Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

"Saya anaknya. Kamu siapa?" ucap seseorang yang mengaku sebagai anak dari Nenek Darmi.


Bahkan orang itu menatap tajam sekaligus bingung dengan keberadaan Nadia dan kedua anaknya. Alan dan Arnold merasa bodo amat dengan kehadiran satu keluarga yang mengaku keluarganya Nenek Darmi itu. Selama ini mereka lah yang selalu ada untuk Nenek Darmi jadi tak perlu menggubris orang yang mengaku-ngaku itu.


"Saya cucunya. Kami keluarganya yang selalu sayang dengan nenek bahkan rela datang kesini pagi-pagi hanya untuk memastikan beliau baik-baik saja" ucap Arnold dengan beraninya.


Ucapan Arnold itu seperti sebuah sindiran menohok bagi orang-orang yang datang juga mengaku sebagai keluarga Nenek Darmi. Sebenarnya Nenek Darmi terkejut mendengar ada yang mengaku sebagai anaknya padahal wajah orang didepannya ini sangat berbeda dengan keluarganya. Namun Nenek Darmi berpikir kemungkinan besar wajah anaknya itu memang lah sudah banyak berubah seiring berjalannya waktu. Terlebih saat pergi dulu anaknya masih lah sangat muda.


"Benal, angan ngatu-ngatu tamu ya. Alan lapol polici talo tamu mau ipu nenek" ucap Alan menambahi ucapan Arnold.


"Ibu, aku ini anak kamu. Ini Febri, bu" ucap seorang pria laki-laki yang mengaku sebagai anak Nenek Darmi bernama Febri.


Tanpa mau menanggapi ucapan dua bocah kecil yang kini menatap tajam kearah empat orang yang ada didepannya itu, Febri malah berpikir bagaimana untuk meyakinkan ibunya. Memang benar adanya jika yang datang itu adalah Febri bersama istri dan anak-anaknya. Mereka sengaja kembali ke desa ibunya karena ingin menebus segala rasa bersalah selama ini akibat menelantarkan Nenek Darmi.


Tanpa mereka sadari, Nadia menghubungi Papa Reza yang tahu seluk beluk bahkan wajah asli anak dari Nenek Darmi. Kalau Nenek Darmi mungkin lupa dengan kesamaan dari anak beliau, mungkin saja Papa Reza bisa memastikan semuanya. Nadia tak ingin jika nanti orang yang mengaku anak Nenek Darmi ini malah ingin memanfaatkan wanita tua itu.


Nenek Darmi terlihat kebingungan bahkan terus menatap Nadia. Ia sedikit takut jika orang-orang didepannya ini hanya mengaku sebagai anaknya saja. Sudah hampir 30 tahun mereka tak bertemu yang tentunya akan ada banyak sekali perubahan terutama wajahnya sehingga Nenek Darmi sendiri tak bisa mengenalinya. Walaupun ada sedikit kemiripan, namun Nenek Darmi tak bisa menjadikan itu sebagai patokannya.

__ADS_1


"Kita tunggu dulu seseorang yang bisa memastikan kamu ini anaknya Nenek Darmi atau bukan. Saya juga meminta identitas kalian untuk ditunjukkan jika memang benar keluarganya" ucap Nadia dengan tegas.


Dengan sigap mereka menuruti perintah dari Nadia kemudian mengeluarkan beberapa dokumen tentang identitas semuanya. Bahkan mereka juga menunjukkan surat nikah keduanya. Bukti-bukti foto kebersamaan Nenek Darmi dengan Febri saat masih kecil juga ada disana.


Nenek Darmi yang melihat itu seperti ada rasa sesak dalam dadanya. Ia menahan tangisannya karena tak menyangka anaknya yang sudah puluhan tahun tak menginjakkan kakinya di rumah dan hadapannya itu kini berada didepannya. Ada rasa rindu yang ingin ia luapkan dalam sebuah pelukan namun pada faktanya ia harus menahannya. Bagaimana pun itu ada rasa kecewa dalam hatinya pada anaknya itu yang dulu menolaknya.


