Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Jangan Sakiti Kakakku!


__ADS_3

Arnold memilih turun dari mobil setelah melihat kedua kakaknya sepertinya sedang kesulitan untuk pergi dari lingkungan sekolah. Sedangkan Nadia yang ingin kesana tentunya tak bisa karena kondisi kakinya yang belum pulih. Alan diletakkan dalam pangkuan Nadia, sedangkan Mama Anisa memilih untuk menyusul Arnold. Tak mungkin juga dia membiarkan Arnold naik tangga sendirian untuk mendekati kedua kakaknya.


Nadia menunggu keduanya dengan rasa khawatir didalam mobil. Dirinya sungguh merasa tak berguna karena tak bisa melindungi kedua anaknya di saat-saat seperti ini. Namun dia langsung mengingat bahwa ada Alan yang harus ia jaga disini. Bahkan kini Alan sudah menepuk-nepuk kedua pipinya dengan tangan mungilnya karena melihat dirinya terus mengawasi pergerakan Anara dan Abel.


"Ah... Iya, baby. Maafkan bunda yang tak memperhatikanmu sedari tadi" ucap Nadia sambil mengelus punggung Alan.


Alan pun hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengelus pipi Nadia dengan lembut seakan mengerti tentang kekhawatiran bundanya. Nadia pun sekarang lebih tenang, terlebih Alan memberikan senyuman manisnya membuat dia merasa terharu. Keempat anaknya selalu mencoba membuatnya tenang walaupun hanya dengan perlakuan sederhana.


***


Arnold dan Mama Anisa berjalan cepat naik ke lantai dua untuk segera menuju ke tempat Abel dan Anara berada. Namun saat sampai di lantai 2, Mama Anisa terlihat bingung karena area itu telah sepi bahkan hanya ada beberapa siswa saja yang berlalu lalang di lantai bawah. Guru-guru juga sudah tak ada disana, kemungkinan karena jam pulang sudah berlalu sejak beberapa menit yang lalu.


Saat sampai di lantai 2, terlihatlah Abel yang sedang dijambak rambutnya oleh salah satu kawanan siswi yang ada didepannya, sedangkan Anara menangis karena tak bisa menolong kakaknya yang kesakitan. Terlebih pergerakannya terbatas karena kedua tangannya ditahan oleh dua orang siswi lain. Melihat pemandangan itu, membuat Arnold dan Mama Anisa memelototkan matanya tajam.


"Jangan sakiti kakakku" teriak Arnold yang kemudian berjalan mendekat kearah kedua kakaknya.


Sontak saja semua orang yang ada disana mengalihkan pandangannya kearah teriakan itu. Bahkan siswi yang menjambak rambut Abel langsung saja melepaskan jambakannya karena bagaimanapun juga dia hanya anak kecil yang akan takut jika ada orang dewasa yang mengetahui aksinya ini. Bahkan siswi lainnya juga langsung melepaskan pegangan tangannya dari Anara. Mama Anisa pun juga mengikuti Arnold dari belakangnya, sedangkan Anara dan Abel langsung berlari mendekat kearah nenek mereka.


Tiba-tiba saja saat Arnold berada tepat didepan empat siswi yang menyakiti kakaknya itu, dia segera saja menendang kaki mereka secara bergantian. Gerakan tiba-tiba dari Arnold itu membuat empat siswi itu mengaduh kesakitan karena tendangan bocah kecil itu tak main-main.

__ADS_1


"Hei... Kau anak kecil, jangan berani-beraninya ya sama kami" sentak salah satu siswi menatap nyalang kearah Arnold.


Bahkan siswi itu melupakan keberadaan Mama Anisa yang masih ada disana. Mama Anisa tak terima cucunya dibentak-bentak oleh oranglain, pasalnya ia masih ingat tentang kejadian Arnold dengan Andre yang membuat bocah laki-laki itu trauma. Namun Arnold terlihat biasa saja saat menghadapi siswi itu bahkan terkesan berani.


"Kalau Arnold memang berani, emangnya kenapa? Masalah buat loe" ucap Arnold dengan gaya tengilnya.


"Kamu hanya anak kecil, aku injak aja udah pasti nggak bisa gerak. Sok-sokan mau lawan kami" ucap siswi bername tag Diani Frederica Yuma pada seragamnya itu.


