
"Ayo tita uat pelayaan atas lolosna abang Anol dan akak Ilam" seru Alan dengan begitu bahagianya menyarankan.
Mereka bertiga segera saja melepaskan pelukannya kemudian menatap Alan yang masih antusias dengan idenya. Bahkan Alan sudah membayangkan banyak ide untuk acara yang akan digelar nantinya. Arnold menatap sang bunda untuk mengetahui apakah wanita itu menyetujui ide dari Alan atau tidak.
"Besok buat pesta perayaannya kalau sudah lulus sekolah, habis wisuda gitu aja" ucap Arnold menolak usulan dari adiknya.
Alan langsung terdiam dan duduk dengan tenang. Ia seakan berpikir mengenai ucapan sang kakak itu. Ia belum pernah melihat orang lulus sekolah dan wisuda sehingga ia tak tahu harus menunggu hingga berapa lama. Melihat anaknya kebingungan, Nadia langsung berusaha untuk menjelaskannya.
"Lulus dan wisuda itu besok kalau kakak udah kelas 6. Itu ada semacam upacara kelulusan karena nanti akan naik ke SMP" jawab Nadia.
"Akak cekalang macih telas 3, talo 6 belalti macih 3 agi tan unda? Tu belapa lama?" tanya Alan penasaran.
Nadia tersenyum mendengar pertanyaan dari anaknya itu. Ia yakin jika anaknya yang bungsu ini sama cerdasnya dengan kakak-kakaknya yang lain. Apalagi rasa ingin tahu anaknya ini begitu tinggi, Nadia juga sudah mengajarkan beberapa angka sebagai penunjang saat nanti Alan akan masuk sekolah.
"Sekitar 3 tahun lagi karena kakak tahun ini baru akan naik kelas 4. Nanti kalau Alan udah masuk TK, berarti sekalian ngerayain kelulusan dan wisuda kakak" ucap Nadia memberitahu.
"Wohhh... Tama tekali. Tebulu wuwang papa jamulan, unda. Cekali-cekali tita halus pecta don" keluh Alan tak terima.
Pasalnya dirinya saja kini belum memasuki sekolah TK yang bundanya itu maksud. Kalau menunggu dirinya masuk TK, tentu itu akan sangat lama untuk membuat pesta. Nadia, Arnld, dan Nilam tertawa melihat wajah protes dari Alan yang mengerucutkan bibirnya. Bahkan karena kesal, Alan duduk menjauh dari ketiganya.
***
__ADS_1
"Papa..." seru Alan ketika melihat Andre masuk ke dalam rumah.
Bahkan Alan langsung saja berlari kearah Andre yang berjalan dengan senyum sumringahnya. Rasa lelah yang ia rasakan selama bekerja, hilang sudah mendengar ada seseorang yang menyambutnya ketika pulang. Kini Andre langsung saja menggendong anaknya itu untuk masuk dalam pelukannya. Andre menciumi pipi gembul Alan membuat bocah kecil itu langsung memberontak.
Andre malah tertawa melihat pemberontakan dari anaknya itu kemudian membawanya ke ruang keluarga. Disana ada istri dan ketiga anaknya yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Arnold yang makan cemilan sambil melihat acara TV sedangkan kedua kakaknya sibuk diskusi tentang pelajaran.
Nadia yang melihat suaminya pulang pun langsung mendekat kearah Andre. Nadia mencium tangan suaminya begitu juga dengan Andre di kening istrinya itu. Arnold melirik sebentar kearah adegan itu, ia merasa bahagia karena keluarganya begitu harmonis tak seperti dulu.
"Unda, nih upa" ucap Alan sambil menyodorkan tangan kanannya.
Nadia dan Andre saling pandang untuk mengartikan apa yang dilakukan oleh Alan itu. Bahkan setelah tahu keduanya hanya bisa terkikik geli kemudian Nadia mencium tangan dan pipi Alan bertubi-tubi. Sepertinya Alan ingin diperlakukan sama dengan Andre yang dicium tangannya oleh Nadia.
