Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Perlakuan Manis


__ADS_3

Papa Reza memasuki ruang rawat inap dengan wajah yang sulit diartikan. Namun kini pandangan pria paruh baya itu tertuju kepada Arnold yang sudah terlihat ceria dengan Nadia yang memeluknya. Sedangkan Abel sudah lebih tenang hanya saja masih dalam keadaan shock jadi akan mengeluarkan suaranya jika ditanya saja. Itupun orang di sekitarnya harus membuatnya merasa aman dan nyaman terlebih dahulu.


"Arnold dan Abel sudah lebih baik?' tanya Papa Reza dengan sedikit terkejut.


"Iya dong. Berkat Nara, Bunda, dan nenek lho" seru Anara dengan cerianya.


Papa Reza tersenyum mendengar ucapan cucu perempuannya itu. Ia berjalan mendekat kearah brankar tempat tidur kedua cucunya kemudian mencium kening Arnold dan Abel bergantian. Ia begitu bersyukur melihat kedua cucunya sudah lebih baik.


"Angan ium Anol, tek. Anol ndak cuka" ucap Arnold dengan memajukan bibirnya kedepan.


"Habisnya kakek udah lama nggak cium cucu kakek ini deh kayanya" goda Papa Reza sambil mencoba mengingat sesuatu.


"Ium cucu atek yan ada di pelut unda ja" ucap Arnold dengan acuh tak acuh.


Nadia yang berada disampingnya tentu saja kaget dengan ucapan Arnold itu. Sejak kapan didalam perutnya ada cucu dari Papa Reza. Sungguh ucapan Arnold yang sok tahu itu membuatnya gemas saja. Sedangkan Papa Reza dan Mama Anisa hanya membelalakkan matanya menatap kearah menantunya itu. Pasalnya baru dua hari mereka menikah masa sudah langsung isi.


"Papa sama mama jangan salah sangka dulu, belum ada cucu kalian disini. Arnold ini ngada-ngada aja, orang belum di unboxing juga masa udah isi. Darimana tuh masuknya kecebong" ucap Nadia dengan asal.


"Ebong? Ebong di kali?" tanya Arnold menanggapi ucapan Nadia.


Nadia yang tersadar pun langsung saja gelagapan akibat ucapannya yang tak terfilter itu. Sedangkan Papa Reza dan Mama Anisa sudah tertawa melihat kepanikan Nadia menghadapi pertanyaan yang diajukan oleh cucunya. Arnold yang sangat kritis membuat orang-orang disekitarnya harus hati-hati dalam mengucapkan sesuatu.


"Hmm... Andre dimana, pa?" tanya Mama Anisa mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Mama Anisa takut malah semakin salah ketika menanggapi ucapan Arnold itu. Dia tak mau sampai cucunya itu berpikiran aneh-aneh tentang sesuatu. Sedangkan Nadia sedikit menghela nafasnya lega karena Mama Anisa dengan sigap mengalihkan pembicaraan itu.


Lagi pula Nadia juga mempertanyakan dimana keberadaan suaminya itu dalam hatinya. Pasalnya Papa Reza menyusul suaminya ke ruangan dokter, tak mungkin juga mereka tak bertemu. Semua orang menatap Papa Reza untuk menuntut jawaban kecuali Abel yang sudah tertidur didalam pelukan Mama Anisa.


"Andre sedang menemui psikiater untuk mendampingi Abel dan Arnold sampai sembuh" ucap Papa Reza.


Kedua wanita beda usia itu menganggukkan kepalanya paham mengenai hal itu. Bagaimanapun mereka juga butuh pendampingan dari psikiater agar kenangan buruk di masa kecil keduanya ini tak membekas hingga dewasa kelak. Papa Reza memang tak mengikuti Andre menemui psikiater karena anaknya itu hanya akan mengurus jadwal pertemuan dan tahapan terapi yang akan dijalankan kedua cucunya.


"Anol ndak cakit lho, kok akai ampingi katel" ucap Arnold dengan tatapan bertanya.


