Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kebun Teh


__ADS_3

Sedangkan di kota, kini tengah terjadi kegaduhan akibat video yang dikirmkan bocah kecil bernama Arnold melalui ponsel bundanya. Mama Anisa yang saking gemasnya dengan tingkah laku cucunya itu hanya bisa meremat ponselnya yang masih memutar video yang dikirmkan Arnold.


"Ponsel mama diapain itu kok diremat kaya gitu? Nanti rusak lho" tegur Papa Reza yang kemudian duduk disamping istrinya.


"Ini lho, pa" ucap Mama Anisa yang langsung menyerahkan ponselnya pada sang suami.


Papa Reza segera menerima ponsel yang diberikan istrinya itu kemudian melihat isi video yang ada dalam layar. Setelah selesai memutar video yang ada, Papa Reza sontak saja tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi cucunya yang memenuhi layar ponsel itu.


Hahaha...


Bahkan sampai kini Papa Reza masih terngiang-ngiang dengan ucapan Arnold yang meledek istrinya itu dan ekspresi cucunya yang begitu lucu. Sampai-sampai ia terus tertawa hingga perutnya sedikit kram.


"Astaga... Kenapa cucuku jadi seperti itu?" tanya Papa Reza sambil geleng-geleng kepala setelah menghentikan tawanya.


Sedangkan Mama Anisa yang merasa tengah diledek oleh suaminya pun hanya mencebikkan bibirnya kesal. Papa Reza seperti berpikir keras tentang tingkah Arnold ini terlebih saat tadi melihat ekspresi kedua cucu perempuannya yang terlihat tak bersemangat. Pasti disana mereka tengah ada sesuatu, sedangkan Arnold melakukan banyolan seperti itu untuk menghibur dirinya sendiri dan saudaranya yang lain.


"Walaupun Arnold terlihat menyebalkan karena meledekmu, tapi mama pasti lagi kangen kan sama dia?" tanya Papa Reza mencoba mengalihkan perhatian tentang pikirannya sendiri.


"Oh... Jelas, ternyata rumah sepi banget nggak ada mereka terutama Arnold" sendu Mama Anisa.


"Sabar, cuma seminggu" ucap Papa Reza sambil memeluk istrinya.

__ADS_1


***


Sore harinya, Nadia memutuskan untuk pergi ke kebun teh bersama keluarga kecilnya. Mereka keluar rumah dengan berjalan kaki menuju kebun teh itu. Melewati jalanan desa yang masih berupa tanah dan bebatuan membuat Andre dan anak-anaknya begitu senang pasalnya ada tantangan setiap langkahnya. Mereka juga melewati tepian sawah demi menuju kebun teh tersebut.


Setelah sekitar 30 menit berjalan kaki, akhirnya mereka sampailah di sebuah kebun teh yang sangat luas. Pemandangan daun teh yang hijau membuat segar penglihatan bahkan mereka merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan mata. Mereka benar-benar menikmati udara sejuk yang terhirup.


"Wah... Sejuknya, udaranya masih dingin dan segar sekali" puji Abel.


"Iya, disini nggak ada polusi dari kendaraan mobil atau motor" timpal Anara.


"Bunda, bikin rumah disini aja. Di tengah-tengah kebun teh ini, pasti Arnold betah" ucap Arnold dengan asalnya.


"Kalau mau bikin rumah disini ya harus beli sekalian kebun tehnya, nak. Dan ini luas sekali, uangnya sangat banyak karena mahal" ucap Andre.


"Papa kan kerja setiap hari, masa iya uangnya nggak cukup buat beli kebun teh ini" ledek Arnold.


Andre hanya mendengus kesal mendengar ejekan dari anaknya itu. Seakan-akan apa yang dikerjakan selama ini tak cukup untuk membeli apa yang diinginkan anaknya. Namun karena memang keinginan sang anak yang anehlah hingga membuatnya tak berkutik seperti ini. Jika hanya satu hektar kebun teh mungkin ia masih bisa membeli, namun ini luasnya saja sudah puluhan hektar. Mungkin jika mau membeli kebun teh ini harus menjual perusahaan keluarganya dulu.