"Biar saya ambilkan minum dahulu. Berbincanglah dan coba yakinkan Nenek Darmi kalau kalian memang keluarganya" ucap Nadia menanggapi semua ini dengan bijak.


"Ndak ucah tacih inum cih, unda. Meleta tu tamu tak diwundang lho" ucap Alan dengan sinis.


"Iya benar, bunda. Tamu tak di undang itu nggak wajib disuguhi minum apalagi yang suka menelantarkan orangtuanya" ucap Arnold.


Nadia tetap masuk kedalam rumah Nenek Darmi untuk membuatkan minuman bagi Febri dan keluarganya. Nenek Darmi pun membiarkannya toh selama ini Nadia sudah terbiasa keluar masuk rumahnya. Tak berapa lama mereka duduk dalam keheningan karena Alan dan Arnold lebih memilih sibuk dengan cemilannya.


***


Papa Reza keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa bahkan ia langsung berlari menuju teras rumah Nenek Darmi. Saat sampai disana semuanya tengah duduk dalam suasana yang begitu hening. Papa Reza menatap empat orang yang mungkin asing di matanya kecuali seorang pria dewasa yang kini memandangnya dengan terkejut.

__ADS_1


"Om Reza..." ucap Febri dengan sedikit terkejut.


Bahkan kini Febri langsung berdiri kemudian mengulurkan tangannya untuk menjabatnya. Papa Reza bergeming bahkan tatapannya menajam saat apa yang ada dipikirkannya sekarang memang benar adanya. Ia tak percaya orang yang sudah lama menghilang kini kembali tepat dihadapannya.


"Mau ngapain lagi kamu disini? Mau menyakiti ibuku?" tanya Papa Reza dengan wajah datarnya.


Febri langsung saja menurunkan tangannya yang tak disambut oleh Papa Reza. Sedari dulu Papa Reza bahkan sudah menganggapnya sebagai seorang adik walaupun dulu umurnya dengan beliau terpaut jauh. Namun Papa Reza kini mungkin kecewa akibat tingkahnya yang menelantarkan sang ibu.


"Maaf bang, maafkan Febri. Febri menyesal, kini aku kembali ingin mengabdikan hidupku pada ibu. Kasih aku kesempatan untuk merawat ibuku sendiri" ucap Febri kemudian berlutut dihadapan Papa Reza.


Semua orang yang ada disana menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Febri. Terutama Nenek Darmi yang matanya kini sudah berkaca-kaca tak menyangka jika anaknya berada disini. Sekarang Nadia sudah yakin jika memang orang-orang yang datang ini memang keluarga Nenek Darmi. Nadia melihat kedua anaknya yang begitu anteng dengan cemilan di pangkuannya sambil melihat adegan didepan mereka itu.


"Ayo masuk, ini urusan orang dewasa. Kalian nggak boleh lihat" bisik Nadia pada kedua anaknya.


Kedua anaknya malah menggelengkan kepalanya tak mau. Keduanya kini malah bangkit dari duduknya kemudian mendekat kearah Papa Reza juga Febri. Bahkan Febri terlihat menangis sambil berlutut dihadapan Papa Reza yang sudah dianggapnya sebagai abang itu.


"Angan belutut cama manucia, blo. Belututlah diatas cajadah" ucap Alan sambil menepuk punggung Febri.

__ADS_1


"Minta maaflah sama Allah dan ibumu bukan sama kakekku. Kesalahanmu hanya pada mereka, kalau kakek mah hanya sebagai pelindung nenek" ucap Arnold menimpali ucapan adiknya.


Nadia hanya bisa menepuk keningnya pelan melihat tingkah kedua anaknya yang menasihati Febri. Sedangkan Papa Reza begitu bangga pada kedua cucunya yang benar-benar bijak juga dewasa dalam memberikan pesan. Sedangkan Febri sedari tadi sudah kepalang malu dengan kedewasaan dari dua bocah kecil yang bahkan belum ia tahu siapa.


__ADS_2