Setelah itu Andre berjalan mendekat kearah ketiga anaknya kemudian mencium kening mereka secara bergantian. Ketiganya tersenyum manis karena walaupun sudah mempunyai anak dari istrinya yang baru, mereka tak pernah disisihkan. Bahkan Andre berusaha untuk menyamaratakan kasih sayang diberikan kepada keempatnya.
"Woh... Pati lolos don. Abang tan pintel. Abang capa dulu don, abangna Alan ditu lho" ucap Alan dengan senyum cerianya.
Yang ditanya adalah Arnold namun yang menjawab si kecil Alan. Hal itu membuat Andre begitu gemas dengan Alan yang duduk diatas pangkuannya itu. Namun ia bangga dengan apa yang sudah dilakukan oleh Arnold hingga bisa masuk salah satu sekolah favorit itu.
Arnold hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pujian yang dilayangkan oleh adiknya itu. Namun ia begitu bangga karena adiknya mau menerimanya sebagai saudara yang selalu menjadi panutannya.
"Iya, pa. Abang lolos, do'ain biar disana nggak ada masalah lagi ya pa" ucap Arnold dengan senyum sedikit sendu.
__ADS_1
Nadia langsung mendekat kearah anaknya itu. Ia tahu anaknya pasti takkan pernah secepat itu bisa lupa mengenai kejadian di sekolahnya dulu. Ini pun ia memutuskan mau kembali sekolah juga karena berusaha untuk membuktikan pada sekitarnya bahwa dia adalah laki-laki yang kuat.
Nadia memeluk anaknya itu dengan erat bahkan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arnold. Nadia berusaha menyembunyikan kesedihannya karena tak ingin anaknya tahu bahwa dia juga terluka akibat yang terjadi dengan Arnold. Sedangkan Anara dan Abel langsung menghentikan kegiatan belajarnya kemudian memeluk keduanya.
"Adek kuat. Buktinya kak Abel dulu juga sama seperti kamu, tapi karena ada bunda, papa, dan yang lainnya sudah bisa sembuh. Kamu harus yakin jika ada semua orang yang sayang juga akab menjaga kamu dengan baik" ucap Abel memberitahu.
Setelah sekian tahun lamanya, akhirnya Anara bisa keluar dari rasa traumanya akibat kejadian dulu saat disiksa keluarga papa tirinya. Hal ini berkat keluarga Andre yang berusaha menjaga anak-anaknya bahkan memberikan kasih sayang yang melimpah pada mereka.
Arnold menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga akan berusaha menyembuhkan segala luka di hati dan pikirannya itu demi orang-orang tersayangnya. Keempatnya terus berpelukan tanpa menghiraukan Alan dan Andre yang menatap mereka iri.
"Elukan ndak ajak-ajak. Apalah tita tuh ya tan papa? Tuma butilan debu yan ada di ojokan" ucap Alan dengan sinisnya.
Keempatnya langsung saja melepaskan pelukannya kemudian menatap Andre dan Alan dengan seringaiannya. Alan dan Andre yang ditatap seperti itu pun langsung dengan sigap berdiri kemudian berlari menghindari kejaran mereka. Mereka berempat ingin sekali memeluk keduanya dan menggelitikinya membuat Alan pergi mencari perlindungan.
***
"Nggak papa kalau mau mengadakan perayaan. Lagi pula jarang-jarang lho kita kumpul bersama dengan ngundang Nilam dan Fikri. Akhir-akhir ini kan pada sibuk" ucap Andre memutuskan.
Alan sudah memberitahunya tentang acara yang ingin ia adakan namun terkendala ijin dari Nadia dan Arnold. Beruntung papa, kakek, dan neneknya menyetujui sebagai sekalian ajang berkumpul dengan yang lainnya.
"Nenek Ratmi, tatek Deno uga lah ajak. Macak meleka di deca telus ndak mau ke tota" ucap Alan memberi ide.
__ADS_1
Nadia menganggukkan kepalanya setuju saja atas ide yang diberikan oleh Alan. Mungkin benar jika memang ini nanti akan dijadikan ajang sebagai kumpul keluarga besar.
"Ebeb Cia angan lupa lho" seru Alan memperingatkan.