi pula Nilam itu kekasihnya putra saya" ucap Nadia sambil terkekeh pelan.


Papa Nilam hanya bisa terkekeh geli saat mendengar ucapan dari Nadia. Sebenarnya awalnya dia cukup terkejut anaknya itu sudah memiliki kekasih namun Andre menjelaskan jika Arnold itu memang suka aneh-aneh dan memintanya untuk memakluminya saja. Menurut mereka yang terpenting adalah pertemanan dan saling membantu sesama juga memberikan kontribusi positif antara dua anak itu.


Papa Nilam pamit untuk kembali bekerja setelah berpamitan dengan keluarga Nadia. Sedangkan Arnold tadi juga sudah berjanji akan menjaga Nilam dengan baik selama tak ada orang dewasa yang berada disampingnya.


"Om tenang saja. Nilam akan aman disamping pangeran Arnold, Jadi bekerjalah biar bisa bayar pembantu agar Nilam dan kakaknya tidak harus menyelesaikan pekerjaan rumah lagi" ucap Arnold.

__ADS_1


Sebenarnya ucapan Arnold itu seperti sebuah sindiran untuk papanya Nilam membuat laki-laki dewasa itu sedikit kikuk. Papa Nilam hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan mereka. Sedangkan Nadia hanya bisa mengelus dadanya sabar mendengar ucapan pedas dari sang anak.


__ADS_2