"Besok biar Arnold buka celengan ayamku aja deh buat beli kebun teh ini sekalian bangun rumah disini. Besok kita tinggal disini ya bunda, kakak, dan adek. Papa nggak usah diajak, toh dia kan nggak bantu biayain" ucapnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Andre benar-benar ternistakan dengan ucapan Arnold itu sedangkan Nadia dan kedua anak gadisnya tentu hanya bisa terkekeh geli. Pasalnya ucapan Arnold itu bagaikan sebuah hiburan, terlebih tak mungkin juga itu celengan ayam milik bocah laki-laki itu cukup untuk membeli kebun teh dan bangun rumah disini. Setiap harinya saja setiap ada penjual makanan lewat depan rumah saat dirinya dengar pasti akan langsung diambili itu uangnya dari celengan buat jajan.

__ADS_1


Mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan mengelilingi kebun teh itu sambil menyapa beberapa pemetik teh yang sedang bekerja disana. Bahkan tak disangka mereka bertemu dengan Ayah Deno dan Ibu Rami yang juga menjadi pemetik teh. Nadia tak menyangka jika kedua orangtuanya bekerja disana.


"Nenek, kakek... Kerja mulu, piknik napa..." seru Arnold dengan gaya tengilnya.


Ayah Deno dan Ibu Ratmi langsung mengalihkan perhatiannya kearah suara seseorang yang sangat mereka kenali. Bahkan pemetik teh lainnya juga langsung mengarahkan pandangan ke keluarga kecil yang tengah berjalan menuju tengah kebun. Bahkan beberapa dari mereka merasa gemas dengan anak-anak dari kota itu yang bahkan hanya terlihat kepalanya saja. Kedua orangtua Nadia mendengus kesal melihat kedatangan cucu-cucunya yang pasti akan merecoki pekerjaannya terutama Arnold.


Keduanya malah langsung melanjutkan pekerjaannya kembali tanpa mempedulikan mereka yang tengah menuju kearahnya. Setelah beberapa menit berjalan, Arnold dan yang lainnya mendekat kearah kedua orangtua Nadia sambil menampilkan cengiran lucunya.


"Itu anaknya Nadia yang berarti cucumu to, Rat? Walah... Ganteng ro ayune" puji salah satu ibu-ibu.


"Wooo jelas dong, anaknya bunda Nadia memang cantik-cantik dan ganteng" ucap Arnold dengan percaya dirinya.


Semua orang disana tergelak mendengar banyolan dari Arnold, bahkan kedatangan mereka seakan membawa hiburan tersendiri buat pekerja. Andre rasanya ingin menutupi wajahnya dengan karung agar tak terlihat oleh semua orang. Ia tak menyangka sekarang anaknya sangatlah percaya diri dan ucapannya semakin pintar.


"Gantengan juga suamiku" ucap Ibu Ratmi tiba-tiba.


"Gantengnya suamiku awwww... Tak jemu-jemu aku memandangmu" ucap Arnold sambil menirukan sebuah lirik lagu sambil menggoyangkan pinggulnya.


Sontak saja Nadia, Andre, dan kedua kakaknya tertawa terbahak-bahak. Bahkan para pemetik teh disana yang mendengarnya juga ikut larut dalam candaan Arnold. Semuanya tersenyum kecuali kedua orangtua Andre yang memberengut kesal karena ucapannya selalu saja dibalikkan oleh Arnold.


Akhirnya mereka memutuskan untuk membantu memetik teh untuk ditaruh dalam keranjang kedua orangtua Nadia. Arnold tentunya masih sibuk untuk mencari kegiatannya sendiri bersama Alan yang mengikutinya. Bahkan Alan berjalan tertatih-tatih karena jalanan yang terjal dan naik. Kedua kakak perempuannya juga dengan sigap membantu mengawasi adik laki-lakinya. Saat waktu menunjukkan pukul 5, semua akhirnya pulang ke rumah bersama dengan para petani teh tersebut.

__ADS_1


__ADS_2