"Wooo... Kalau mau injak Arnold harus jadi hulk dulu. Apa kalian udah jadi hulk? Tapi kok tubuh dan wajah kalian warnanya nggak hijau" seru Arnold dengan sedikit bertanya.


Diani begitu kesal karena Arnold begitu pintar dalam bersilat lidah. Bahkan kini ia tak mampu membalikkan kata-katanya untuk membalas ucapan Arnold. Mama Anisa yang melihat keduanya hanya adu debat pun akhirnya mendekat kearah keempat siswi itu.


Sontak saja keempat siswi itu menatap kearah Mama Anisa yang bertanya dengan tatapan lembutnya. Mama Anisa paham jika anak seusia mereka jika dikerasi maka akan semakin membangkang oleh karena itu dia menggunakan pendekatan agar bisa mengungkap apa yang terjadi.


"Kita nggak jahat, tapi mereka yang buat kericuhan sama kami makanya kita keroyok biar dia kapok" ketus Diani.


Mama Anisa mengernyitkan dahinya heran pasalnya ia sudah hafal dengan sikap kedua cucunya itu. Tak mungkin keduanya akan mengganggu atau membuat kericuhan seperti yang dituduhkan oleh mereka.


"Wooo... Jangan fitnah kakak Arnold ya, mereka baik nggak mungkin ganggu kalian" bela Arnold saat mendengar Anara dan Abel di fitnah.

__ADS_1


"Kalau nggak percaya ya sudah, bukan urusanku" jawab Diani acuh tak acuh.


Mama Anisa membalikkan badannya kemudian mengangkat sebelah tangannya meminta Anara dan Abel untuk mendekat kearahnya. Abel, Anara, dan Arnold pun mendekat kearah Mama Anisa. Arnold menatap keempat siswi itu dengan tatapan mengejek.


"Coba nenek tanya, Anara dan Abel gangguin mereka apa?" tanya Mama Anisa.


"Bukan kami yang ganggu mereka, nek. Mereka memaksa kami untuk jawab soal ujian dengan asal agar kami tak mendapatkan ranking atas. Ranking atas satu sampai empat itu hanya milik mereka, katanya. Tapi kami nggak mau karena kan udah belajar masa jawab soal ujiannya asal" ucap Anara mengadu.


Mama Anisa hanya menghela nafasnya sabar mendengar aduan dari cucunya. Hanya karena masalah ranking membuat mereka dengan beraninya melakukan kekerasan pada temannya sendiri. Padahal sekolah ini sudah menerapkan bahwa bakatlah yang akan lebih ditonjolkan namun ternyata masih ada beberapa siswa yang berambisi untuk mendapatkan nilai tinggi.


"Nilai akademik itu penting, namun kalian juga harus bersaing dengan jujur. Kalau mau dapat ranking 1 atau 2 ya harusnya kalian belajar dengan tekun bukan malah nyuruh oranglain untuk mengalah. Itu namanya curang" ucap Mama Anisa menasihati mereka.


"huhuhu... Nanti kalau kami tak dapat ranking atas ntar dimarahi sama mama makanya kita cari cara instant saat tahu kalau Anara dan Abel selalu mendapat nilai tinggi waktu ulangan" ucap Diani tiba-tiba sambil menangis setelah mendengar nasihat dari Mama Anisa.


Mama Anisa langsung menarik Diani dalam pelukannya diikuti oleh ketiga temannya. Mereka juga bernasib sama dengan Diani yang dituntut mempunyai ranking atas oleh kedua orangtuanya. Mama Anisa terkesiap dengan jawaban mereka dan merasa kasihan. Harusnya jika anaknya dituntut mempunyai ranking atas, mereka harus mensupport anaknya bukan malah memarahinya jika gagal.


"Hayooo... Nenek buat nangis anak orang" ledek Arnold tiba-tiba.


Mama Anisa menatap julid kearah Arnold yang meledeknya, sedangkan Anara dan Abel hanya bisa terkekeh pelan melihat adiknya yang bisa mengubah suasana disana lebih mencair dengan ucapannya. Saat keempat siswa itu masih memeluk Mama Anisa, tiba-tiba saja...

__ADS_1


"Kalian..."


__ADS_2