"Siapa yang bilang kalau Arnold sakit? Tugas psikiater itu bisa sebagai teman bercerita dan main lho" ucap Mama Anisa menanggapi.


"Anol ndak cuka ain dan celita cama olang ndak enal" tolak Arnold sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mama Anisa dan Papa Reza pun tahu hal itu bahkan Andre juga mempunyai sifat seperti itu dulunya. Namun setelah dekat dengan Nadia, Andre menjadi orang yang lebih terbuka namun tidak dengan caranya mengontrol emosi yang masih sangat buruk.


"Baiklah, kalau gitu nanti cerita sama mainnya sama bunda, nenek, kakek, papa, kak Bel, dan kak Nara ya" ucap Nadia dengan senyum lembutnya.


Arnold hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sedangkan Anara sudah menyandarkan kepalanya di pundak kecil Arnold. Sepertinya gadis kecil itu sudah mengantuk karena bangun sedari sebelum shubuh. Bahkan Anara mengaku tak bisa tidur karena tak ada kedua saudaranya serta sang bunda disisinya.


"Akak Nala, tidullah dipundak lebal Anol. Anol kan jaga dilimu campai angun" ucap Arnold sambil mengelus rambut Anara dengan lembut.


Perlakuan Arnold yang begitu manis itu membuat ketiga orang dewasa itu begitu terenyuh. Pasalnya walaupun Arnold terkenal usil dan nakal, namun jika sudah bersama dengan kedua kakaknya maka ia akan menjadi sosok pelindung untuk mereka. Anara yang mendapatkan elusan itu pun perlahan-lahan mulai memejamkan matanya kemudian terlelap diatas pundak Arnold.

__ADS_1


"Unda, Atek, Enek... Talian ndak peta. Tepala kak Nala belat lho, maca alian ndak liat talo undakna Anol yan ecil ini kebelatan" gerutu Arnold.


"Lho tadi yang bilang kalau pundak Arnold lebar siapa sama kak Nara?" tanya Papa Reza menggoda Arnold.


Nadia dan Mama Anisa hanya bisa terkekeh pelan dengan hal itu. Tadinya saja bocah kecil itu berucap manis dengan mempersilahkan bahunya, namun pada kenyataannya dia menggerutu karena keberatan. Arnold yang merasa ditertawakan pun hanya mencebikkan bibirnya kesal sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


Papa Reza segera menggendong Anara kemudian ditidurkannya di kursi sofa. Sedangkan Mama Anisa juga langsung membaringkan Abel setelah dengan susah payah melepas pelukan gadis kecil itu.


"Adek nggak mau bobok?" tanya Nadia.


"Anti" tolak Arnold kemudian memeluk Nadia.


"Ughhh... Manjanya anaknya bunda yang satu ini" gemas Nadia yang terus menciumi pucuk kepala Arnold.


"Bialin... Cekali caja oleh kan? Yan enting ndak tiap hali" elak Arnold.


Nadia hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia menikmati perannya sebagai seorang ibu yang harus selalu ada untuk anak-anaknya didalam posisi apapun.


***


Andre masuk kedalam ruang rawat inap dengan muka kusutnya. Bahkan kini matanya terlihat berkaca-kaca dan langsung memeluk Mama Anisa dengan tiba-tiba. Bahkan kini ia bersimpuh didepan lutut mamanya yang duduk di sofa sambil meremat kertas putih yang ada di tangannya.


Tanpa berkata apapun, Mama Anisa mengelus punggung anaknya yang bergetar karena menangis. Ia membiarkan anaknya itu meluapkan segala emosi dan perasaan yang dipendamnya itu lewat sebuah tangisan. Semarah-marahnya dia pada anaknya, dia takkan bisa mendiamkannya lama-lama. Sebagai orangtua, karakter dan sifat anaknya ini juga merupakan pengaruh dari didikannya di rumah. Jika ada apa-apa, pastinya ia juga harus ikut bertanggung jawab sebagai orangtua.

__ADS_1


__ADS_2