
Alan yang tadinya akan membuka bungkus plastik es krim itu tentunya langsung saja menghentikan kegiatannya. Ia menatap seseorang yang kini tengah mengucek-ucek matanya agar bisa melihat sekitar dengan jelas. Namun sang bunda yang berada disampingnya tentu langsung menghentikannya. Nadia segera mengambil Arnold dari Papa Reza untuk masuk dalam gendongannya.
"Adi Alan tuh tuma mau matikan saja talo balam eklimna nda ada lacunna. Abang cuka cucudzon nih cama atu" ucap Alan memberikan alasan.
Semua yang ada disana malah tertawa dengan alasan yang diberikan oleh Alan itu saat ketahuan akan memakan es krim yang memang tersisa untuk Arnold. Sedangkan Alan yang merasa tak bersalah pun masih heran dengan tingkah keluarganya yang tertawa. Bahkan kini dengan santainya, Alan langsung melanjutkan membuka es krimnya kembali kemudian memperlihatkan pada sang abang.
"Abang, ihat ini. Eklim ndak daik lho uat tenggolokan, anti datuk. Dadi abang ndak ucah akan eklim ya, bial ndak datuk" ucap Alan lagi.
"Alasan... Sini es krimnya. Itu kan jatahnya abang" ucap Arnold yang kemudian mengambil es krim yang ada di tangan adiknya.
Alan tentunya kesal bukan main karena es krim yang dibukanya kini sudah berpindah tangan. Bahkan kini dengan bibir mengerucut dan kedua tangan yang disilangkan didepan dadanya itu tentu membuat Alan semakin membuat gemas. Nadia menurunkan Arnold untuk duduk bersama adik dan kakaknya itu.
Arnold dan kedua kakaknya masih menikmati es krim itu dengan begitu fokusnya. Namun Alan masih diam saja karena memang es krim miliknya itu sudah habis. Sedari tadi ia meneguk salivanya kasar saat Arnold dengan sengaja menggoda adiknya dengan lama dalam menghabiskan es krimnya.
"Papa, becok dangunin adek pablik eklim. Inat ya, pablik eklim tusus uat Alan ceolang" ucap Alan dengan gaya memerintahnya.
"Mahal, nak. Papa belum punya uang buat bangunin kamu pabrik es krim" ucap Andre dengan pura-pura.
Alan langsung melihat kearah papanya yang kini menatapnya dengan tatapan bersalah. Alan langsung terlihat kasihan dengan papanya itu karena merasa tertekan atas permintaannya. Kini ia menatap kakeknya yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Papa tok payah cekali cih. Kelja wuluhan taun tok ndak puna wuwang. Tatek, antat atu adi nanakmu caja, pati cekalang wuwangna tatek yebih anyak dalipada papa" ucap Alan dengan sinisnya menatap Andre.
__ADS_1
Mama Anisa sontak saja langsung mendekat kearah cucunya itu. Bahkan kini ia langsung memeluknya kemudian menciumi pipinya berulangkali. Ia sungguh gemas dengan tingkah cucunya yang begitu luar biasa. Bahkan Nadia, Andre, dan Papa Reza sontak saja tertawa mendengar ocehan dari Alan. Hanya perkara es krim, Alan meminta dibuatkan pabriknya bahkan ingin jadi anaknya Papa Reza karena berpikir uang kakeknya lebih banyak daripada papanya sendiri.
"Alan tayakna totokna dadi nanak tatek dalipada papa" ucap Alan sambil geleng-geleng kepala.
Sungguh... Andre merasa dinistakan oleh anaknya sendiri. Namun karena kedekatan antara Alan dan Papa Reza sendiri lah yang kadang membuat anak bungsunya itu jika dengannya akan biasa saja. Terlebih Papa Reza sering ada waktu untuk mereka.
***
"Ayo kita makan di restorant depan itu. Katanya disana ada menu gurameh sambal rujak. Pasti segar nih kalau dimakan siang-siang" ajak Mama Anisa setelah perdebatan tentang es krim itu selesai.
Anara dan Abel serta peserta lainnya memang sudah diperbolehkan untuk pulang. Semua hasil olimpiade masih akan diumumkan beberapa jam ke depan. Nanti yang akan terpilih 20 peserta itu tentunya esok hari akan menjalani tes kembali. Hasil itu nanti akan disampaikan oleh pembimbingnya masing-masing.
Semuanya pun mengangguk karena jam makan siang memang akan segera tiba. Mereka berjalan menuju mobil kemudian masuk dalam kendaraan itu. Setelahnya mobil keduanya melaju denga kecepatan sedang. Sebenarnya mereka bisa berjalan kaki, namun tentu parkiran gedung ini tak diperuntukkan bagi kendaraan yang tidak ada kepentingan disana.
"Alan mau mameh" seru Alan saat mereka semua sudah duduk di meja restorant.
"Mameh? Apa itu?" tanya Anara penasaran.
"Tu yang adi di bilang cama nenek. Mameh cambal lujak" ucap Alan mengingatkan.
Anara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat adiknya itu sok benar. Padahal yang diucapkannya itu salah dan bikin orang salah paham. Akhirnya Mama Anisa langsung memesan beberapa menu makanan yang begitu menggoda selera.
__ADS_1
"Nenek, angan anyak-anyak. Anti ndak abis, banjil" ucap Alan memperingatkan.
"Banjil? Masa pesan banyak-banyak banjir sih, nak" tanya Nadia kebingungan.
"Butan itu. Itu lho talo matan ndak abis telus diwuwang" ucap Alan kesal karena ucapannya tak ada yang mengerti.
Semua yang duduk di meja itu langsung mengerutkan keningnya tak paham dengan apa yang dimaksud oleh Alan. Dari kalimatnya mereka hanya bisa mengartikan kalau itu banjir. Bahkan Nadia kini langsung melihat kearah Arnold yang tampak kebingungan juga.
"Mubadzir kali" ucap Arnold dengan tiba-tiba.
"Nah tu... Celatus wuwat abang. Ditu jaja ndak tau, cekolah agi cana" ucap Alan menyuruh semua orang yang tak bisa mengartikan ucapannya untuk kembali ke sekolah.
Mereka semua begitu kesal dengan ucapan Arnold itu. Apalagi memang terbukti jika bahasa yang digunakan Alan itu memang susah untuk dimengerti. Namun bocah kecil itu tak mau tahu hingga semua orang harus paham dengan ucapannya.
Semuanya memilih diam daripada protes pada Alan malah membuat semuanya jadi kacau. Sedangkan Alan sendiri mengedarkan pandangannya kearah semua orang yang ada didalam restorant itu. Setelah beberapa saat, ia melihat ada seorang anak yang tengah menempelkan wajahnya di kaca restorant sambil meneguk ludahnya.
"Unda, tu nanak napain di lual tayam ditu? Mana itu pateanna taya yan uat tain pel Mbok Mimah agi" ucap Alan tiba-tiba.
Nadia dan yang lainnya langsung melihat kearah yang diperhatikan oleh Alan. Sontak saja mereka membulatkan matanya karena melihat seorang anak kecil berpakaian lusuh sambil menempelkan wajahnya di kaca restorant. Bahkan ia juga menggandeng seorang bocah laki-laki yang usianya kemungkinan dibawanya dengan tatapan bingung. Pakaian lusuhnya itu diibaratkan sebagai kain pel yang digunakan Mbok Imah oleh Alan.
"Itu adalah anak yang kurang mampu, nak. Coba lihat pakaiannya, lebih bagusan punya Alan kan? Kalau ada anak-anak kurang mampu seperti itu, maka apa yang dilakukan sama Alan?" tanya Nadia sambil tersenyum.
__ADS_1
Nadia mencoba untuk memberikan pengertian dan didikan dengan bertanya tentang sesuatu yang dilihat oleh anaknya itu. Ini bisa digunakan untuk menarik simpati dan kemampuan berpikir anak agar lebih peka terhadap sekitarnya.